20

1027 Kata
"Maaf, saya mengundangmu dengan cara tidak sopan. Karena saya nggak ada pilihan lain selain mengambil opsi ini." Syakira tersenyum singkat merespon ucapan Yorda. Beberapa hari lalu laki-laki itu meminta sang kakak–Levin, untuk menyampaikan pada Syakira jika ingin sekali berjumpa untuk membahas banyak hal, termasuk pasangan mereka masing-masing. "Oh, nggak apa-apa. Itu bukan masalah besar, toh kebetulan sekali saya sedang senggang," sahut Syakira kemudian. Ia mendudukkan diri pada kursi tepat di depan Yorda. Mereka berdua bertemu di salah satu cafe yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal Syakira, gunanya agar Syakira tidak melakukan perjalanan terlalu jauh ke tempat mereka membuat janji. "Omong-omong ada apa, Mas Yorda–" Yorda berdehem, membuat kalimat Syakira terputus sejenak. "Panggil saja Yorda, nggak usah pakai embel-embel," pinta Yorda. "Baiklah. Maaf ..., jadi, apa tujuan Anda ingin bertemu saya?" Yorda menghela napas, ia pun gegas membawa punggung yang semula bersandar pada kepala kursi menegak sempurna, menumpukan kedua suku pada permukaan meja dan memberi tatapan serius pada lawan bicaranya. "Ini tentang Fattah dan Laras, juga tentang saya, kamu. Kita berempat," ujarnya tanpa tedeng aling-aling. "Oh, tapi, maaf sebelumnya, sebetulnya saya tidak ingin lagi tahu menahu soal itu, Yorda. Karena posisi saya dan Mas Fattah sekarang sudah berbeda, status kami sebentar lagi resmi bercerai. Saya akan menjalani sidang perceraian dalam minggu-minggu ini." "Begitu, ya? Saya tidak tahu soal itu, maaf. Saya pikir kamu dan dia masih–" "Sudah tidak lagi," sahut Syakira lugas, senyumnya kembali mengembang. Yorda lantas membuang napas pelan mendengar penuturan itu, dari helaan napas tersebut Syakira bisa merasakan betapa putus asanya laki-laki di depannya saat ini. "Jujur sekali, saya bingung, Sya, Laras semakin ke sini semakin berubah secara signifikan. Entah apa yang ada di dalam kepalanya sampai tiba-tiba nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan Fattah kembali. Dia begitu menggebu-gebu dalam mendapatkan ambisinya. Padahal jauh sebelum kesepakatan kami untuk melakukan pertunangan, Laras berjanji akan melepaskan Fattah. Dia yang memberikan janji itu sendiri pada saya." Syakira hanya menjadi pendengar, tidak berminat memotong apa pun ucapan Yorda. Syakira tahu, laki-laki di depannya ini sedang ingin melontarkan sesak yang mungkin sudah tertahan cukup lama di dalam sanubari. "Saya jelas nggak mau kehilangan Laras, setelah perjuangan saya dari dulu dan sekarang hampir mencapai garis finish, tentu itu bukan hal yang mudah. Dan sekarang apakah saya harus terhempas jauh ke tanah setelah mencapai angkasa?" "Saya berusaha memahami itu. Tetapi, Yorda, perihal cinta, cinta tidak melulu harus memiliki bukan? Melepaskan dia bersama yang dicintai, meski hati kita sangat sakit, bukannya itu lebih baik dari pada membelenggu?" Kali ini, Yorda terdiam. Dia menatap wajah teduh Syakira yang polos tetapi sangat memikat, pantas saja kakaknya begitu menyukai gadis ini terlepas bagaimana statusnya, ternyata Syakira memang semenarik itu. Betapa bodohnya Fattah yang menyia-nyiakan perempuan seperti Syakira? "Seperti yang kamu tahu, cinta tidak akan semudah itu luntur dari hati seseorang, Yorda. Sama seperti cinta mereka berdua yang tetap terpatri meski sudah ditentang bahkan dipisah. Mas Fattah dan Laras, mereka tidak akan berhasil melupakan satu sama lain, karena saya tahu kalau mereka begitu dalam ketika mencinta." Yorda mengamati gerak bibir Syakira, laki-laki itu membenarkan apa yang diucapkan Syakira. "Dari mana kamu tahu?" "Dari cara mas Fattah begitu mendamba sosok Laras, Yorda. Sebagai seorang istri yang dicampakan, saya bisa merasakan bagaimana hati suami saya kepada perempuan lain." "Begitu ya? Jadi, apa perceraian kamu ini juga berlandaskan rasa cinta, melepaskan Fattah untuk Laras yang dianggap begitu dicintai?" Syakira mengatup rapat bibirnya. ____________ "Kenapa Ayah tidak adil? Kenapa Ayah membiarkan aku kelimpungan cari Syakira seperti orang gila sementara Ayah tau tempat tinggalnya." Chandra yang sedang meminum secangkir teh, mengabaikan pertanyaan Fattah yang terkesan menggebu-gebu. Laki-laki itu, memilih menutup telinga rapat-rapat, menganggap pertanyaan Fattah tidak sampai menjamah telinga. Masih dalam posisi tenang, Chandra bahkan tak menatap sama sekali sorot mata putranya yang memerah. Apa itu cara Chandra menghukum Fattah? Iya, mendiamkan dan menganggap anaknya itu tidak ada, itu jauh lebih baik daripada memicu perdebatan. Ia sudah tua, jantungnya akan sakit jika dipakai untuk marah-marah. Untuk itu, meredam emosi dengan cara pura-pura buta adalah alternatif paling bagus. "Astaga, Ayah kenapa cuma diam? Lihat aku, Yah!" Fattah berusaha membuat atensi sang ayah beralih padanya, tetapi sepertinya usaha yang dilakukan sia-sia. "Ayah..." Fattah bergerak mendekat, lalu bersimpuh tepat di kedua lutut Chandra. Pada akhirnya laki-laki dengan rambut penuh uban itu pun menurunkan koran, lantas menghela napas. Chandra bersikap seperti ini sejak kepulangannya dari tempat tinggal Syakira yang baru. Syakira tidak mengadukan apa pun padanya, tetapi dia lah yang mendesak agar menantunya itu bercerita. Segala penderitaan di dalam rumah tangga mereka, Chandra menjadi geram bukan kepalang, bisa-bisanya Fattah menyiksa menantunya secara perlahan. Dan Chandra paling benci hal tersebut. "Apa keputusan ayah salah?" "Sangat salah, bukankah ayah memaksaku untuk menemui Syakira? Dan sekarang ayah menghalangi jalanku untuk menemuinya." "Fattah ... Ayah sadar, mungkin selama ini selalu mendominasi kamu. Ayah selalu memaksa dan memaksa kehendak sama kamu. Karena itu, ayah merasa jika mulai sekarang nggak perlu lagi intervensi urusan kamu. Mau kamu temui atau tidaknya Syakira, Ayah nggak peduli." Kedua bahu kokoh Fattah merosot hebat. Rasa-rasanya ia seperti dihantam beton tak kasat mata mendengar penuturan sang ayah. Secara tidak langsung, Chandra menolak untuk membantunya menjadi jembatan agar dapat bertemu Syakira. "Yah ..." "Ayah sudah putuskan, lebih baik kamu tidak perlu lagi menghubungi dan mengganggunya lagi, melepaskan dia adalah pilihan tepat, untuk mengobatimu juga mengobati perasaannya." "Tapi, ..." "Jangan egois Fattah, Syakira sedang butuh menyembuhkan diri setelah banyak masalah yang datang bertubi-tubi." "Aku mengerti." Fattah tertunduk lesu, menatap kedua tangan yang masih bertengger di atas paha sang ayah. Ia baru tahu jika hatinya bisa sesakit ini ketika ada yang memintanya menjauhi Syakira. Rasanya ia teramat sesak mendapati jika Syakira tak mau lagi bertemu dengannya atas dalih ingin sembuh. Separah itulah Fattah menyakiti Syakira sehingga timbul trauma pada gadis itu? "Aku ingin meminta maaf dan bersimpuh di depannya, Ayah ..." "Aku ... aku ingin dia kembali dalam hidupku. Memulai segalanya dan aku berjanji akan menggantikan kesedihannya selama ini dengan segudang kebahagiaan." "Kamu terlambat, Fattah. Penyesalanmu tidak bisa mengubah apa pun." "Kenapa?" Fattah menatap kedua bola mata Chandra yang serupa dengannya. Lekat dan dalam. Berusaha menyelami makna dari pendar netra sang ayah. "Sudah ada orang lain yang akan mewujudkan semua harapanmu pada Syakira, Fattah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN