BAB 7

1281 Kata
Sabrina mematut wajahnya di cermin. Rambut hitam sebahu di gerainya. Lipstik berwarna retro pink melapisi permukaan bibirnya. Bulu matanya terlihat lentik dengan sapuan maskara. Dia mengenakan gaya khasnya, vintage. Pagi ini, Daniel mengajak Sabrina datang ke kantor manajemen Nick Willis. Perasaannya saat ini sulit untuk dijabarkan. Berbagai macam perasaan bercampur aduk di hatinya. Yang pasti, detakkan jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Sabrina tidak suka jantungnya berdetak lebih cepat. Detakkan yang menyiksa. “Aku pasti bisa bertemu dengannya lagi tanpa rasa gugup. Demi Daniel. Aku sudah mengecewakannya dua kali. Dan kali ini aku tidak boleh mengecewakan Daniel. Ingat Sab, kamu pernah bermimpi memiliki buku best seller agar dapat menyumpal mulut Megg yang selalu meremehkanmu!” Sabrina berkata sambil menatap dirinya sendiri melalui cermin, seolah di cermin itu ada sosok lain dari dirinya. Dia meraih jedai di atas tumpukan buku dan menjepit rambutnya dengan asal. “Tidak perlu berdandan cantik. Aku sudah cantik, kan?” ujarnya diakhiri senyuman sebelum melesat keluar kamar. Sabrina mengangkat sebelah alisnya ketika sampai di dapur dan melihat meja makan yang penuh dengan berbagai makanan. Baked Potato, muffin, waffel dengan selai apel dan segelas besar kopi hitam. “Selamat pagi, Nona Sabrina.” sapa Laras masih mengenakan piama pink favoritnya. Yang disapa mengernyit heran. “Hei, jangan bingung begitu, ayo makan!” serunya seraya duduk. “Kamu membuat ini semua?” tanya Sabrina setengah tidak percaya. “Iyalah! Memangnya ada orang lain yang tinggal di flat kita selain aku dan kamu?” Laras meraih gelas berisi s**u putih dan meminumnya. Sabrina duduk dengan raut wajah yang masih keheranan. Matanya menatap silih berganti makanan-makanan di atas meja. Laras tidak suka masak, membuat roti tawar dengan selai cokelat pun jarang kalau bukan Sabrina yang membuatkannya. Tapi hari ini, dengan wajah bersinar—walaupun belum mandi Laras berhasil membuat berbagai macam makanan. “Memangnya hari ini hari apa, ya?” Sabrina bertanya dengan tatapan curiga. “Tentu saja hari ini hari rabu.” jawab Laras santai, ringan tanpa dosa. “Maksudku, apa hari ini hari spesial sampai kamu sanggup menghidangkan makanan-makanan ini di atas meja di waktu yang terbilang masih pagi.” Laras terbahak sebelum menjawab pertanyaan Sabrina. “Pastinya hari ini hari spesial. Pertama, Devon mengajakku berkencan nanti malam. Kedua, sahabatku bernama Sabrina Jani akan bertemu dengan aktor besar!” Matanya berbinar-binar cerah. Laras menangkupkan kedua tangannya di bawah dagu, “Kalau saja hari ini aku tidak bekerja, aku pasti akan ikut menemui Nick Willis.” katanya seakan-akan melihat sesuatu yang indah di pelupuk matanya. Tanpa protes Sabrina menyesap kopi hitamnya. “Terima kasih atas waffel dengan selai apel dan kopi hitamnya.” Sabrina meraih waffel selai apel di atas piring. “Lho, kok ucapan terima kasihnya cuma buat waffel dan kopi?” protes Laras dengan alis bertaut. “Aku hanya akan minum kopi dan memakan waffel dengan selai apel.” jawab Sabrina diselingi senyum. “Oke, aku terima ucapan terima kasihnya. Dan tolong sampaikan salamku pada Nick.” pinta Laras, Sabrina mengangkat wajah, terkejut. “Aku tidak mau bertemu Nick,” ucapnya spontan. “Hah?!” pekik Laras nyaring. Kedua mata Laras membelalak dan kedua daun bibirnya terbuka. “Maksudnya apa, Sab?” tanyanya heran dengan nada tinggi. Sabrina memilih menyesap kopinya terlebih dahulu, “Aku pernah...” katanya terbata. Sabrina membiarkan kedua daun bibirnya terbuka, dia kehilangan kosa kata lalu memilih mengatupkan kedua daun bibirnya kembali. “Pernah apa?” tanya Laras tampak penasaran. Tidak mau bertemu Nick dan Sabrina mengatakan pernah... apa maksudnya? Batin Laras. “Aku harus berangkat sekarang sebelum Daniel berubah menjadi manusia usang karena menungguku. Jangan lupa periksa ruanganku barangkali ada kecoa yang tersesat dan tolong kembalikan kecoa itu pada tempat tinggalnya kalau kamu melihat kecoa tersesat di ruanganku.” Sabrina melesat pergi dengan raut jenaka. Meninggalkan Laras yang tidak mengerti dengan puluhan tanda tanya mengelilinginya. ** Untuk kesekian kalinya Sabrina menghela napas panjang demi menghilangkan kegugupan yang mendesaknya. Daniel menoleh beberapa kali pada Sabrina. Sabrina menghentak-hentakkan kakinya perlahan. “Kenapa, Sab?” tanya Daniel. Sabrina menoleh tanpa menjawab. “Suatu kewajaran kalau kamu merasa gugup menjelang menit-menit pertemuan dengan Nick. Tapi, gugup bertemu Nick juga suatu keanehan karena semua wanita yang akan bertemu dengannya secara langsung pasti senang.” “Aku baik-baik saja kok. Tidak senang juga tidak gugup, hanya saja aku bingung apa yang harus aku tanyakan pada Nick. Aku belum sempat menulis pertanyaan untuknya.” Elaknya. “Tenang saja. Hari ini hanya pertemuan biasa kok. Kita hanya minum dan mengobrol santai. Bukan untuk wawancara.” katanya, mencoba menenangkan Sabrina. “Aku menulis buku tentang dia, kan? Kalau bukan dari wawancara dari mana aku mendapatkan bahan untuk menulis tentang Nick Willis?” “Beberapa hari ke depan kamu akan sering bertemu Nick Willis.” “Apa?!” Daniel hanya menanggapi keterkejutan Sabrina dengan senyuman. Sesampainya di tempat parkir, Daniel mendorong pintu mobil, keluar. Tapi Sabrina masih berada di dalam mobil. Pintu mobil bahkan belum terbuka sama sekali. Daniel melangkah dan membuka pintu mobil di mana Sabrina duduk. “Ayo!” seru Daniel setelah membuka pintu mobil. Sabrina menelan ludah sebelum turun dari mobil dan mengikuti Daniel yang berjalan di depannya. “Kamu akan sering mendatangi tempat ini, Sab.” kata Daniel seraya berhenti menunggu Sabrina melangkah dan sampai di sampingnya agar bisa melangkah secara bersamaan. “Kantor manajemen Nick Willis?” “Ya, dan kalau kamu membutuhkan sesuatu, Anne Anderson akan siap membantumu. Dia manajer Nick Willis. “Apa tidak terlalu kepagian kita datang ke kantor manajemennya sekarang?” ‘Tidak,” jawab Daniel seraya menggeleng. “Anne Anderson sudah menunggu kita di ruangannya. Tapi aku tidak tahu Nick sudah ada di sana apa belum. Ayo!” ajak Daniel. Mereka melangkah secara bersamaan. Sesampainya Sabrina dan Daniel di dalam ruangan Anne, dengan ramah Anne mempersilakan Sabrina dan Daniel duduk. Ruangan itu di d******i cat berwarna biru tua. Beberapa frame yang membingkai foto Nick Willis menghiasi dinding biru tua itu. Kedua bola mata Sabrina terpaku pada salah satu foto yag berjejer rapih di sudut ruangan. Dia melihat foto Nick bersama seorang wanita cantik berwajah khas wanita Amerika Latin. “Dia kekasih Nick,” Sabrina menoleh ketika suara Anne menjelaskan tanda tanya yang tergambar dari ekspresi wajahnya. “Namanya Paula Gardner. Seorang wanita kaya berkebangsaan Meksiko. Dia memiliki banyak bisnis di London. Salah satunya bisnis fashion yang sudah mendunia. Dia sangat cantik! Aku yang seorang wanita saja jatuh cinta padanya apalagi Nick.” kata Anne yang berhasil membuat Sabrina merasa kecil. Tidak berarti. “Ya, dia sangat cantik.” puji Sabrina jujur. “Menurutku dia biasa saja. Kalau standar kecantikkan seorang wanita dilihat dari parasnya berarti ibuku tidak cantik. Padahal di mataku ibuku tampak selalu cantik, meski usianya sudah berada di atas 50 tahun.” dari nada suara Daniel, Anne tahu kalau Daniel tidak ingin melihat Sabrina menjadi inferior atas pujiannya untuk Paula. “Anda benar! Dan sudah pasti saya setuju. Walaupun Paula begitu cantik, tapi aku tidak pernah bisa menyelami isi hati Nick tentang perasaannya pada Paula. Hanya Nick dan Tuhan yang tahu sebesar apa cinta yang dimilikinya untuk Paula.” “Kalau Nick benar-benar mencintai Paula dia tidak akan sanggup menyakiti hati Paula.” Sabrina menoleh pada Daniel dengan ekspresi datar dan tatapan yang seolah setuju akan ucapan Daniel. “Semua skandal Nick akan terungkap melalui buku yang akan ditulis Sabrina. Publik akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nick.” Sabrina memilih diam dan tidak berkomentar apa pun. Matanya kembali menatap foto-foto Nick di dinding. Sekotak kenangan muncul dari alam bawah sadar Sabrina. Kenangan yang berhasil membuat matanya mulai berkaca-kaca. Sabrina mendongak agar air matanya tak tumpah. Dengan cepat air mata yang hendak tumpah itu teredam dan lenyap. Daniel dan Anne tampak larut dengan perbincangan mereka hingga tidak menyadari keganjilan Sabrina. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN