Adinda memberikan senyum simpulnya pada Nenek saat Nenek melambaikan tangan padanya. Ia sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan Nenek. Mata, hati, serta kedua kakinya sama sekali tak ingin meninggalkan Nenek. Saat ini keadaan Nenek sudah terlihat berbeda dengan yang sebelumnya. Tak lagi ada Nenek yang selalu ceria menanggapi kehadirannya. Bahkan sejak ia datang ke Panti Kasih, Nenek hanya sanggup tersenyum sambil bicara apa adanya. Kondisi kesehatan Nenek yang kian memburuk membuat Adinda begitu khawatir. "Apa Nenek sakit?" "Tidak Dinda Sayang, Nenek baik-baik saja." "Tapi muka Nenek pucat. Nenek terlihat tidak seperti biasanya." "Nenek hanya kurang tidur saja jadi badannya sedikit lemas." Adinda langsung menepis air matanya yang mengaliri kedua pipinya. Setelah kembali memberikan

