Chapter 18

1049 Kata
Saat istirahat kedua dimulai, Jessica dan Anne berdiri di lantai 3 gedung sekolah. Kedua gadis itu menjadikan pagar pembatas sebagai pegangan mereka. Keduanya sama-sama menatap ke satu titik yaitu; lapangan sekolah. Mereka bukan menatap lapangan yang kosong, melainkan menatap segerombol murid laki-laki yang sedang menikmati permainannya. Bukan permainan bola basket maupun sepak bola, melainkan mereka sedang membuat seorang siswa sebagai alat senang-senangnya mereka. "Semakin ke sini, semakin gue merasa kasihan dengan murid yang didiamkan ketika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari murid lainnya," gerutu Jessica. "Untungnya enggak ada yang sampai meninggal karena perundungan di sekolah. Mereka yang menjadi korban, pada akhirnya mereka keluar dari sekolah dengan sendirinya ketika mereka sudah tidak sanggup menghadapi," sahut Anne yang berdiri di samping kanan Jessica. "Lagi-lagi, tahta dan kekuasaan yang menang," ucap Jessica. "Dan ketahanan diri," timpal Anne. Lalu, mata Jessica secara tidak sengaja menangkap sesosok lelaki yang sedang duduk santai di bangku ujung lapangan. Lelaki itu tidak lain adalah Hansel yang sedang menikmati sebatang rokok. "Dan dia nampak menikmati pemandangan di hadapannya," kali ini Jessica membatin. ... Sepulang sekolah, Jessica kembali dititipkan oleh Mike kepada Hansel. Hal itu tentu saja membuat Jessica kembali merasa ragu jika kedekatannya dengan Hansel diketahui oleh seluruh orang yang berada di sekolah yang sama dengannya. "Setiap disuruh Mike sama gua, lo pasti menjauh dulu dari lingkungan sekolah," kesal Hansel seraya terus menancapkan gas mobilnya dengan pelan - mengiringi Jessica yang berjalan dengan cepat menjauh dari pekarangan sekolah. Sampai saat Jessica tiba di depan sebuah kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari area sekolah, gadis itu nampak memperhatikan situasi sampai ia yakin bahwa tidak ada lagi anak sekolahan yang melihatnya, barulah ia memasuki mobil milik Hansel. "Selalu begitu, ya," kesal Hansel kemudian ia kembali menancapkan gasnya setelah ia melihat Jessica selesai memasang sabuk pengamannya. "Daripada nanti aku jadi bahan gosip di sekolahan," sahut Jessica. "Besok-besok kalau Papa suruh Om Hansel antar aku, bilang aja enggak bisa," perintahnya. "Enak banget memerintah gua," sahut Hansel. "Lo siapa memangnya?" tanyanya. Pertanyaan itu membuat Jessica menaikkan tangannya dan mengulurkannya ke hadapan Hansel. Perkenalkan, nama saya Jessica Eveline Guinno," ucapnya seolah ini adalah perkenalan pertamanya dengan Hansel. Plak! Hansel memukul tangan Jessica yang berada di hadapannya dan menganggu konsentrasinya dalam menyetir. Jessica tentu saja menarik kembali tangannya seraya meringis pelan. "Sakit tau!" kesalnya. "Makanya jangan usil!" sahut Hansel. "Sakit tahu!" ucap Jessica lagi yang masih mengusap-usap tangannya yang sehabis dipukul oleh Hansel. "Pelan pun gua pukulnya," ucap Hansel membela diri. "Bagi Om Hansel pelan, tapi bagi aku kencang," sahut Jessica lagi. "Gua belikan boba, ya?" tawar Hansel. "MAUUU!!!" sahut Jessica dengan cepat. "Sudah enggak sakit lagi, 'kan?" tanya Hansel. Jessica hanya terkekeh. ... Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore dan Jessica baru saja sampai di rumah dengan diantar oleh Hansel. Gadis itu terlambat 1 jam dari seharusnya dan membuat Maura, sang ibu tiri menunggunya di tengah pintu utama rumah dengan tangan yang melipat di depan d**a dan dengan raut wajah yang nampak serius. "Om Hansel harus turun. Om lihat wajah Mama tuh. Sudah seperti mau memakan orang," ucap Jessica yang belum keluar dari dalam mobil Hansel. "Lagian tadi Om Hansel nawarin aku buat belajar menyetir, jadinya aku sampai lupa waktu juga." Hansel memutar bola matanya dengan malas, kemudian ia keluar dari mobilnya terlebih dahulu. Kemudian, disusul oleh Jessica. Masih dengan tangan yang dilipat ke depan, Maura menginterogasi Hansel. "Dari mana saja?" "Tadi ajarin Jessica menyetir sebentar." "Sebegitunya? Elo enggak tahu kalau Jessica belum diperbolehkan Papanya untuk menyetir?" "Supaya bertahap juga, Ra. Biar nanti pas sudah mau bikin surat izin mengemudi, Jessica sudah lancar menyetirnya." Sedangkan Jessica, ia hanya diam sembari menundukkan kepalanya. Ini memang bukan sepenuhnya kesalahan Hansel. Sebab, saat Hansel menawarkan untuk mengajari Jessica menyetir, Jessica langsung exited. "Jessica, kamu masuk kamar dan istirahat," perintah Maura kepada Jessica. Jessica menganggukkan kepalanya kemudian ia berjalan memasuki rumah. Tinggallah Maura dan Hansel yang berdiri berhadapan. "Semalam lo ngapain ke sini? Enggak ngabarin gue sama Mike pun." "Hanya antar buku yang Jessica cari-cari dari kemarin." "Selarut itu?" "Tadinya mau gua kasih hari ini, tapi pas kebetulan gua lewat depan komplek sini, jadinya gua chat Jessica dan ternyata Jessica juga belum tidur." "Kata satpam gua, semalam mereka enggak ada bukakan pagar untuk elo." "Gua manjat pagar. Satpam lo pada tidur semua. Malas banguninnya gua." "Kasian," ucap Maura kemudian ia terkekeh. "Gitulah elo. Di hadapan Jessica nampak garang, Jessica minggat auto lawak," kesal Hansel. "Gua hanya enggak mau kalau anak gua jadi manja," sahut Maura. "Hari ini elo enggak usah ngajar Jessica dulu. Besok aja lagi. Dia juga pasti capek habis seharian belajar terus pulangnya elo ajak nyetir," pungkas Maura. Hansel menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti. ... Malam harinya. Jessica, Maura dan Mike sedang makan malam bersama. Jessica nampak merasa bersalah dengan Maura karena sudah membuat mamanya itu merasa khawatir. "Jessica kenapa, Nak? Masakannya kurang enak?" tanya Mike yang menyadari gelagat aneh Jessica. Jessica hanya menggelengkan kepalanya. "Lalu kenapa?" tanya Mike lagi. "Tadi sore aku pulangnya terlalu lambat sampai buat Mama menunggu. Aku merasa bersalah dengan Mama karena sudah membuatnya khawatir," pungkas Jessica. "Memangnya kamu pulang jam berapa?" tanya Mike. "Jam 5 sore, Pa," jawab Jessica. "Kenapa selambat itu?" tanya Mike. "Om Hansel menawarkan pada aku untuk belajar menyetir. Aku mau dan aku terlalu bersemangat sampai lupa waktu," tukas Jessica. "Maaf, Ma," sesalnya. "Enggak apa-apa, sayang. Kamu boleh belajar menyetir, kamu juga boleh pulang enggak tepat waktu. Asalkan kamu kabari Mama atau Papa supaya kami enggak cemas," sahut Maura. "Iya, Ma," ucap Jessica. "Jangan murung lagi," ucap Maura seraya tersenyum. Setelah itu, barulah Jessica berani menatap Maura yang duduk di sampingnya kemudian gadis itu membalas senyuman Maura. ... "Hey kalian! Pagi-pagi sudah berkerumun saja!" tegur Jessica pada sekelompok anak laki-laki yang berseragam sama dengannya. "Heh! Lo anak cewek jangan ikut campur deh," sahut salah satunya. "Apa salahnya kalau anak cewek mau ikut campur urusan anak cowok?" tanya Jessica. "Nanti kami dikatain b*nci," sahutnya kemudian ia mengibaskan tangannya, mengartikan bahwa ia mengusir Jessica dengan bahasa isyarat. BUGH! Jessica melemparkan sepatunya ke punggung lelaki itu. "Eh, maaf. Sepatunya terbang sendiri," ucapnya kemudian ia memungut kembali sepatunya tadi. "Lo nyari gara-gara?!" tanya lelaki itu dengan kesal. "Sejak kapan seorang anak cowok mau melawan anak cewek? Sudah siap dikatain b*nci?" tanya Jessica seraya mengikat tali sepatunya. Wajah lelaki itu nampak merah padam, jelas sekali bahwa ia sedang menahan emosinya terhadap Jessica.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN