Bab 18 : Kaif Belajar?

2229 Kata
Malam hari setelah sholat maghrib. Hanin naik ke lantai 2 untuk memanggil putranya yang masih ada di kamar. “Aydan!” “Ya, Ma?” Aydan yang sedang membaca al-quran segera menghampiri mamanya di depan pintu. Ceklek. Pintu terbuka dan Aydan pun menunjukkan wajahnya, pintu terbuka lebar. “Kau lagi apa?” tanya Hanin. “Ngaji, Ma,” jawab Aydan. “Mama ganggu ya?” “Enggak, Ma.” Aydan menggeleng dengan senyuman. “Ada apa, Ma?” tanyanya. “Mau makan sama?” tanya mamanya. “Mau lah, bentar lagi Aydan turun.” Hanin mengangguk lalu kembali turun. Aydan juga menyiapkan bacaannya hingga ‘ain’ kemudian menyusul orangtuanya. Raihan melihat Hanin duduk di hadapannya. Mengambilkannya nasi kemudian diberikan pada suaminya. “Kenapa liatin terus?” tanya Hanin. “Abisnya kamu cantik,” jawab Raihan. Hanin tersenyum. “Masa sih? Kayaknya wanita di perusahaan Mas, banyak yang lebih cantik deh,” sahut istrinya. Raihan tertawa ringan. “Mereka cantik untuk suaminya, kalau kamu kan cantik untuk Mas.” “Hmm, mulai lagi buat Hanin senyum sendiri.” “Haha, rasanya baru kemarin kita nikah, gak taunya sekarang kita udah setua ini,” ujar Raihan. “Iya, Sayang. Gak terasa kali kita udah berumur segini. Rasanya kemarin kita masih jalan-jalan, bulan madu terus hmm, banyaklah yang kita lalui.” Raihan mengangguk. “Kamu wanita kuat.” “Mas yang menguatkan Hanin.” “Karena Allah kita harus kuat,” timpah Raihan. “Iya, Mas. Kali ini kita juga harus kuat demi anak-anak kita.” Hanin memegang tangan suaminya. Ssnngg. Mereka mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Sudah pasti itu adalah Kaif. Raihan dan Hanin melihat ke arah pintu. Tumben Kaif pulang cepat beberapa hari ini. Aydan pun turun dari lantai 2, menghampiri kedua orangtuanya terlebih dulu. “Pa, Ma, lama nungguin Aydan?” tanyanya. “Enggak, Papa aja belum makan,” sahut Raihan. “Aydan kira udah ketinggalan.” Aydan tersenyum. Hanin mengambilkan putranya nasi lalu memberikannya. “Ini untukmu.” “Mama punya mana?” tanya Aydan. “Ini baru mau Mama ambil,” jawab Hanin membalik piringnya lalu mengambil nasi untuknya sendiri. Ceklek. Pintu terbuka, Kaif masuk dengan senyuman. Mereka jadi heran melihat sikapnya yang tidak biasa. “Assalamu’alaikum,” ucap Kaif. “Wa’alaikumsalam.” Mereka menjawabnya dengan perasaan aneh. Kaif ngucapin salam pas masuk rumah, itu adalah pemandangan yang sangat langka disaksikan. Aydan melihat kakaknya dari posisi duduknya, matanya sedikit menyipit. “Kaif, kau mau ikut makan?” tanya Hanin. “Mau lah, masa Kaif gak mau?” anak itu langsung duduk di samping mamanya. “Cuci tangan dulu sana,” pinta mamanya. “Oke, Ma!” Kaif meletakkan tas dan membuka jaketnya lalu menuju kamar mandi. Raihan tidak ingin terlalu memikirkan perubahannya. Papanya tau kalau dia tiba-tiba baik pasti ada hal yang akan dimintanya. Mereka pun menunggu Kaif keluar dari kamar mandi baru makan bersama-sama setelah berdoa. “Gimana lahan yang Papa suruh cari?” tanya Raihan. “Oh, itu, belum dapat, Pa. Susah nyari tempat strategis untuk buat usaha.” “Kalau gak ada lahan, mungkin aja ada bangunan yang bisa direnovasi untuk tempat usaha juga gak masalah,” sambung Raihan. “Iya, Papa. Aku udah nyari, masih proses.” Kaif menjawabnya dengan lembut. Hanin sampai menaikkan alis mendengar anaknya bicara baik pada papanya. “Ma, Pa, acara arisan kita jadi kan?” tanya Kaif. “Jadi, tumben nanya itu? Biasa kau juga gak pernah mau gabung, selalu keluar rumah saat ada acara di sini.” Hanin menyindirnya. “Kaif mau undang pacar ke acara itu,” jawabnya. “Jangan pacaran, gak bagus,” nasehat Raihan. “Pa, jaman sekarang gak pacaran dibilang kuno sama orang-orang,” sahut Kaif. “Gak ada itu, kau harus menjalani ta’aruf lalu menikah.” Raihan juga dulu seperti itu. “Kaif dipaksa harus sama kayak kalian dulu? Gak mau, Kaif udah besar-dosanya juga nanggung sendiri.” “Kaif, gak boleh gitu. Papa benar, kami sebagai orangtua wajib menasehati kalian sebagai anak. Meski kau sudah besar, kesalahanmu menghambat kami masuk surga,” sahut Hanin. Kaif mengulum makanannya dengan perlahan dan berpikir sejenak. Dia tau dirinya banyak salah, egois dan gengsi membuatnya tidak mau bertaubat. Aydan tidak banyak bicara, dia hanya menikmati makanan yang ada di hadapannya. “Kalau Mama dan Papa suka sama Tania, aku juga ingin segera menikahinya,” ujar Kaif. Aydan langsung menghentikan gerakan mulutnya begitu mendengar nama perempuan itu. ‘Tania?’ tanyanya dalam hati. Aydan mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Kaif. “Jika seperti itu, undanglah dia. Semoga kami menyukainya agar kau bisa segera dinikahin dan tidak pacaran terlalu lama.” Raihan memberi ijin pada Tania untuk datang. Hanin mengikuti perkataan suamiya. “Mama setuju sama Papa.” Kaif tersenyum, mengangguk cepat. “Makasih ya, Ma, Pa!” Aydan masih penasaran pada Tania yang dimaksud kakaknya. ‘Semoga bukan si pembuat masalah itu,’ gumamnya dalam hati. Setelah makan malam dan menghabiskan waktu untuk mengobrol, Kaif naik ke kamarnya. Aydan menemani mamanya di dapur. Dua hari ini bibi yang biasa kerja di rumah tidak bisa menginap karena anaknya sakit, jadi dia pulang setiap sore. Hanin yang membersihkan peralatan masak dan makan setelahnya. “Ma, biar Aydan aja yang ngelakuin.” “Ada aja! masa laki-laki megang kerjaan dapur? Gak boleh, pantang!” Hanin melarangnya. “Kenapa pantang? Kan bantuin Mama?” “Dapur itu wilayah kekuasaan wanita. Meski pun tidak diwajibkan, tapi menurut Mama tidak etis kalau pria masuk ke dapur apalagi sampai mencuci piring.” “Mmh.” Aydan mengangguk. “Ya udah, Aydan tungguin di sini,” sambungnya berdiri di dekat meja persiapan memasak. “Aydan, kau tidak ingin mengajak kenalanmu ke rumah saat arisan nanti?” tanya Hanin. Aydan tersenyum. “Aydan mau ngajak siapa, Ma? Aydan belum punya pacar,” jawabnya. “Masa sih? Mama kira kau akan seperti Kaif yang takut dibilang kuno kalau gak pacaran,” sahut mamanya. “Haha, Aydan lebih suka ta’aruf. Kita tidak merusak wanita itu sebelum waktu yang tepat,” ujar Aydan. “Hmm, kakakmu itu yang gak bisa dibilangin. Dinasehatin kayak tadi tuh, jawabannya malah nyeleneh.” Aydan tersenyum mendengarnya. Kaif memang keras kepala, tidak bisa dinasehatin. Hanin selesai mencuci dan merapikan semuanya. Ia mengajak Aydan pergi dari dapur. “Mama mau nyari bahan untuk Arisan. Kau mau menemani?” tanya Hanin. “Pasti, Ma.” “Alhamdulillah.” Hanin senang mendengarnya. “Besok pagi kita pergi ya,” ajaknya. “Ke pasar atau swalayan?” tanya Aydan. “Ke pasar dulu, kalau gak ada di pasar kita baru ke swalayan.” “Iya, Mama.” Aydan mengantar mamanya ke depan kamarnya. “Kau tidurlah, jangan begadang!” “Iya, Ma. Selamat mimpi indah,” ucap Aydan. Hanin tersenyum. “Kau ini seperti sedang bicara pada kekasihmu saja.” Aydan tertawa kecil lalu pergi ke arah pintu utama. Menghampiri satpam untuk menyampaikan pesan jaga rumah dengan baik. Aydan pun menutup pintu, menguncinya lalu naik ke kamarnya. Saat ia membuka pintu kamar, sepasang kaki terlihat di atas tempat tidurnya. Aydan tau kalau kakaknya sudah baring terlebih dulu di kamarnya. Aydan duduk di meja kerjanya dan membuka laptop. Ada sedikit kerjaan yang masih belum selesai tadi. “Aydan,” panggil Kaif. “Mmh.” “Kau udah buat rencana pengunduran dirinya kan?” Kaif mengingatkan kembali. “Iya, Kak. Aku akan keluar sesuai permintaan kakak. Masih ada waktu sekitar 8 hari lagi sebelum aku benar-benar meninggalkan perusahaan.” “Bagus! Aku sudah tidak sabar untuk menjalani posisi itu.” “Kakak mau aku beritahu pekerjaan yang harus ditangani nantinya?” Kaif yang sedang memegang ponselnya lalu berhenti sejenak dan meletakkannya di samping. “Bukankah aku hanya duduk saja nanti?” tanya Kaif. “Kak, semakin tinggi posisi kita di sebuah perusahaan maka kerjaannya semakin berat.” Kaif bangkit dari posisinya lalu menghampiri Aydan. “Maksudmu aku juga harus bekerja dengan laptop?” Aydan mengangguk. “Ada berkas yang harus kakak pelajari dan baca sebelum di sign. Terus kakak juga siap menjadi pembawa materi ketika rapat. Menilai kerjaan karyawan dan melakukan pengawasan di semua bidang.” “Huft!” Kaif mendengus lelah. Baru mendengarnya saja udah bosan. “Kalau gitu aku harus belajar banyak?” tanya Kaif. “Iya, Kak. Ayo kita belajar, aku akan mengajari kakak.” Aydan menarik kursi untuk kakaknya. Kaif duduk dan memperhatikan ke layar laptop. Aydan menjelaskan selengkap mungkin pada Kaif agar ia mengerti. Kaif meminta kertas dan pena untuk mencatat hal penting. Aydan senang melihat kakaknya berubah. Dia benar-benar sangat ingin menjalani bisnis papanya. Aydan pun tidak setengah hati mengajarinya mulai dari nol. Bahkan keesokan harinya dia juga meminta Kaif datang ke perusahaan untuk melihat apa saja tugasnya di ruangan. Raihan sedikit bingung melihat kehadirannya, tapi ketika ditanya langsung, Kaif hanya menjawab, “Ingin main ke ruangan Aydan aja, Pa!” Raihan pun tidak ambil pusing dan melanjutkan pekerjaannya. Aydan menjelaskan perusahaan mana saja yang telah bekerja sama dengan mereka, apa yang disepakati bersama di antara dua perusahaan pun dipaparkan dengan teliti. Kaif menerima semua informasi tersebut. Bahkan ketika ponselnya berdering tanpa suara, Kaif tidak menyadarinya. Aydan yang melihat ke layarnya dan kaget melihat wajah perempuan yang ditemuinya diberbagai tempat itu diberi nama ‘Taniaku’ oleh kakaknya. ‘Wanita itu pacar kak Kaif?’ Aydan sangat terkejut. Kaif baru menyadari kalau Tania menelepon. Ia pun menjawabnya di depan Aydan. “Halo, Sayang!” “Beib, kamu di mana?” tanya Tania mendayu. “Aku di kantor.” “Kantor? Kantor siapa? Kamu udah dapat kerja?” tanya Tania. “Aku di perusahan papa.” “Ha? Kamu udah kerja?” Tania kegirangan. “Belum, aku masih belajar sama adikku. Supaya pas nanti aku menggantikan dia bisa langsung meneruskannya,” jawab Kaif. “Oh, kirain. Jadi adikmu ada di sana nih?” “Iya, dia di sini. Kenapa? Kau mau ketemu sama dia?” “Eh, haha, jangan! Aku ada urusan.” Tania menolaknya karena takut Aydan buka suara akan kelakuannya. “Oh, ya udah, aku mau belajar lagi nih. Udah dulu ya.” Kaif langsung mematikannya. Tania menghela napas. “Duh, mati aku! kenapa coba aku sampai merayu kakak adik? Aaagghhh!” Aydan meneruskan kegiatan untuk mengajari kakaknya sambil bertanya tentang Tania. Kaif menjawabnya dengan jujur. “Kakak, udah lama sama Tania?” tanya Aydan. “Sekitar 6 bulan. Kenapa?” “Oh, enggak apa-apa.” “Dia itu cantik, awas ya kalau kau tergoda padanya,” kata Kaif. Aydan mengerutkan alis. Bahkan saat dia menyerahkan tubuhnya saja secara sukarela, Aydan tidak menginginkannya. “Gak mungkin lah, Kak. Dia kan kekasih kakak.” “Hmm, bagus!” Kaif mengangguk. “Nanti juga dia akan kakak kenalin ke mama, papa dan kau.” “Iya, Kak!” Aydan tidak sabar menunggu kehadiran dia di depan keluarganya. Aydan tidak menyukai tipe wanita seperti itu untuk dimiliki oleh kakaknya. Dia harus cari cara agar Kaif pisah sama wanita perayu itu. 2 hari sebelum acara arisan. Hanin meminta Aydan menemaninya ke pasar. Masih ada bahan yang kurang untuk masak. “Ma, kenapa gak katering aja?” tanya Aydan. “Mama takut nanti papamu gak suka masakan orang,” jawab Hanin. “Mama lelah kalau masak sendiri.” “Tapi mama udah beli semua bahannya?” “Gak masalah, nanti Aydan cariin tukang masaknya atau chef hotel aja Aydan panggil.” “Haha, jangan! Masakan hotel gak kena di lidah orang batak.” Hanin tertawa kecil. “Ya udah, Aydan cari tukang masak rumahan biar rasanya kayak makanan mama.” “Hmm, kau yang bilang ke papa ya? Mama sebenarnya capek.” Aydan setuju dan segera mendatangi Raihan yang sedang duduk di taman membaca koran. “Pa,” sapanya. “Ya, Aydan?” “Arisan nanti kita panggil tukang masak aja ya?” pinta Aydan. “Kenapa gitu?” Aydan melipat bibirnya lalu tersenyum. “Kekasih Papa kasihan,” jawabnya. Raihan melirik. “Maksudmu Mama?” “Iya lah, emang Papa punya kekasih selain mama?” Raihan sontak tertawa. “Hha, ya gak ada lah! Mamamu pertama dan terakhir.” “Nah, mama Aydan nanti capek, Pa. Kita bayar tukang masak aja ya?” Aydan menaikkan alisnya. Raihan setuju, segera merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. Aydan tidak tau papanya mau menelepon siapa? Tidak berapa lama panggilannya dijawab. “Assalamu’alaikum, Bu Erin!” Raihan menghubungi seorang kenalannya yang dulu menjadi orang yang sering dipanggil mamanya untuk masak kalau ada acara. “Bisa kan, Bu? Lusa acaranya, kalau mau datang hari ini untuk menyiapkan yang bisa disiapkan ya dipersilahkan mampir ke rumah saya.” Raihan tertawa di sela-sela percakapan. Aydan melihat papanya menutup panggilan. “Gimana, Pa?” tanyanya. “Aman kalau untuk mamamu, Papa akan mengurusnya.” “Alhamdulillah.” Aydan pun bisa bersantai dengan papanya pagi ini di halaman rumah sebelum berangkat ke kantor. 10 menit kemudian. Aydan lebih dulu berangkat dari papanya. Aydan naik motor ke kantor. Ia ingin mampir sebentar membeli keripik. Alasan klise hanya untuk menemui Emilia di swalayan kecil. Klining. Suara lonceng berbunyi, tanda Aydan sudah masuk ke dalam. Ia tidak melihat wanita itu, hanya ada seorang pria di sana. “Silahkan masuk!” “Mmh, Emilia gak masuk kerja?” tanya Aydan langsung tanpa basa-basi. “Emilia pindah ke cabang satu lagi dekat dengan bank Sumut kantor pusat,” jawab pria itu. “Oh, gitu.” Aydan tersenyum simpul. “Makasih ya,” ucapnya. “Ya, Mas. sama-sama.” Aydan pun mengurungkan niatnya untuk membeli cemilan yang hanya digunakanya sebagai alasan bertemu Emilia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN