"Kalau kalian cinta, Papa bisa kok bantu bicara dengan semua orang dan menjelaskannya." John berkata pada putrinya yang memasang wajah cemberut.
"Papa tau apa? Papa saja mengusirku ke apartemen dan tinggal dengan istri dan anak tirimu!" Kia menjawab dengan tajam, emosinya tampak di wajahnya.
"Kia----"
"Papa tahu alasan aku dekat dengan Rain karena apa?" Kia bertanya dengan nada tajam. "Jika tidak, tidak usah sok tahu dan ikut campur!"
John menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Kia, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Papa tahu hubungan kita tidak sempurna, tapi Papa tetap peduli padamu. Dari pada kamu menjalin perselingkuhan, lebih baik jujur dengan semua orang!"
Kia memutar mata, tidak mau mendengarkan nasehat ataupun penjelasannya. "Papa tahu apa? Hanya Rain... hanya dia satu-satunya yang membuatku merasa aman sekarang. Jangan mencoba ikut campur dalam urusanku."
John terdiam sejenak, merasakan kepedihan di balik kata-kata Kia. "Kia, Papa hanya ingin kamu bahagia. Jika Rain yang membuatmu bahagia, kenapa kalian tidak bersama?"
"Papa hebat, punya kuasa, kenapa tidak mencari tahu sendiri apa alasannya?" Kia bangkit berdiri, wajahnya semakin memerah oleh emosi yang terpendam. "Semua yang terjadi itu karena Papa! Karena Papa memungut dua sampah itu! Andai Papa tidak memungutnya, hubunganku dan Asher mungkin tidak akan hancur! Aku sangat membencimu Pa, sangat!"
John terlihat terkejut dan terluka oleh kata-kata Kia, tapi ia tetap berusaha tenang kali ini. John tidak mau kelepasan lagi dan melalukan hal yang akan ia sesali pada putrinya. "Kia---"
"Jangan ganggu aku dan Rain. Jangan ganggu dan campuri apapun yang aku lakukan bersamanya," ujar Kia dengan tegas, sebelum berbalik dan meninggalkan ayahnya sendirian.
John berdiri di tempatnya, merenungkan kata-kata Kia. John teringat akan semua perkataan buruknya selama ini. Ia selalu menyalahkan Kia jika ada pertengkaran dengan ibu dan saudara tirinya.
Setelah mendengar ucapan Rain kemarin, John yakin jika kemarahan Kia yang meledak-ledak pasti ada alasannya. Dan bisa saja, perselingkuhan ini juga bukan Kia yang memulai.
"Maafkan Papa, Kia." Lirihnya. Sebagai seorang ayah, ia tetap bertekad untuk berada di sisinya, meskipun Kia mungkin belum siap untuk menerima bantuannya. Atau bahkan tidak sudi.
Hubungan harmonis mereka selama ini hanya agar mereka tidak terlihat buruk di mata orang lain.
"Papa akan mencari tahu sendiri sesuai permintaanmu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu, Asher, dan Rain. Aku yakin kali ini, juga bukan kamu yang memulai. Apapun yang kamu lakukan pasti memiliki alasan. Aku harus bertrimakasih kapada Rain karena dia telah menyadarkanku. Seharusnya aku lebih percaya putri kandungku dibanding orang lain."
*****
Rain menatap Kia yang sudah berada di depan pintu kantornya, dengan mata bengkak penuh air mata. Bisa-bisanya Kia datang seterang-terangan itu. Dia tidak juga kapok walau pagi ini hubungan mereka hampir ketahuan dengan Asher dan ibunya. Namun, melihat keadaannya, Rain yakin harinya tidak berjalan dengan baik.
Sebelum Rain bereaksi, tiba-tiba suara lain terdengar nyaring.
"Kia?" Asher segera menarik pergelangan kekasihnya. "Kamu ngapain ke ruangan kakak?"
"Aku mencarimu," ujar Kia asal, lalu segera memeluknya untuk menutupi kegugupan. Kia semakin kesal saja. Niatnya mau bermanja-manja pada Rain, tapi malah ada Asher yang mengganggunya.
"Ada apa?" tanya Asher, merasa khawatir.
"Ada apa lagi, semua ini berhubungan dengan Papa dan keluarga barunya!" ketus Kia.
"Mereka membuat masalah lagi?" tanya Asher, dan Kia hanya menggeleng malas. Kia tidak mood lagi berkeluh kesah. Coba saja Rain yang mendengar isi hatinya saat ini.
"Sudahlah, aku sudah membaik," Kia akhirnya memaksakan senyumannya.
Rain lagi-lagi merasa terbakar melihat mereka bersama. Apa suatu hari nanti, dia akan bermusuhan dengan adiknya sendiri karena merebut Kia darinya? Cinta memang sungguh buta.
"Kamu mau ke apartemenku? Aku pesankan makanan! Sepertinya kamu kurang enak badan!" ujar Asher perhatian, dan sontak membuat Rain semakin panas.
"Kamu sedang kerja, aku ke sini hanya untuk menemuimu sebentar." Kia kembali beralasan.
