Part 20 Setuju Taruhan

1035 Kata
"Halo selamat sore." Alisa menyapa mereka, ternyata, Reno mengajak perempuan itu untuk ngopi di sebuah kafe. Dan Alisa menyetujuinya. Karena Aixa dan Sheza menumpang di mobil Reno maka mereka ikut pergi bersama pria itu. Saat di perjalanan menuju kafe tadi, Aixa dan Sheza menggodanya. Berkata kalau sebaiknya Reno pergi berdua dengan Alisa tanpa kehadiran mereka. Reno serta-merta menolak, dia bilang kalau dia tadi menawari Alisa justru karena dia bersama mereka. Kalau tidak, Reno tidak akan mengajak wanita itu untuk ngopi bersama. Mereka mulai memesan kopi dan cemilan di kafe bersama Alisa. "Jadi Kak Alisa sudah bekerja lama di galeri?" Sheza yang selalu penasaran terhadap orang lain mulai menunjukkan rasa penasarannya. "Sebenarnya kakak dan Pak Alzio satu alumni, dia menawari kakak bekerja bersamanya." Alisa berkata. "Apa Pak Alzio orang yang galak?" tanya Sheza lagi. Aixa menegurnya, itu membuat Alisa tertawa. Kenyataan bahwa mereka belum bertemu dengan Alzio hingga saat ini membuat mereka berpikir kalau pria itu adalah sosok yang keras. "Bahkan kebalikannya, Pak Alzio itu orang yang sangat baik." Alisa berkata. Matanya seketika berbinar ketika menceritakan soal Alzio. Tanpa diminta Alisa bercerita bagaimana perjuangan Alzio membangun galeri, bukan hal yang mudah. Dia bahkan pernah mengalami keterpurukan tapi bangkit kembali. Dan selama itu Alisa yang menemaninya, bisa dikatakan mereka merupakan partner yang sangat cocok. Aixa seketika mengetahui kalau Alisa menyukai bosnya, kekaguman yang berubah menjadi perasaan suka. Tidak sulit melihat itu, seluruh wajah dan ekspresi tubuhnya mengungkapkan. Lagipula tampaknya Alisa jelas tidak berusaha menutup-nutupinya. "Aku jadi ingin segera bertemu dengan Pak Alzio, dia pastilah orang yang sangat hebat," ujar Reno. "Ya, mudah-mudahan di pertemuan ketiga nanti dia bisa hadir." Alisa berkata. Dia seolah menghindar untuk bertemu, tapi entahlah, Aixa juga tidak paham dan dia tidak ingin berpikir yang bukan-bukan. Bertemu atau tidak, sebenarnya itu tidak terlalu penting bagi mereka. Yang penting, mereka terus bisa terus berkoordinasi dan pembayaran dari pihak galeri lancar untuk benda ini kegiatan mereka. Aixa rasa itu sudah cukup. "Berarti Pak Alzio adalah seorang lulusan teknik yang berkutat di bidang seni." Sheza mengangguk-angguk. "Kedua orang tua Pak Alzio pekerja seni, darah mereka mengalir dalam dirinya." Alisa menjelaskan. "Benarkah?" Aixa bertanya. Alisa mengangguk. "Mereka jarang pulang karena menjadi koreografer tari, bepergian keluar negeri." Terlihat pancaran kebanggaan di wajah Alisa saat mengatakan soal itu. "Keren sekali." Aixa berkata lagi. Alisa mengangguk. "Berarti Pak Alzio juga orang yang amat sibuk." Alisa mengangguk. "Bisa dikatakan kalau dia mencurahkan segala pikiran dan tenaganya untuk kemajuan galeri, sekarang bapak juga pergi untuk memburu koleksi lukisan." Mereka mengangguk-angguk. Tampaknya, kecurigaan Aixa kalau pemilik galeri sengaja menghindar tidak terlalu tepat. Dia memang tengah bekerja untuk galeri. "Berarti Pak Alzio tinggal sendiri?" tanya Reno lagi. Pembicaraan mereka rupanya berkutat di seputar kehidupan pria itu. Aixa menyesap kopinya. "Aixa kenapa jadi pendiam?" celetuk Sheza. Aixa hanya menggelengkan kepalanya. "Aku mendengarkan." "Apa Aixa memiliki pertanyaan tentang pemilik galeri?" Alisa bertanya. "Sementara ini belum, tapi aku suka mendengarkan cerita-cerita tentang perjuangan dalam usaha." Aixa berkata lagi. Aixa melirik jam dinding, sudah pukul sembilan malam. Berarti di sana sore, Alzio belum menghubunginya. Mungkin dia sibuk. Setelah hampir setiap hari menelepon dan bercerita tentang kegiatan sehari-hari pada pria itu, dan hari ini tidak melakukannya. Itu membuat ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan Aixa. Tampaknya, sejak pertemuan mereka secara online saat itu, Al telah selalu mengisi hatinya. Sekarang, Aixa kesulitan untuk tidak terus menunggu kabar darinya. Apakah Al akan meneleponnya malam ini? Atau setidaknya mengirimi pesan? Bagaimana kalau dia menelepon terlebih dahulu? Dia setidaknya bisa menelepon melalui sambungan internet, kan? Aixa memutuskan untuk mengirim pesan. "Halo, apa kabar yang sedang berjalan-jalan?" Dia berusaha memilih kalimat yang tidak terlihat terlalu reaktif. Aixa menunggu balasan, di sana kemungkinan masih sore. Bisa saja, Al belum pulang dari kegiatannya. Tapi nanti ketika dia pulang, takutnya Aixa telah tertidur sehingga mereka tidak bisa berbincang. Ternyata Al seketika meneleponnya. "Halo," sapa pria itu. "Hai, apa aku mengganggumu?" "Nggak. Aku baru saja beristirahat, tapi nanti aku harus bertemu lagi dengan seseorang." "Sepertinya aku memang mengganggumu, maaf ...." "Nggak apa-apa, aku ingin menghubungimu tetapi menunggu sampai di hotel." "Takutnya aku mengantuk dan tertidur." Al tertawa mendengar kata-katanya, "aku akan membangunkanmu kalau begitu. Sekarang aku susah tidur kalau nggak mendengar kata-kata dari Kelly." Aixa tertawa, kenapa dia memilih nama Kelly waktu itu? Sama sekali, tidak mirip dengan namanya. Aixa tahu kalau mungkin saja Al mencurigai namanya. Ya, sampai detik ini, mereka tidak saling mengetahui jati diri masing-masing. Jadi bagaimana mungkin, bisa tahu siapa yang jujur atau berbohong. "Aku akan pulang kira-kira satu jam lagi." Satu jam lagi, Aixa lagi-lagi melihat jam di dindingnya. Kalau begitu dia akan menunggu, mungkin dia nanti bisa bermain solo sebentar untuk melatih kemampuannya. Setelah menutup telepon dari Al, Aixa mulai login di gamenya. Dia memainkan permainan secara solo, dan meraih kemenangan. Aixa kemudian melihat-lihat live streaming pertandingan para top global, juga melihat rekaman ulang pertandingan macan belang. Dia memang sangat jago, bahkan para pro player kalah dengannya dalam menggunakan beberapa hero. Mungkin Aixa bisa mempelajari caranya bermain. Aixa melihat kalau dia memiliki hero favorit sama dengan Al alias si semut merah. Mungkin inilah yang menyebabkan, semut merah berkata saat itu kalau dia juga menonton live streaming macan belang. Ai kemudian mengikuti akun macan belang agar nanti pada saat live streaming dia bisa menonton bersama-sama dengan Al, dan membahas pertandingan itu. Aixa tersenyum. Tidak lama setelah menyelesaikan menonton rekaman pertandingan macan belang, Al meneleponnya. "Sudah mengantuk?" Pria itu bertanya. "Belum, menunggu telepon. Al, udah makan?" "Belum." "Kenapa nggak makan lebih dulu?" "Nanti aja, aku khawatir kalau makan dulu, akan semakin larut untuk menelepon Kelly." Begitu ya? Aixa tersenyum gembira. Dia memang sedikit lelah karena seharian beraktivitas. "Jadi, sedang apa?" "Menonton rekaman pertandingan." "Oh ya?" "Pertandingan siapa?" "Macan belang." Al terdiam sebentar, kemudian dia tertawa. "Kenapa tertawa?" Aixa merengut, Al tahu kalau dia paling malas menonton pertandingan. Padahal, beberapa kali ia menyarankan itu agar dia memperbaiki kemampuan bermainnya. "Kenapa memilih menonton akun itu?" "Al, dia punya hero favorit yang sama denganmu." Sekalipun Al jago memainkan semuanya, dia punya hero favorit. "Bagaimana soal taruhan kemarin, apa sudah setuju?" Tiba-tiba Al mengalihkan pembicaraan, dia pastilah sudah tidak sabar menanyakan pertaruhan. "Oke, aku akan setuju." Kali ini Aixa menjawab dengan nada mantap. Kalau Aixa memenangkan pertaruhan itu, satu-satu hal yang dia inginkan adalah bertemu dengan sosok Al. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN