Perjalanan dari kota Bandung ke Ibu Kota memakan waktu cukup panjang. Apalagi aku menggunakan transportasi umum yang saat akan berangkat saja masih harus menunggu di terminal agar penumpang yang hendak pergi ke Ibu Kota semua dapat pergi di waktu yang sama.
Namun aku bisa bernapas lega saat menginjakkan kaki di kota metropolitan ini. Benar-benar berbeda sekali dengan kota kelahiranku. Bahkan meski aku berada di pinggiran kota Bandung, tidak pernah aku merasa menjadi orang yang dengan tampang melongo melihat suasana kota besar. Kukira Bandung sudah begitu padat sekali di masa kini, tetapi masih ada Ibu Kota yang begitu padat di dalamnya.
Turun dari bus yang membawaku ke sini, sebelum aku berjalan menyusuri jalanan Ibu Kota ini untuk mencari pekerjaan sekaligus mencari tempat untuk tinggal, aku memilih duduk di warung untuk membeli minum dan mengisi perutku karena di perjalanan tadi aku hanya membawa minum yang sekarang sudah habis.
Kata Pak Rt harus berhati-hati berada di kota besar seperti Jakarta, kejahatan akan ada di mana-mana, meski aku sendiri berpikir bahwa kejahatan tidak hanya di kota besar, di perkampungan pun kerap terjadi jika ada peluang orang tersebut melakukan sebuah kejahatan. Tetapi tentu saja aku akan ingat apa yang di katakan Pak Rt kepadaku sebelum aku naik bus, karena beliau yang memang mengantarku sampai terminal saat di Bandung.
Aku menatap sekeliling. Banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang, belum lagi kendaraan pribadi dan transportasi umum. Benar-benar menggambarkan sebuah kota dengan aktifitas setiap saat di dalamnya. Kalau Bandung hanya beberapa jalanan yang terjadi kemacetan, di sini sepertinya hampir setiap jalan terjadi kemacetan membuatku bahkan mengembuskan napas berulang kali membayangkan aku akan cukup lama di kota ini atau bahkan selamanya.
“Ini mie rebusnya, dek.”
Suara Ibu warung membuatku menoleh setelah cukup lama aku meneliti sekelilingku. Mie rebus yang menjadi pilihanku untuk mengganjal perut sudah tersedia, langit di sini mendung tetapi tidak membuat suasana menjadi sejuk, lama tetap membuatku kepanasan. Sepertinya aku harus beradaptasi dengan cuaca, lingkungan dan semua hal di kota ini.
Aku menikmati mie yang kupesan, cukup untuk mengganjal perutku sampai aku menemukan tempat berteduh.
“Rantau ya, Dek?”
Pertanyaan seseorang membuatku menoleh ke samping, lelaki yang kuperkitakan berusia beberapa tahun lebih tua dariku tengah merokok, dengan gelas kopi yang masih tersisa setengahnya.
Aku mengangguk, “Iya, Pak,” kataku.
“Dari mana?”
“Bandung, Pak.” Aku masih menjawab seadanya, terlalu takut dengan orang asing, apalagi aku baru datang ke kota ini. Bagaimana pun aku harus selalu waspada sekali dengan sekelilingku.
Bapak itu tidak bertanya lagi hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Syukurlah.
Selesai menghabiskan satu mangkuk mie rebus dan segelas teh hangat lalu membayarnya. Aku pun segera beranjak dari sana, memilih untuk segera menyusuri jalanan kota sambil mencari apakah ada toko yang mungkin membutuhkan pekerja dengan ijazah SMA sepertiku. Meski akan membutuhkan lama dan sulit tetapi aku harus tetap berusaha.
**
Aku berhenti sejenak, melihat ada orang yang tergeletak di depan toko yang tutup. Melihat ke sekeliling tidak ada orang yang menyadarinya, atau mereka pura-pura tidak melihat keberadaan orang itu.
Aku pun bergegas menghampiri untuk menolongnya. Ingat pesan dari mendiang ibuku kalau aku harus menolong sesama manusia, meski dalam kesulitan sekali pun. Jika masih mampu maka tolong lah, begitu yang Ibu katakan.
Kulihat ternyata orang itu pingsan. Pria paruh baya yang aku tolong itu terlihat begitu pucat, mungkin kelelahan atau memang sedang sakit. Tetapi, mengapa berjalan sendirian di tengah kota seperti ini.
Aku mencoba untuk menggendongnya, mendudukannya dengan bersandar di dinding depan toko. Setelah itu aku meminta bantuan pada orang yang kutemui, ada beberapa yang menolongku, mencarikan taksi untuk membawa pria tersebut ke rumah sakit.
Aku akhirnya ikut karena di antara mereka yang menolongku tidak ingin mengantarkan pria paruh baya tersebut. Alhasil aku yang bertanggung jawab membawanya sampai di rumah sakit.
**
Kata Dokter yang memeriksa, Kakek Wiryo begitulah identitas yang aku temui dalam dompetnya, mengalami serangan jantung. Aku yang memang tidak tahu menahu akhirnya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi perawat tetap memintaku untuk membayar biaya rumah sakit.
Tidak terlalu besar, tetapi bagiku tetap besar apalagi aku hanya memiliki uang sedikit, hampir setengah uang yang aku punya kugunakan untuk membayar biaya rumah sakit. Tetapi kalau tidak begitu, Kakek Wiryo tidak bisa di tolong dan aku tidak ingin sampai terjadi apa-apa padanya.
Tidak berselang lama Kakek Wiryo sadar dan menyuruhku masuk ke dalam ruangan setelah Dokter kembali memeriksanya. Beliau menjelaskan semuanya, ternyata memang sedang berjalan-jalan sendirian, ingin menikmati suasana kota katanya. Tetapi malah berakhir pingsan di tengah jalan, beruntung ada aku katanya.
**
“Tapi aku nggak bisa ikut, Kek.”
Aku menolak dengan sopan ketika Kakek Wiryo mengatakan aku agar ikut bersamanya, apalagi setelah mendengarku yang baru saja sampai di Ibu Kota dan sedang mencari pekerjaan serta tempat tinggal.
Beliau ternyata merupakan orang berada, setelah aku melihat ada beberapa orang yang datang memakai pakaian serba hitam selayaknya bodyguard dan memanggil Kakek dengan sebutan Tuan.
“Kenapa? Kamu sudah menolong Kakek dan kamu juga butuh pekerjaan kan.”
Iya sih, aku memang butuh sekali pekerjaan. Tetapi aku tidak enak saja, takut di sangka kalau aku mengambil kesempatan karena menolongnya. Belum lagi aku tidak tahu keluarga Kakek akan seperti apa melihatku yang datang bersamanya ke rumah nanti.
“Sulit mencari pekerjaan di Ibu Kota, Sal. Kamu sudah menolong Kakek dan Kakek tidak masalah sama sekali, malah ingin kamu ikut dengan Kakek.“
“Kenapa harus aku, Kek?”
“Melihat kamu, Kakek jadi ingat seseorang. Lagipula selama ini Kakek ingin sekali punya cucu lelaki. Jadi demi Kakek, kamu ikut ya,” ucapnya masih seraya membujukku.
Aku jadi tidak enak untuk kembali menolak. Apalagi melihat ketulusan Kakek Wiryo kepadaku, padahal aku hanya orang asing yang membantunya saja. Akhirnya aku pun mengangguk dan ikut pulang bersamanya.
**
Aku turun dari mobil mewah yang dikendarai oleh supir Kakek Wiryo. Berdecak kagum melihat bagunan rumah yang ada di depan mataku. Ternyata Kakek Wiryo bukan hanya orang berada, tetapi memang kaya raya melihat rumah megah dan beberapa mobil yang kulihat berjejer di samping rumah.
“Ayo!” ajak Kakek Wiryo membuyarkan kekagumanku melihat rumah yang begitu besar. Seumur-umur aku tidak pernah menginjak rumah mewah seperti ini, dulu melihat rumah tingkat dua di kampung saja aku begitu kagum. Apalagi rumah milik Kakek ini.
Bukan hanya bertingkat dua, tetapi tingkat tiga dengan bangunan yang luas, di samping ada taman dengan kolam ikan yang memiliki pancuran, lalu ada mobil yang berjejer di garasinya. Belum lagi halaman yang begitu luas, jarak rumah dengan gerbang utama pun begitu jauh sekali.
Aku melihat penampilanku dari atas sampai ke bawah. Astaga aku merasa kecil sekali. Kemeja lusuh, celana yang sudah belel, lalu sepatu yang sudah ada bolongan di pinggirnya. Benar-benar berbanding terbalik dengan kemegahan rumah ini, aku seketika ragu tinggal bersama di sini.
Masuk ke dalam rumah, aku di suguhkan dengan ruangan tamu yang kembali membuatku terkagum melihatnya. Tampak lemari cukup besar yang di dalamnya berderet patung-patung kecil yang begitu mahal kelihatannya. Belum lagi ukiran emas yang menghiasi lemari tersebut.
“Ayo duduk, Sal. Kamu mau minum apa nanti dibuatkan sama Bi Ningrum,” ucap Kakek Wiryo kepadaku.
Aku mengangguk kaku, kemudian duduk di kursi. Empuknya, batinku.
Sesekali aku menepuk kursinya, takut aku membuat kotor dan menjadi rusak nantinya karena ulahku. Aku benar-benar khawatir sekali karena tidak biasa duduk di kursi mewah dan empuk begini. Sementara Kakek tampak santai di hadapanku setelah memanggil asisten rumah tangga yang tadi kudengar bernama Bi Ningrum.
Tidak lama seorang wanita datang dengan membawa nampan yang di atasnya sudah tersaji minuman dan kue. Diletakkan di meja hadapanku, mejanya saja begitu bersih dan terlihat mahal. Aku jadi takut ceroboh sampai memecahkan kaca meja tersebut. Aku harus hati-hati sekali.
“Silahkan, Den,” ucap wanita itu kepadaku. Aku tersenyum ramah dan mengatakan terima kasih.
“Ayo di minum dulu, kamu pasti haus. Kuenya juga habiskan saja, setelah ini kita makan siang bersama,” ucap Kakek Wiryo kepadaku.
Aku mengangguk saja, mengambil gelas yang kulihat berisi air berwarna oren. Kemudian kucicipi dan ya itu jus jeruk. Tenggorokanku segar sekali setelah meminum jus tersebut.
“Parmin di mana yang lainnya?” tanya Kakek pada pria yang sejak tadi berada tidak jauh dari tempat duduk kami.
“Nyonya dan Non Rima sedang keluar, Tuan. Non Anggun ada di kamar sedang belajar, kalau Tuan Burhan masih belum pulang,” balas Pak Parmin kepada Kakek Wiryo.
“Panggilkan Anggun ke sini,” suruh Kakek. Kemudian Pak Parmin mengangguk dan pamit untuk memanggilkan seseorang yang bernama Anggun tadi. Aku sendiri hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Nanti Kakek kenalkan sama yang lain, ada anak sama menantu dan cucu Kakek. Kalau istri Kakek sudah lama meninggal, sekitar lima tahun lalu,” ucap Kakek kepadaku. Aku kembali mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kakek dari mana saja.”
Suara itu membuat aku dan Kakek menoleh kompak. Seorang gadis yang usianya mungkin sama denganku baru saja menghampiri kami di ruang tamu ini. Gadis itu berpakaian begitu tertutup, meski rambutnya tidak tertutup oleh hijab tetapi kelihatan sekali menjaga auratnya. Tampak menyalami tangan Kakek dengan begitu santun.
“Kenapa Kakek nggak bilang kalau mau keluar rumah, kan Anggun bisa ikut dan temani Kakek,” katanya setelah duduk di samping Kakek Wiryo.
“Tadi hanya jalan-jalan saja. Oh iya, Anggun. Kenalkan ini Faisal, dia akan tinggal di sini bersama kita dan nanti berkuliah sama kamu, nanti kamu bantu dia selama di sini dan mengurus kuliahnya ya.”
Aku terkesiap. Kakek tidak pernah membahas bahwa aku akan berkuliah. Bukannya tadi beliau mengatakan aku akan di berikan pekerjaan. Mungkin Kakek menyadari keterkejutanku dan menantapku dengan hangat.
“Nanti Kakek jelaskan,” ucapnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
“Hai, kenalkan aku Anggun,” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Senyumnya begitu ramah sekali, kupikir ini hal yang bagus karena gadis itu menerima keberadaanku dalam keluarganya.
“Aku Faisal,” balasku meraih uluran tangannya.
**
Aku berada di kamar yang ditunjukkan oleh Bi Ningrum tadi. Setelah berbincang dengan Kakek Wiryo dan Anggun, Kakek menyuruhku untuk beristirahat dengan menyuruh Bi Ningrum untuk mengantarkan aku ke kamar yang berada di lantai dua. Meski ragu, aku tetap mengikuti Bi Ningrum.
Aku kaget sekali saat melihat kamar yang begitu luas dan kupastikan aku akan nyaman sekali tidur di ranjang empuknya. Bi Ningrum menyuruhku untuk berganti pakaian dan menunjukkan lemari yang sudah terisi oleh pakaian lelaki. Membuatku kembali terkejut melihatnya.
Bi Ningrum bilang Kakek memang sempat menelepon ke rumah dan menyuruh orang-orang untuk menyiapkan kamar dan pakaian di dalam lemari. Kurasa Kakek memang sudah mempersiapkan semuanya sejak awal, itu mengapa Kakek bersikera membujukku untuk ikut.
Semula aku ragu sekali memakai pakaian yang berada di dalam lemari, tetapi melihat pakaianku yang sebagian besar lusuh, tidak cocok sekali kalau nanti bertemu dengan orang-orang di rumah dan aku tidak mau Kakek merasa malu, akhirnya aku pun membawa satu kaos hitam dan celana selutut kemudian bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
“Keren banget,” ucapku melihat ke dalam kamar mandi. Selain ada kamar mandi di dalam kamar ini. Teryata di dalam kamar mandi pun begitu bersih dan lengkap sekali, seperti sedang berada di hotel.
Jangan salah. Aku tentu tahu karena waktu itu pernah mengikuti perlombaan menjadi salah satu perwakilan dari sekolah dalam olimpiade matematika dan memang di adakan di luar kota, dari sana lah aku tahu dan pernah menginap di hotel bersama dengan temanku yang lain dan juga Pak Ramdan, wali kami.
Entah aku semalam mimpi apa di perjalanan menuju Ibu Kota. Bisa bertemu dengan Kakek Wiryo dan sekarang tinggal di rumah megah ini. Aku sangat bersyukur bertemu dengan orang baik di kota besar ini.