"Pagi, Ma, Pa," sapa Jessica yang tengah sibuk di dapur bersama dengan Hanna, sang asisten rumah tangga Mike.
"Jessica masak?" heran Maura.
"Iya, Nya. Masakan Nona begitu enak," sahut Hanna.
Jessica hanya tersenyum sembari menata nasi goreng buatannya ke atas beberapa piring.
"Semalam Hansel jadi menginap?" tanya Mike yang kemudian duduk di kursi hadapan meja makan.
"Iya, Pa. Tapi Om Hansel belum keluar kamar," jawab Jessica.
"Kamu lihat sana. Kalau belum bangun, bangunin saja," perintah Mike.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia menyetujui perintah Mike.
"Biar Bibi yang menyelesaikannya, Non," ucap Hanna kemudian mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Jessica.
Jessica melepaskan celemek yang ia pakai kemudian gadis itu berjalan menuju kamar tamu.
"Om Hansel. Disuruh Papa bangun. Buruan!" ucap Jessica dengan lantang ketika ia sudah berdiri di depan kamar tamu.
Mike yang mendengarnya dari ruang makan karena jarak antara kamar tamu dan ruang makan begitu dekat. "Masuk aja, Jes. Hansel enggak akan bangun kalau selimutnya enggak kamu tarik," ucapnya.
Jessica pun membuka pintu kamar tamu yang mana ternyata kamar itu tidak terkunci. Dilihat Jessica, Hansel masih setia memeluk guling dengan selimut yang melilit dari leher sampai ujung kakinya.
"Om Hansel! Bangun!" pekik Jessica.
Hansel hanya bergerak dan merubah posisi tidurnya.
"Om!" ucap Jessica sekali lagi dan Hansel tidak memberi respon. Terbesit sebuah ide usil di kepala Jessica. Gadis itu berucap dengan nada suaranya yang terdengar cemas. "Om Hansel! Jessica diculik!"
Seketika itu juga, Hansel langsung duduk dan melihat sekitarnya. "Siapa yang culik?! Enggak bisa dibiarkan nih!" ucapnya yang masih setengah sadar.
Hansel pun langsung beranjak dari kasur, lelaki itu berjalan meninggalkan kamar tanpa melihat Jessica yang sedari tadi menahan tawanya karena tingkah Hansel.
"Heh, kalian berdua! Jessica diculik dan kalian malah makan-makan? Keterlaluan!" ucap Hansel.
"Om!" ucap Jessica yang sudah berdiri di belakang Hansel.
Hansel lantas langsung menoleh ke belakangnya, ia menatap Jessica dengan tatapan bingung.
Mike dan Maura yang melihatnya dari ruang makan, keduanya sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Jessica!!" kesal Hansel yang baru sadar bahwa ia hanya dikerjai oleh gadis itu.
"Makanya kalau dibangunin tuh ya cepat bangun. Jangan kayak mayat hidup," sahut Jessica kemudian ia berjalan dengan santai menuju meja makan.
Hansel tidak ingin diam di tempat, lelaki itu mengikuti Jessica.
"Cuci muka dulu, Hansel. Jangan kayak bocah deh," tegur Maura.
"Masakannya lebih harum dari biasanya," ucap Hansel. "Resep baru ya, Bi?" tanyanya pada Hanna.
"Enggak, Tuan. Tapi, Nona Jessica yang memasak," sahut Hanna apa adanya.
"Pintar masak rupanya," puji Hansel.
Jessica buru-buru menarik piring yang ada di hadapan Hansel. "Cuci muka dulu, baru boleh makan," ucapnya.
Dengan berat hati, Hansel pun kembali ke kamar untuk membasuh wajahnya.
...
"Untuk kasus kemarin, semoga enggak terulang lagi. Saya rasa kita semua sudah berusaha untuk membuat para penjarah merasa jera. Tapi, kenyataannya apa? Kelompok mereka tetap ada," ucap Hansel pada beberapa anak buahnya yang sengaja ia panggil ke rumah.
"Kami juga selalu memantau kehadiran mereka, Pak. Kemarin, kami menemukan mereka saat mereka sudah beraksi. maaf atas keterlambatan kami," sahut salah satunya.
"Kedepannya, pastikan kelompok seperti mereka tidak sampai beraksi lagi," ucap Mike dengan tegas.
Julukan kepala mafia bukanlah hal yang melulu menjadi sebuah kejahatan. Hal itu tersemat untuk beberapa kelompok mafia seperti Mike dan Hansel. Tujuan mereka membuat kelompok adalah agar para penjarah maupun para kelompok yang memiliki tujuan jahat bisa musnah.
...
Di saat Mike dan Hansel tengah sibuk menyusun rencana mereka kedepannya, mereka berdua tiba-tiba saja terdiam dan bertatapan satu sama lain saat mendengar nada dari piano ditekan dengan begitu nyamannya memasuki gendang telinga keduanya.
Mereka yang tadinya duduk di ruang tamu kini langsung berjalan menuju ruang keluarga yang mana di sana Mike meletakkan sebuah piano.
Mike dan Hansel terdiam di ambang pintu ketika melihat Jessica dengan anggunnya duduk di sebuah bangku yang ada di balik piano. Tangannya begitu lihai menekan tuts demi tuts piano di hadapannya.
Di belakang Jessica, nampak Maura yang sedang melihat dengan teliti bagaimana Jessica menekan tuts pianonya.
"Jes, ke KUA aja yuk," gumam Hansel.
Mike yang berdiri di sebelah sahabat baiknya itu, tangannya langsung ia layangkan ke kepala Hansel. "Anak gua masih SMA!" kesalnya.
Mendengar adanya kebisingan, Jessica menghentikan permainannya, ia dan Maura langsung melihat ke arah sumber suara.
"Kalian berdua enggak bisa kalau enggak berisik, ya?" tanya Maura yang kesal.
"Maaf, sayang. Hansel nih yang buat kesal," sahut Mike kemudian ia menarik daun telinga Hansel dan menyeretnya hingga menjauh dari ruang keluarga.
"Ada-ada aja," ucap Maura. "Lanjut, Jes," perintahnya pada Jessica agar Jessica melanjutkan permainan pianonya.
Sementara itu, Hansel dan Mike kembali ke ruang tamu, keduanya kembali duduk di sana.
"Jangan sampai ada cowok lain yang dekati dia, ya?" pinta Hansel tiba-tiba.
"Maksud lo?" tanya Mike seraya mengernyitkan dahinya.
"Anak lo terlalu sempurna untuk dimiliki orang lain," sahut Hansel seolah menjawab pertanyaan Mike.
"Gua enggak mau terlalu mengekangnya, Sel. Gua enggak mau kalau pada akhirnya dia merasa bahwa hidup dengan gua seperti hidup di sangkar," tutur Mike. "Kalau lo mau, lo dekati dia. Ambil hatinya," sambungnya.
Hansel nampak menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memahami ucapan Mike.
"Asalkan jangan pernah lo buah dia menangis. Satu tetes air matanya sama dengan lo sedang taruhan nyawa sama gua," tegas Mike.
"Sadis banget," gumam Hansel.
"Supaya elo hati-hati dalam mencintainya. Jangan sampai setelah elo mendapatkan hatinya, elo malah meninggalkannya," sahut Mike yang mendengar ucapan Hansel walau sahabatnya itu berucap dengan nada suaranya yang terdengar pelan.
Basicnya memang begitu. Mike terlalu sayang dengan Jessica sampai ia tidak ingin melihat anak angkatnya itu bersedih hati. Karena itu juga lah, Jessica merasa selalu nyaman ketika berada di antara keluarga barunya ini. Walau sesekali rasa rindu akan hadirnya orangtua kandung menghinggapi perasaannya.
"Ma, kemarin kan enggak jadi ke mall, bagaimana kalau ganti hari ini? Mumpung hari ini aku libur sekolah," ucap Jessica saat ia telah selesai dengan pianonya.
"Tanya Papa sana. Mama takut kalau Mama menyetujui tapi Papa malah menolak," sahut Maura.
Jessica nampak berpikir, kejadian seperti kemarin bisa saja terjadi lagi. "Enggak jadi deh. Aku lupa kalau tugas aku belum selesai," ucapnya sembari terkekeh pelan.
"Lain kali, ya?" ucap Maura seraya mengusap kepala Jessica dengan lembut.
Jessica tersenyum dengan begitu manis saat tangan lembut Maura mengusap kepalanya. Karena saat-saat seperti itu lah Jessica merasa bahwa kasih sayang Maura sama seperti kasih sayang Ibunya dulu.
To Be Continued...