"Tidak apa sayang, aku kangen peluk kamu. Nonton film bersama, menghabiskan waktu berdua saja!" Asher memeluknya mesra.
"Asher, kamu ada meeting lima menit lagi!" Rain mencoba menahan amarahnya, namun nada suaranya terdengar jelas.
"Kak, gantikan aku," pinta Asher, berharap Rain bisa mengerti.
"Belajarlah tanggung jawab, Asher. Apa di masa depan, kamu juga akan meninggalkan hal penting perusahaan demi kepuasan pribadimu?"
"Tapi Kia----"
"Akan aku antar kekasihmu itu pulang, selesaikan tugasmu. Aku sudah melakukan banyak hal, kali ini aku mau kamu memegang proyek dengan benar," ujar Rain tajam.
Asher tampak ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah, Kak. Kia, kamu akan aman dengan Rain." Bisiknya seraya mencium kening Kia, lalu pergi dengan tangan terkepal.
Setelah Asher berlalu, Rain menghela napas panjang. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang," katanya dingin, mencoba mengendalikan emosinya.
Kia menatap Rain dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa kamu marah?" tanyanya pelan.
Rain tidak langsung menjawab, hanya menatap Kia dengan mata penuh perasaan campur aduk. "Karena kamu selalu membuat segalanya menjadi lebih rumit," ujarnya dengan suaranya berat, lalu menarik wanita itu kepelukannya dan memberinya lumatan pada bibir tipis itu.
"Aku benci kamu berdekatan dengannya." Batin Rain miris.
"Rain---"
"Ayo pulang!" Rain berjalan lebih dulu.
Mereka berjalan keluar kantor, dan Rain tetap berusaha menjaga jarak meski hatinya terasa berkecamuk.
Mobil melaju di jalanan kota, membawa mereka menuju apartemen Kia. Rain kini menyadari bahwa perasaannya adalah sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Situasi ini benar-benar tidak terkendali.
"Kenapa?"
Kia, yang awalnya hanya diam, menoleh saat Rain melontarkan kalimat itu. Rain mendadak mengusap pipinya yang masih basah karena air mata.
"Apa yang membuatmu menangis?" Rain menarik Kia ke pundaknya, membiarkannya bersandar dengan nyaman di sana. Kia spontan tersenyum dengan wajah memerah. Ya Tuhan, kenapa Rain selalu selembut ini? Bagaimana jika akhirnya Kia yang masuk perangkapnya?
"Bertengkar dengan Papa. Dia selalu saja sok tahu!"
"Dia bicara tentang hubungan kita?" tanya Rain, dan Kia hanya mengangguk.
"Aku bilang ke Papa jika dia tidak usah ikut campur. Lagipula aku bukan keluarganya lagi, Devina dan ibunya lebih penting! Aku saja dibuang ke apartemen!"
"Memang kamu mau berkumpul satu atap dengan ibu dan saudara tirimu? Jika kamu dibuang, apartemenmu tidak akan semewah itu, fasilitasmu juga masih full. Ayahmu hanya mau kamu hidup tenang, dia menyayangimu."
"Jika dia sayang, dia tidak akan menikah dan memungut dua sampah itu!" Kia terisak pelan.
"Kia, ayahmu juga manusia biasa. Kelak kalau kamu menikah, siapa yang akan menemaninya?"
"Tapi tidak dengan iblis itu!"
"Jadi ayahmu hanya salah pilih pasangan, bukan? Dia hanya percaya dengan orang yang salah! Kenapa kamu membencinya? Beri dia pengertian, tunjukkan wajah-wajah buruk mereka yang tanpa menggunakan topeng."
"Kamu percaya jika mereka memang jahat, kan? Aku tidak memanipulasi keadaan karena tidak menyukai mereka! Seperti yang Papa tuduhkan padaku selama ini!"
"Aku percaya!" Rain mencium keningnya. "Karena aku melihat siapa yang mendorongmu dari kapal pesiar malam itu. Devina dan ibunya, mereka mencoba membunuhmu." Batin Rain.
Kia memejamkan matanya sejenak, menikmati kenyamanan yang diberikan Rain. "Makasih sudah percaya padaku, Rain."
"Kamu tau Rain, malam di saat aku tenggelam?" Kia tiba-tiba membahasnya.
"Kenapa?"
"Entah kenapa, aku seperti melihat dan mendengar suaramu malam itu. Aku juga selalu bermimpi jika kamu menarikku dari dalam air."
Rain tersenyum, lalu menepuk puncak kepalanya. "Semua orang tahu siapa yang menolongmu. Asher orangnya, bukan aku."
"Entahlah, itu sebuah penglihatan yang aneh. Kita tidak pernah banyak bicara sebelumnya. tapi setelah insiden itu, kamu selalu muncul saat aku bermimpi tentang tenggelam. Kamu menarik tanganku----"
"Jangan ingat-ingat hal itu lagi." Rain mencium keningnya. "Lupakan hal-hal yang membuatmu sedih dan takut. Kenangan buruk ada, bukan untuk diingat. Lebih baik kamu membangun kenangan indah di masa ini."