Jawaban Alvira

1801 Kata
ALVIRA POV.   Derrrt... derrtt...   HP yang tergeletak di atas meja pribadiku bergetar. Aku yang baru selesai sholat Magrib berjama'ah di RB bersama Radith, dan Ayunda. Langsung mengampiri meja untuk mengambilnya. Setelah Hp ada ditanganku, terlihat wajah ayah memenuhi layar HPku. Langsung aku geser tombol hijau.   "..."   "Waalaikumsalam, Yah." Karena ayah sudah mengucapkan salam terlebih dahulu ketika aku berhasil menempelkan HPku di telinga.   "..."   "Loh Yah, ada apa? Siapa yang sakit?" Ayah yang tiba-tiba menyuruhku untuk datang kerumah sakit.   "..."   "Waalaikumsalam," Aku menutup salam. karena hanya ada perintah untuk segera kerumah sakit. dan Ayah menutup salam.   Setelah telpon dimatikan. Aku menggenggam erat HPku. mendengar kata rumah sakit dan yang telpon Ayah membuatku was-was. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan ayah? Kenapa Ayah ada di rumah sakit? Untuk menenangkan hatiku yang berdebar. Aku mengambil botol minumku. Setidaknya dengan minum bisa sedikit menenangkanku.   "Ada apa Vir?" suara Radith bersamaan dengan Ayunda. Karena kami bertiga yang terakhir di RB, anak-anak yang ikut program belajar RB sudah pulang. Rencananya setelah ini aku dan Yunda mau cari makan dan Radith mau jemput Kak Ais. Kakak sepupunya, dan juga sahabat kami, yang sekarang menjadi dokter Obygain di rumah sakit Medical Utama.   "Ayah telpon."   "Sudah disuruh pulang?" tanya Ayunda. dan aku menggeleng.   "Terus?" konfrimasi Ayunda.   "Ayah, ada di rumah sakit. Gue harus kesana sekarang. Ma'af ya tidak jadi ikutan cari makan," ucapku pada Ayunda.   "Oalah.. yaudah gapapa. Cancel, lain waktu masih bisa kok," balas Ayunda.   "Siapa yang sakit Vir?" tanya Radith yang hanya aku jawab dengan mengangkat kedua bahuku.   "Terus di rumah sakit mana?" tanya Radith lagi.   "Medical Utama."   "Sekalian bareng aja Vir. Motor lo masukkin garasi aja," tawar Radith.   "Gue bawa motor aja deh, Dith."   "Bener Radith Vir, Lo nebeng dia aja. Sama-sama ke Medical Utama," perintah Ayunda.   "Bareng aja deh Vir. Daripada gue gak ada temen ngobrol. Gue gak yakin kalau lo bisa fokus nyetir nantinya."   Berdebat dengan Radith dan Ayunda tidak akan menguntungkan posisiku. Sehingga aku memilih untuk mengikuti keinginan mereka. Aku duduk bersandar di kursi penumpang HR-V silver milik Radith. Sedangkan Ayunda sudah naik ke motor maticnya untuk pulang.   Radith yang mengetahui aku sedikit gelisah. Dia menenangkan aku dengan menyuruh berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Radith juga memutarkan lagu-lagu pop religi, hingga suasana tidak hening. Karena diantara kami tidak ada yang berbicara. Beginilah cara Radith, dia tidak akan mendesak pertanyaan atau mengajak cerita. Ia akan memberikan sahabatnya ruang untuk menenangkan diri. Karena ia tahu bila kondisinya tepat pasti cerita dengan sendirinya. Terkadang dia selalu punya umpan yang bagus. Umpan yang mampu membuat sahabatnya membuka suara. Mengurai semua hal-hal yang dianggap privat, dan tentunya untuk membantu mencarikan penyelesaikan masalah.   "Vira, udah sampai," ucap Radith. Membuatku langsung menegakkan tubuh, mengedarkan pandangan. ternyata mobil sudah berada diparkiran Medical Utama.   Aku dan Radith sama-sama berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. Didepan kursi tunggu resepsionis aku melihat ayah dan kak Aisiyah sedang berbicang. Melihat Ayah yang sepertinya tidak apa-apa membuatku bersyukur, tidak ada hal buruk yang menimpa Ayah.   "Dith," panggilku menoleh kearahnya yang berada disamping kananku. Ia pun melakukan hal yang sama. Dalam diamnya aku tahu ia menunggu aku menyampaikan maksudku memanggilnya "Itu Ayah, sama Kak Aisiyah," dengan posisi jari menunjuk lokasi Ayah dan Kak Aisiyah. Radith pun menganggukkan kepalanya. sebelum ia berucap "Ya udah Vir, kita kesana."   "Assalamualaikum" salamku dan Radith bersamaan ketika jarak kami dekat dengan posisi ayah dan Kak Aisiyah duduk.   "Waalaikumsalam," jawab kak Aisiyah yang terdengar jelas dan Ayah tak terdengar namun aku Ayah juga menjawab lewat gerakan mulutnya.   "Vira sama Radith kesini bareng?" tanya Kak Aisiyah   "iya, Kak. Tadi kami habis dari RB. Aku yang mau jemput kakak kesini. Vira ditelpon Om Faiz disuruh kesini. Ya udah barengan," jelas Radith menjawab pertanyaan Kak Ais.   "Oh... Eh Om, Vira. Mau bareng kami pulangnya? Kan Vira tidak bawa motor." tanya Kak Aisiyah ramah.   "Terima kasih Nak Ais, Radith. Om bawa mobil kok. Vira nanti pulang sama om," tolak Ayah. Dan mendengar ayah membawa mobil, pikirku tidak mungkin jika ayah menyuruhku kesini untuk menjemput beliau.   "Oh ya udah kami pulang dulu ya, Om," pamit kak Ais dengan menangkupkan telapak tangannya. sedangkan Radith sudah mencium punggung tangan Ayah.   Radith dan Kak Ais sudah menghilang dari pintu masuk-keluar masuk. Setelah itu aku baru memberanikan diri bertanya pada ayah.   "Ayah, ada apa kok Vira disuruh kesini?"   "Ada yang mau bertemu kamu. Sekarang ikut Ayah".   Aku pun mengikuti langkah Ayah yang telah membimbingku dengan tangannya yang sudah memeluk pundakku.   "Siapa sih yah? Tidak elit banget. Ingin ketemu kok di rumah sakit."   "Tidak ada yang berubah dari kamu ya! Terus tanya kalau belum menemukan jawabannya."   "Kalau penasaran, harus bertanya dong, Yah," jawabku dengan memutarkan bola mata, mengingat ayah enggan memberitahu dan mengalihkan pertanyaan lain.   "Apa kita mau ketemu keluarga Papa Aldi yah?" lanjutku lagi. Dan itu membuat Ayah menghentikan langkahnya, menoleh menatapku.   "Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ayah kemudian dan masih menatap intens terhadapku.   "Karena ini rumah sakit milik keluarga Bachtiar, Yah. Terus siapa yang ingin bertemu denganku di rumah sakit? Elit dikit kek, kan bisa ngajak ketemu di restoran atau bermain kerumah aja Yah." Aku lihat tatapan Ayah mencair. Sudut bibirnya tertarik keatas kemudian kepala ayah menggeleng pelan. Tangannya pun beralih kepuncak kepalaku yang tertutupi jilbab. Mengacak pelan tanpa merusak jilbabku. "Ya udah daripada banyak tanya, banyak berspekulasi, mending sekarang kamu ikut ayah aja."   Akhirnya aku memilih diam hanya mengikuti Ayah. bagaikan mulut yang terkunci, karena sadar Ayah walaupun bertanya Ayah tidak akan menjawab pertanyaanku.   Ayah membawaku ke kawar rawat VVIP 1 dilantai 14 gedung rumah sakit ini. Ayah mengetok pintu dua kali dan tanpa menunggu respons dari dalam Ayah langsung membuka pintu. M aka seketika itu aku lihat di bankar rumah sakit Om Hendra terbaring dengan tangan kirinya di infus. dan di dalam ruangan tersebut juga ada Tante Fitri duduk disamping bankar. Serta karena pintu terbuka lebar aku juga melihat Andika yang sedang duduk di sofa.   Ayah menyentuh pundakku dan beliau menyuruhku untuk masuk. Mengubah ekspresi keterkejutanku dengan seulas senyum. Karena memang diluar dugaan bahwa alasan Ayah menyuruh kerumah sakit untuk bertemu dengan keluarga Om Hendra.   Akhirnya aku melangkah masuk. Menghampiri tante Fitri yang sudah berdiri disamping bankar dengan seulas senyum ramahnya. "Assalamualaikum," kemudian aku mencium punggung tangan tante Fitri yang dibalas pelukan hangat. setelah itu menangkupkan tangan memberi salam ke Om Hendra. Dibalas anggukan kepala serta senyum lemah.   "Om Hendra sakit apa, Tante? Terus sejak kapan dirawat?"   "Tadi siang waktu papa jemput Tiara disekolahnya. Yang dijemput malah ada di minimarket sebrang sekolahnya. Liat opanya udah datang, Tiara langsung berlari menyebrang tanpa lihat keadaan sekitar. Terus ada mobil yang mengebut, Tiara hampir ketabrak. Papa berteriak mengingatkan Tiara. Dasarnya Papa punya sakit jantung, jadi kambuh karena shock. Maklum lah Vir. Papa Mama Tiara meninggalnya karena kecelakaan," jelas Tante Fitri tentang kondisi Om Hendra.   "Terus keadaan Tiara bagaiman Tante?"   "Mobilnya langsung rem mendadak. Alhamdulillah Tiara selamat. Dirumah sekarang anaknya."   "Alhamdulillah," ulangku bersyukur atas kondisi Tiara.   "Ma..." panggil Om Hendra. Kemudian kami berdua menoleh ke Om Hendra. "Udah bicaranya sama Alvira? Papa juga mau bicara langsung sama Alvira," lanjut om Hendra khas suara dengan nada yang lemah, namun jangan lupakan wajah pucatnya   Tante Fitri menganggukkan kepalanya dan menggeser tubuhnya. Aku melangkah mendekat dan berdiri ditempat tante Fitri sebelumnya. "Om Hendra mau bicarakan apa? Nanti saja ya! Om istirahat dulu, biar cepet sembuh."   Om Hendra menggeleng pelan. "Alvira, Om tidak mau meninggal sebelum lihat putra Om, Andika menikah. Om mau kalau pernikahan kalian di secepatnya dilaksanakan bagaimana?"   Degh! bagai kesambar petir disiang bolong. Tubuhku langsung tegap, walau hanya selangkah, kakiku mundur. Kepalaku tolehkan ke Ayah yang hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi menatap padaku. Tanpa sadar kepalaku menggeleng pelan.   "Ma'af om, tanpa mengurangi rasa hormat Alvira tidak bisa menikah secepatnya dengan putra Om. Dan bukannya Vira belum menjawab 'iya' perihal perjodohan ini. Kenapa sudah membicarakan pernikahan? Maaf Vira tidak bisa."   "Tapi kenapa Vir? Kenapa kamu tidak mau dijodohkan dengan Andika? Apa kurangnya Andika?" desak om Hendra.   "Jika saya menyebutkan kekurangan putra Om Hendra, maka saya tidak objektif. Saya tidak tahu apa-apa tentang putra Om Hendra. Saya belum mengenal siapa Andika. Jadi bagaimana mungkin saya menikah dengan orang yang saya tidak kenal?" jawabku walau suara tidak meninggi namun sarat akan ketegasan keputusan yang aku ambil.   "Jadi hanya masalah kamu belum kenal Andika, kamu tidak mau menikah dengan Andika? Kamu masih punya kesempatan untuk mengenal setelah menikah Vir."   "Bagi saya mengenal calon pasangan itu sebelum menikah. Apa jadinya kita mengenal pasangan setelah menikah, lantas kita tidak cocok? Bercerai? Itu bukan pilihan terbaik Om. Allah tidak menyukai perceraian. Belum lagi kalau kami sampai punya anak? Apa anak harus jadi korban dengan merasakan kasih sayang single parents? Apa karena sudah terlanjur menikah atau karena anak maka harus bertahan dengan pernikahan yang tidak ada kecocokan itu? Merasakan tersiksa karena ikatan pernikahan? Sifat dasar manusia mengejar kebahagian, dan sekarang saya di suruh untuk memilih sesuatu yang potensi saya menemukan penderitaan besar? Maaf saya tidak bisa."   Seketika itu aku langsung membalikkan tubuhku. Namun belum sempurna, gerakan terhenti akibat sebuah tangan yang memegang pundakku. Kulihat tangan sangat putih dengan jari-jari lentiknya yang sangat indah. Tanpa menoleh melihat siapa pemiliknya, Aku tahu tante Fitri yang menghentikan pergerakanku. Aku angkat wajahku untuk melihat kedepan. berusaha mengatur nafas, karena merasa situasi ini membuat dadaku sesak. Namun yang kudapat bukan lebih baik. karena aku menangkap sosok Andika yang berdiri tegap dengan tatapan tajam kearahku. Tak ingin terintimidasi atau terjebak dalam situasi ini semakin lama aku melepas sentuhan tante Fitri di pundakku. dan Aku melangkah mendekati hendak keluar.   "Arrghhh...."   "Papa... Papa kenapa?"   Ketika ku pegang gangang pintu, aku mendengar jeritan Om Hendra, serta kepanikan Tante Fitri. Aku menoleh apa yang terjadi. Sekali lagi aku di buat berdiri kaku layaknya manekin dan nafasku tercekat. Bagaimana tidak? Aku lihat Om Hendra yang kesakitan dengan tangannya meremas d**a sebelah kiri. Sedangkan Tante Fitri, Andika dan Ayah panik di samping bankar.   "Cepet panggil Dokter, Dika!" perintah Tante Fitri dengan panik dan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.   Dika yang diperintah langsung menekan tombol yang ada diatas nakas. Seketika itu perasaan salah muncul begitu besar padaku. Om Hendra kambuh karenaku.   Cekrek..   Bunyi pintu terbuka dari luar. Aku yang masih berdiri dibelakang pintu melangkah mundur kalau tidak ingin terbentur pintu. saat itu terlihat laki-laki yang terbalut jas putihnya. diikutin perawat di belakangnya berlari mendekati bankar Om Hendra.   "Tolong semuanya menunggu di luar," ucap perawat. Sedangkan dokter memeriksa kondisi Om Hendra.   Tante Fitri dalam dekapan Dika melangkah menuju pintu. Sedangkan Ayah mendekat kearahku, kemudian tangannya mendekap pundakku, membimbingku keluar. Kemudian dengan tangan kirinya yang bebas ayah menutup pintu kamar rawat Om Hendra. Aku masih berdiri di depan pintu. Menyesal. Merasa bersalah teramat. Tidak seharusnya aku dengan mudahnya mengatakan sudut pandangku di hadapan orang yang sedang sakit. Aku yang butuh sandaran, akhirnya memeluk ayah yang masih disampingku. Tangan ayah mengusap kepalaku.   "Dika," lirih ayah membuatku menjauhkan diri dari dekapan ayah dan benar saja Andika ada di depan didepanku.   "Boleh saya bicara bersua dengan Alvira, Om?"   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN