Hidup Baru 3

3080 Kata
ALVIRA POV   Kak Andika sedang memasukkan koper besarku dikursi belakang. Sedangkan aku, bunda, Ayah sudah berdiri disamping pintu penumpang. Bunda dan Ayah mengantarku yang akan pindah huni mengikuti dimana kak Dika tinggal disana pula tempatku tinggal.   "Bun, Vira berangkat ya. Kalau ada apa-apa segera hubungin Vira. Vira sayang sama bunda" Ucapku sambil memeluk bunda.   "Iya. Kamu harus jadi istri yang baik. Kurangi sifat keras kepalamu, jangan suka mendebat suami. Patuhi dia. Hal-hal yang mampu menyenangkan dia itu adalah jalan surga untukmu". nasehat Bunda yang hanya aku jawab iya.   Aku sangat mengenal bundaku tersayang ini. Demi bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, Bunda akan memberi nasehat panjang, ketika Aku dan Vania fokus menyimak. Beda lagi kalau kami berdua menyampaikan pendapat kami yang bertentangan dengan bunda, bisa jadi nasehatnya tidak hanya panjang tapi sudah dikalikan lebar hingga luas isi nasehatnya kemana-mana. Maka dari itu memilih untuk mengiyakan.   Setelah melepas pelukan bunda, aku beralih untuk mengambil tangan Ayah kemudian mencium punggung tangannya. "Ayah yang sudah memberikan tantangan ini sama Vira. Doakan Vira ya bisa berhasil"   Melalui tangan yang bebas ayah mengacak puncak kepalaku yang tertutupi hijab dengan pelan. Senyum menenangkan mengiasi sudut bibir. Pancaran mata yang meberikan keoptimisan membuat aku yakin, Ada doa orang tua yang akan mengiringi jalanku membangun rumah dengan kak Andika.   "Kami semua akan mendoakan kalian selalu berhasil melewati lika-liku berumah tangga. Karena jalan orang yang berumah tangga tidak akan semulus jalan tol. Yang penting kalian berdua sama-sama saling belajar mengenal dan memahami satu sama lain. saling support dan juga selalu bicarakan apa pun yang terjadi. Karena masalah sebesar apapun akan terurai benang merahnya untuk di selesaikan dengan komunikasi" Pesan Ayah yang bijak membuat aku langsung menubruk beliau. Berada di pelukan hangat. Air mataku pun mengalir. Aku bersyukur Allah memberikanku ayah sebijak Faiz Al-Farisi. Ayah yang demokratis dan mempunyai cara unik untuk membuat Aku dan Vania mengikuti apa perintah Ayah. Dan juga cara yang luar biasa untuk menyadarkan kedua putrinya ketika melakukan kesalahan.   "Sudah jangan cengeng. Putri ayah yang satu ini kan strong woman. masak iya berubah baper pas udah nikah" mendengar ucapan ayah membuatku langsung menarik diri. Dengan mata yang sembab bekas air mata, dan bibir mengerucut sebal dikatakan baper. Melihat sikapku, ayah hanya terkekeh. "Sudah merajuknya, Udah nikah juga. Malu sama suamimu" mendengarnya lagi aku hanya mendengus sebal dan memberi ruang untuk kak Dika untuk pamit pada kedua orang tuaku.   Setelah sesi berpamitan selesai, aku dan kak Dika langsung masuk ke Ferarry merah yang dibawanya. Keluar dari gerbang komplek perumahan dan membelah jalanan Jakarta yang padat. Entah berapa lama waktu yang kami habisakan untuk perjalanan karena didalam mobil aku hanya duduk bersandar dengan mata terpejam.   Tiinnn... suara klakson mobil kak Dika membuat aku membuka mata. Kulihat pintu pagar terbuka. kemudian mobil melaju kembali memasuki halaman istana keluarga Herlambang dan kali keduaku menginjakkan kaki diistana ini. Bukan hanya menginjakkan kaki tapi menjadi penghuni baru diistana ini.   "Ma.. Pa.." Ucap kak Andika ketika kami sudah masuk dan sekarang sudah berada di ruang keluarga. Disana berkumpul mama papa dan Tiara duduk lesehan di karpet bulu alas meja. Mungkin merasa namanya dipanggil mama dan papa pun menoleh. Tak lupa si kecil Tiara walau namanya tidak dipanggilpun juga menoleh.   "Tante Cantikkkk..." Teriak Tiara sambil berlari kearahku meninggalkan buku-buku dan oma opanya yang sedang menemaninya belajar.   "Tante... Tiara kengen" rengeknya yang sekarang sudah memeluk kedua pahaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah. Dia menggemaskan dan tingkahnya mirip seseorang yang aku sayang.   Aku mengurai lilitan tangannya kemudian menjadikan lututku sebagai tumpuan pada lantai untuk mensejajarkan tinggi kami. Saat itu Tiara langsung menubrukku kembali. Kali ini melingkarkan tangan mungilnya di leherku. "Tante cantik, kok gak pernah kesini?"   Dengan mode yang sama Tiara yang memelukku, Aku mengacak pelan puncak kepalanya. "Tante juga kangen sama kamu". Tiara kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap wajahku. senyum manisnya tersuguhkan tepat di posisi wajah kami yang sangat dekat.   "Tiara, sudah dong. kasihan tante Vira, capek nantinya" Ucap mama yang sudah berada di dekat kami. Karena terlalu fokus menanggapi makhluk kecil Tiara sampai tidak tahu kalau kedua mertuaku sudah ada di depanku.   Aku mengurai lagi pelukan Tiara, kemudian berdiri dan menggandeng tangan Tiara mendekati kedua mertuaku. "Assalamualaikum ma" Sambil mengulurkan tangan untuk mencium punggung mama Fitri. kemudian bergantian mencium punggung tangan papa.   "Dika, kamu bawa Vira kekamarmu untuk istirahat sana". Perintah mama dan kak Dika hanya mengangguk.   "Gak boleh, tante cantik harus temani Tiara belajar menghitung" Protes Tiara.   "Tiara..."   "Ma, boleh ya Alvira menemani Tiara belajar" potongku ketika aku rasa gelagat mama mau merayu Tiara.   Aku menemani Tiara belajar berhitung, dilanjutkan dengan makan siang bersama, sholat dhuhur berjama'ah musholla kecil di rumah ini. terakhir aku menemani Tiara untuk tidur siang. dan membuatku ketiduran.   "Astaugfirullah" Ucapku ketika bangun tidur dan melihat jam dikama Tiara menunjukkan pukul 16.23.   Akupun bergegas ke kamar mandi yang ada di kamar Tiara untuk mencuci mukaku. Melihat wajahku lebih segar, aku keluar dari kamar Tiara. bingung mau kemana, Aku memilih untuk masuk kekamar kak Dika saja. Tapi yang menjadi masalahnya, aku tidak tahu dimana letak kamar kak Andika. Yang jelas kamarnya berada di lantai atas, karena koperku di bawa maid menaiki tangga.   "Ma'af. apa nyonya membutuhkan sesuatu?" seorang maid perempuan muda yang aku tidak tahu datangnya dari mana. Karena tiba-tiba sudah ada disampingku.   "Astaugfirullah" ucapku sambil memejamkan mata dan menepuk pelan dadaku. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang muah terkejut. Namun kondisi sekitarku yang sepi dan tiba-tiba ada suara beserta seorang maid perempuan muda yang aku tidak tahu datangnya dari mana. sudah ada disampingku.   "Ma'af, kalau saya membuat nyonya kaget. Saya liat nyonya sepertinya kebingungan. Akhirnya saya kesini" Ucap maid hati-hati seperti ketakutan.   Aku tersenyum agar membuat maid satu ini lebih tenang, tidak dengan ekspresi ketakutannya. "Tidak apa-apa. tidak usah seperti orang ketakutan. Oh ya jangan panggil saya nyonya. Saya tidak nyaman mendengarnya. panggil imbuhan mbak saja, sepertinya usia kita tidak beda jauh" Aku lihat maid itu mengangguk.   "Oh ya, bisa tunjukkin aku dimana kamar kak Andika?" Tanyaku yang mana dengan cekatan mengantarku menaiki tangga dan berjalan di lantai dua hingga berhenti di depan salah satu kamar.   "Ini kamarnya den Andika" Akupun mengangguk dan mengucapkan terima kasih terhadap maid yang mengantarku kedepan kamar kak Andika.   Setelah maid meninggalkanku, baru aku sadar aku lupa menanyakan namanya. Aku membuka pintu kamar. Hal yang pertama kali aku lihat adalah kamar dengan nuansa biru. Jika menggunakan analisa pendekatan warna seharusnya kak Andika merupakan orang yang ekspresif bukan orang yang pendiam. Seharusnya dia sosok yang hangat bukan orang yang kaku.   Aku meninggalkan pintu kamar yang tidak tertutup. Berjalan menelusuri setiap sudut kamar. Hingga mataku berhenti pada sebuah foto yang ada diatas nakas samping tempat tidur. Foto kak Dika bersama seorang perempuan dalam pigora R4 posisi landscape. Aku ambil pigora tersebut dan kuamati. aku ralat, obyek foto tersebut seharusnya tiga orang. Karena dibagian kanan foto, tepat disamping pose perempuan terdapat kertas dengan tertulis "Suatu hari kau akan melihat cinta itu".. yang sepertinya sengaja menutupi obyek orang tersebut . Aku yang penasaran berniat untuk membongkar pigora tersebut. Mencari tahu, siapakah obyek yang tersembunyi itu?.   "Apa yang kamu lakukan?" Suara bass yang aku yakini itu suara kak Andika membuatku membalikkan badan. Benar, Sang empu kamar kini berada di ambang pintu, berjalan mendekat. Seketika ia mengambil pigora yang masih ditanganku. "jangan sentuh barang-barang di kamar ini tanpa seizinku"   "Sorry, aku hanya melihat-lihat kamar ini saja, terus aku penasaran sama orang yang tertutupi kertas itu" Ucapku jujur.   "Dari pada kamu hanya mengamati kamar ini, melakukan hal yang tidak penting. Buatkan aku lemon tea seperti kemarin" Perintahnya. Aku hanya menurut saja, malas berdebat. "Dan satu lagi, jangan masuk ke kamar sebelah, itu ruang pribadi sekaligus ruang kerjaku di rumah ini" imbuhnya, ketika aku baru selangkah berjalan mau keluar membuatkan pesanannya. Aku menoleh dan mengangguk.   Tipe kita sama. Kita tidak suka barang milik pribadi di sentuh. Barang dipindahkan atau di gunakan tanpa izin. Dan itu menjadi prinsipku. maka dari itu sebelum meninggalkan kamarku seluruh perabotan aku tutup kain dan kamar aku kunci. meja kerjaku baik di RB maupun di kantor tidak boleh ada yang menjangkaunya. So, Aku cuek saja ketika kak Andika melarangku untuk mengjangkau barang-barang miliknya. Meskipun seharusnya ketika seorang sudah menjadi sepasang suami istri barang milik pribadi bisa menjadi milik bersama. Tapi dengan prinsipnya aku bisa melakukan hal yang sama.   Andika POV.   Aku masih bingung bagaimana bersikap dengan Alvira. Semalam saja saat kita berkomunikasi dia seenaknya sendiri memutuskan untuk berhenti bicara dan meninggalkan tidur. Saat ini kami sudah mau pindah ke rumah keluarga besar Herlambang. Aku tidak tahu akan membawa Alvira tinggal menetap bersama keluargaku, atau dia aku bawa kerumahku sendiri dan kami hanya tinggal berdua.   Yang kedua bisa jadi alternatif bagiku, mengingat interaksi kami yang masih terlalu kaku. Aku saja hanya diam dan tersenyum ketika berada di tengah keluarga Alvira padahal itu hanya sehari. Terus aku harus memunculkan sikap seperti apalagi jika kami menetap tinggal di rumah mama-papa.   Aku memilih untuk membawa satu koper besar Alvira. Tidak mungkinkan di hadapan keluarganya atau keluargaku, membiarkan perempuan yang berstatus istriku membawa koper berat sedangkan aku melenggang dengan bebas. Bisa kena marah mama kalau sudah sampai di rumah nanti. Karena aku yakin bunda dan mama akan bergosip ria mengenaiku dan Alvira.   melihat barang bawaannya yang hanya satu koper, membuatku mengeryit bingung. Dan sudah aku pastikan bertanya kepadanya yakin yang mau di bawa hanya satu koper saja?. Ini kamu mau pindah tempat tinggal bukan hanya berlibur, apa tidak kurang?. Alvira hanya menjawab, Dia pindah masih di Jakarta, kalau memang butuh barang yang tidak di bawa, bisa ambil kerumah ini. Menjengkelkan tidak jawabannya. Karena menurutku caranya tidak efektif. Masa membutuhkan sesuatu harus kesini dulu.   Tak mau ambil pusing, Aku memasukkan kopernya ke kursi penumpang di belakang, sedangkan dia sedang melakukan sesi berpelukan dan pemberian nasihat dari orang tuanya yang aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.   Aku melihat ekpresinya yang mulai dari haru, sedih hingga mengerucut sebal ketika dengan berpamitan dengan ayah. Ketika Alvira menggeser tubuh, aku mengerti ia memberi ruang bagiku untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.   "Kalian berdua masih tahap belajar. Baik untuk saling mengenal dan memahami serta belajar menjalani peran kalian sebagai suami istri dengan baik. Maka dari itu bersabarlah ketika menjalani prosesnya agar kalian berhasil" Pesan Ayah ketika aku baru selesai mencium punggung tanganya. sejujurnya aku tidak terlalu paham maksud ayah, namun akau hanya mengangguk.   "Bunda titip putri bunda yang keras kepala ini. Meskipun dia keras kepala tapi hatinya baik kok, Karena Alvira putri kesayangan kami" Ucap bunda ketika aku berpamitan pada beliau. maklum saja dia mengatakan sesuatu yang terbaik tentang putrinya, bukankah sikap yang biasa di tunjukkan orang tua.   Sesi berpamitan selesai, aku mengemudikan mobilku. Alvira yang duduk dikursi penumpang sampingku langsung menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama sepertku. Bingung kami harus bersikap seperti apa, mengingat kami yang tidak terlalu saling kenal dan terjebak dalam pernikahan yang mendadak karena perjodohan.   Dia membuka matanya ketika aku mengklakson tepat di depan gerbang rumah mama papa. karena memang begini sistem kalau mau masuk kerumah ini. Harus memperlihatkan wajah siapa yang datang kalau mau masuk. kalau orang yang tidak di kenal oleh satpam akan di tanyakan terlebih dahulu di luar pagar baru menghubungi orang di dalam rumah memberitahukan kalau ada tamu. Namun karena aku anak pemilik rumah dan tinggal disini, mereka sudah hafal suara klakson mobilku dan seketika gerbang terbuka.   Aku tidak perlu bersikap manis untuk membukakannya pintu. Dia bisa membuka sendiri. Namun untuk membawa koper tetap aku karena didalam sana pasti ada mama dan papa. Tidak mau salam sambutan diisi dengan omelan mama membiarkan menantu baru membawa koper sendiri.   "Ma.. Pa.." ucapku ketika sudah berada di ruang keluarga. Aku melihat mama, papa menamani keponakan kecilku yang belajar. Mereka semua menoleh termasuk si kecil Tiara.   "Tante Cantikkkk..." Teriak Tiara sambil berlari kearah Alvira. Aku hanya menatapnya heran, bagaimana mungkin dia menyambut Alvira terlebih dahulu?, bukankah aku om kesayangannya. itu tadi tingkahnya ketika melihat aku pulang.   "Tante... Tiara kengen" Rengek menja Tiara dengan memeluk kedua paha Alvira. Aku hendak protes, namun tidak jadi ketika melihat Alvira mengurai pelukan Alvira di pahanya kemudian berlutut mensejajarkan tingginya dengan Tiara. Dan saat itu Tiara memeluk memeluk Alvira dengan melingkarkan tangannya di leher Alvira serta membenamkan kepalanya di ceruk leher Alvira yang tertutupi jilbabnya. "Tante cantik, kok gak pernah kesini?" rengek Tiara lagi.   Alvira hanya membalas dengan mengacak kepala Tiara "Tante juga kangen sama kamu". Keponakan kecilku itu melonggarkan pelukannya dan menatap dengan senyum manis tersuguhkan tepat di depan wajah Alvira. Aku melihat ada kebahagiaan yang tak bisa dijabarkan Tiara ketika dirinya berinteraksi dengan Alvira.   "Tiara, sudah dong. kasihan tante Vira, capek nantinya" Tegur mama ketika Tiara memonopoli Alvira.   Aku lihat Alvira mengurai pelukan Tiara dan menggandengnya mendekat kearah mama papa. Alvira mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku bergantian.   "Dika, kamu bawa Vira kekamarmu untuk istirahat sana". Perintah mama dan kak aku hanya mengangguk.   "Gak boleh, tante cantik harus temani Tiara belajar menghitung" Protes Tiara yang membuatku menyatukan alis dengan melihat Tiara.   "Tiara..." Panggil mama sepertinya mau membujuk Tiara   "Ma, boleh ya Alvira menemani Tiara belajar" potong Alvira ketika mama baru menyebut nama Tiara, kemudian mama mengiyakan. mungkin melihat sikap manja Tiara dan Alvira mengiyakan mama tidak protes.   Hasilnya aku menyuruh salah satu maid rumah ini untuk membawa koper Alvira kekamarku. sedangkan Aku memilih bergabung dengan keluargaku yang menemani Tiara belajar.   "Tante, Ayo ajari Tiara berhitung"   "Okey, kita mulai berhitung berapa banyak bantal sofa di ruangan ini ya" Perintah Alvira. Sikecil Tiarapun langsung berdiri dan mulai mengitung bantal sofa yang ada. "1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8" Ucap Tiara sambil berjalan mengelilingi sofa. Dengan telunjuknya ia menghitung bantal sofa. "Ada delapan bantal sofanya tante" jawab Tiara bersemangat.   "Pintar. Sekarang kalau misalnya 3 bantal sofa ketumpahan air harus di jemur tinggal berapa sekarang?" Pertanyaan lanjutan Alvira sambil memunguti tiga bantal sofa ia pegang.   Tiara kembali mengitung dengan telunjukkanya. mulutnya komat-kamit tanpa suara menghitung bantal sofa. "lima" teriak Tiara sambil menunjukkan kelima jarinya yang terbuka.   "Wah, pintar banget Tiara" Puji Alvira dengan suara riangnya. Aku yang mengamatinya hanya mempu menampilkan senyum simpul. begitupun kedua orang tuanya yang melihat Alvira menemani Tiara belajar dengan cara yang kreatif.   "Wah, satu bantal ini sudah kering. sudah bisa diletakkan kembali di sofa. Sekarang ada berapa bantalnya yang di sofa?"   "Lima"tunjuk tiara pada bantal yang ada di atas sofa. kemudian mengambil satu bantal yang Alvira katakana kering dan meletakknya di sofa "satu" guman Tiara. "Lima tambah satu. Enam tante bantal sofanya sekarang"   Alvira tersenyum kearah Tiara. ia mendekat kearah Tiara dan berlutut di depan Tiara. "Wah... Tiara sudah pandai berhitung. Kemampuan berhitung bisa Tiara gunakan kalau Tiara ingin tahu berapa banyak mainan yang Tiara punya. Terus kalau seandainya mainannya tidak ada, Tiara bisa tahu. karena kadang mainan Tiara di pinjam atau rusak maka itu berkurang. tapi kalau ada yang memberi atau membelikan Tiara mainan saat itu mainan Tiara bertambah. Cara menghitungnya nanti sama seperti cara menghitung bantal sofa. Apapun yang Tiara hitung nanti caranya sama seperti menghitung bantal sofa ya". Tiara mengangguk.   "Ma'af tuan, nyonya. makan siang sudah siap" Ucap maid yang bertugas mengurusi makanan memberi tahu. Mama mengiyakan dan mengajak kami untuk segera makan siang. karena ketika aku lihat jam, sudah masuk jam makan siang.   "Tante, suapin Tiara" manja Tiara lagi. Alvira yang sedang mengambilkan aku makanan. menghentikan aktivitasnya dan tersenyum kearah Tiara mengangguk.   "Sayang, tante Vira juga mau makan" Nasihat mama pada Tiara.   "Tidak apa ma. Biar nanti Vira makan sambil menyuapi Tiara" pembelaan Alvira untuk Tiara.   "Sudah, Kak Dika mau makan ini aja?" Tanyanya sambil memperliatkan nasiyang lengkap dengan sayur serta lauknya.   "Iya. Kamu makan saja. Tidak usah turutin Tiara. Dia biasanya juga makan sendiri" Ucapku   "Tidak apa-apa" balasnya Alvira. yang mana ucapanku tidak di turuti. namun ini bukan masalah yang besar, aku hanya membiarkannya.   kemudian ia mengambilkan makanan untuk Tiara dan mengisi piringnya. Secara bergantian ia menyondokkan makanan di piring Tiara untuk menyuapi Tiara. dan menyendok makanannya sendiri yang ia masukkan kemulutnya.   Setelah makan, kita sholat dhuhur berjama'ah. Sekali lagi Tiara manja. usai sholat, sudah menjadi rutinitas Tiara harus tidur siang. Dia minta di temani Tiara. selang beberapa menit aku mengecek apa Tiara sudah tidur, ternyata tidak hanya Tiara yang tidur. Alvira yang diminta menemani ikut ketiduran bersama Tiara.   Dari ambang pintu kamar Tiara aku mengamati mereka berdua. mengingat perlakuan Alvira terhadap Tiara membuat aku heran, bagaimana mungkin Seorang Alvira yang keras kepala dan tegas bisa bergitu keibuan ketika berhadapan dengan Tiara. Seperti melihat sosok yang berbeda.   Melihat mereka damai dalam tidur, aku memilih untuk mengejek pekerjaan yang beberapa hari ini yang tidak terurus. Aku menghabiskan waktuku diruang kerja. Hingga waktu sudah setengah empat sore. Aku memilih untuk sholat ashar terlebih dahulu di ruang kerja. Usai sholat aku butuh mengambil berkas yang ada di nakas meja kamar. dari belakang aku melihat postur tubuh Alvira yang berdiri tepat depan nakas sisi tempat tidur yang biasanya aku gunakan.   "Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku. kemudian Alvira membalikkan badannya. Aku melihat ia memegang pigora fotoku bersama Tasya dan foto sepupuku yang tertutupi kertas ungkapan hatiku. Saat itu aku kaget, malas untuk menjawab pertanyaannya tentang sosok yang ada di foto itu. Akupun melangkah mendekat mengambil pigora tersebut "jangan sentuh barang-barang di kamar ini tanpa seizinku"   "Sorry, aku hanya melihat-lihat kamar ini saja, terus aku penasaran sama orang yang tertutupi kertas itu" jawab Alvira.   "Dari pada kamu hanya mengamati kamar ini, melakukan hal yang tidak penting. Buatkan aku lemon tea seperti kemarin" Perintahku mengalihkan pembicaraan agar dia tidak bertanya lebih dalam tentang foto ini serta antisipasi agar Alvira tidak protes. Alvira hanya menurut saja, kemudian baru selangkah hendak keluar aku memberitahuan satu aturan lagi. "Dan satu lagi, jangan masuk ke kamar sebelah, itu ruang pribadi sekaligus ruang kerjaku di rumah ini" Alvira menoleh dan mengangguk.   Tak lama Alvira datang membawa lemon tea pesananku. Aku langsung membawa map yang mau aku ambil beserta pigora foto yang di pegang Alvira untuk diletakkan di ruang kerjaku. ruangan yang tidak akan terakses oleh Alvira.   "Mau kemana?" tanya Alvira ketika aku sudah hendak membuka pintu penghubung keruang kerja.   "menyelesaikan pekerjaanku"   "O.. Jangan lupa sholat Ashar dulu" peringatnya.   "sudah" setelah itu aku membuka pintu penguhung keruang kerja.   Aku meletakkan semuanya diatas meja, kemudian bersandar di kursi kerjaku. Suara ponselku berdering. Dengan malas aku mengambilnya terpampang nama "Keizia"   "Hallo... ada apa kei"   "Kak ada undangan dari grand opening hotel milik Marcello Grup. Besok. Dan kakak wajib datang"   "Oh. Iya" balasku singkat.   "Hmm.. dan besok kakak datangnya sama Kak Alvira saja. Sudah punya pasangan kan?"   "Kenapa tidak sama kamu saja"   "Mager kak. Udah tidak zamannya menemani kak Dika. Ada kak Alvira yang siap menemani"   "Ya sudah kalau kamu tidak mau. Siapkan pakaian Alvira. Dia tidak membawa pakaian yang bisa di gunakan untuk ke acara pesta"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN