Chapter 14

1054 Kata
Jessica menaikkan pisau yang terlihat berkilap akibat terkena cahaya lampu itu. Ia menatapnya dengan penuh ketegangan. "Jes, kalau kamu enggak mau menyia-nyiakan waktu, beranikan dirimu mulai dari sekarang," Jessica bergumam kepada dirinya sendiri. Jessica pun mulai mengayunkan pisau berukuran sedang itu. Namun, aksinya terhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar jelas. "Jessica?" Ia tak lain adalah Mike. "P-papa?" Jessica berucap dengan tergagap. Mike langsung mengarahkan pandangannya ke arah tangan kanan Jessica yang masih memegang sebuah pisau. "Kamu..." "Maaf, Pa, Enggak seharusnya aku lancang," sesal Jessica seraya menundukkan kepalanya. "Angkat kepala kamu. Papa enggak suka kalau lihat anak Papa menunduk," ucap Mike dengan tegas. Jessica pun perlahan menaikkan pandangannya dan menatap ke arah Mike yang berdiri di hadapannya sekarang. "Coba jelaskan," pinta Mike. "Maaf kalau Jessica membuat Papa kecewa. Tapi, Jessica baru saja memikirkan semuanya. Kalau Jessica enggak boleh menyia-nyiakan waktu lagi. Jessica harus memanfaatkan waktu yang Jessica punya," jelas Jessica. "Jadi, apa sekarang kamu sudah yakin untuk siap dengan benda itu?" tanya Mike. Jessica menganggukkan kepalanya dengan yakin dan pasti. "Iya. Jessica sudah yakin," jawabnya. "Besok Papa akan kasih tahu Hansel untuk mulai mengajari kamu," ucap Mike sebelum ia pergi dari hadapan Jessica. Jessica nampak tersenyum senang. Saat punggung Mike tidak terlihat oleh matanya lagi, ia pun melompat kegirangan. ... Setiap langkah yang selalu mendapat dukungan positif dari orang-orang terdekat pasti akan membuat seseorang merasa senang, bukan? Itulah yang dirasakan oleh Jessica saat ini. Ketika setiap ia mengambil sebuah keputusan, di sanalah kedua orangtua angkatnya selalu mendukungnya dengan penuh. "Gua tunggu di rooftop sekolah sekarang." Pesan suara itu dikirim oleh Hansel untuk Jessica. Karena baru saja istirahat pertama dimulai, maka Jessica langsung menuruti perintah Hansel. "Aku ada urusan sebentar. Aku pergi duluan, ya?" pamit Jessica pada Anna sebelum ia pergi. Sesampainya di roofop sekolah, Jessica sudah melihat adanya Hansel di sana. "Kenapa panggil aku?" tanya Jessica. "Tadi pagi Mike kasih tahu gua kalau elo sudah siap megang senjata tajam," ungkap Hansel. "Lo yakin?" tanyanya. "Pertanyaan macam apa itu?"protes Jessica. "Jelas aja gua tanya begitu. Kemarin lo nampak jelas kalau masih takut dengan senjata tajam," sahut Hansel. "Setelah aku pikir-pikir, enggak baik kalau mengulur waktu," ucap Jessica. "Setelah belajar menembak selama 1 jam dan elo enggak mengulang hal yang sama seperti kemarin, maka di jam selanjutnya gua akan ajarkan dengan senjata tajam," jelas Hansel. "Bisa, 'kan?" Jessica menganggukkan kepalanya dengan pasti seraya menyunggingkan senyumannya. "Karena kali ini, aku enggak mau bikin Papa dan Mama kecewa," ucapnya dengan suara yang pelan dan hampir tidak terdengar oleh Hansel. ... Sepulang sekolah, Jessica langsung bersiap untuk latihannya dengan Hansel. Gadis itu nampak bersemangat hari ini. Apalagi saat ia sampai di taman belakang rumah dan melihat 2 orang anak buah Mike yang sedang menyusun beberapa senjata tajam dan beberapa alat yang akan dijadikan sebagai target dari para senjata tajam itu. "Entah kenapa, rasanya aku semakin ingin dengan cepat bertumbuh dewasa dan mencari mereka lalu akan kubuat mereka menderita selayaknya mereka membuat kedua orangtuaku menderita," Jessica membatin. "Non, ini buahnya dimakan dulu," ucap Bibi Hani yang baru sampai di halaman belakang rumah juga. Jessica menerima sepiring yang di atasnya terletak beberapa buah-buahan segar yang sudah dikupas dan dipotong. Tentu saja itu dilakukan oleh Bi Hani. "Terima kasih, Bi," ucap Jessica sebelum ia duduk di sebuah kursi yang ada di sana dan ia memakan buah-buahan itu dengan perlahan. ... Satu jam sudah berlalu. Namun, Jessica belum melihat adanya tanda-tanda bahwa Hansel akan datang. Gadis itu nampak semakin tidak sabar hendak memulai latihannya. Ia yang tadinya duduk di kursi, kini Jessica beranjak dan berjalan menuju meja yang di atasnya terletak sebuah pistol. Jessica meraihnya dan ia mulai mengarahkan ujung pistol ke target yang ada di hadapannya. 5 kali tembakan tanpa melesat sekalipun membuat Jessica puas akan dirinya sendiri. Namun, ia kembali menatap ke arah pintu yang menjadi akses keluar-masuk tamu jika hendak menuju halaman belakang. Gadis itu tetap setia menunggu kedatangan Hansel. "Om Hansel ke mana sih? Lama banget datangnya," gerutu Jessica seraya ia mengisi peluru pada pistolnya lagi. Saat Jessica bersiap hendak menembak lagi, ia mendengar adanya suara mobil yang tak lain adalah suara mobil milik Hansel dan senyuman pun mengembang di wajahnya. "Akhirnya datang juga," gumamnya. Namun, Jessica tentu saja tidak ingin terlihat bahwa ia sedari tadi menunggu-nunggu kedatangan Hansel. Saat Hansel sudah memasuki area halaman belakang, Jessica merubah raut wajahnya. Ia yang tadinya tersenyum, kini raut wajahnya menjadi biasa saja. "Sudah berapa kali ngisi peluru?" tanya Hansel yang sudah berdiri di belakang Jessica. "Baru sekali," jawab Jessica dengan ketus. "Maaf, ya. Gua lambat datangnya. Ada urusan mendadak tadi," jelas Hansel. "Owh." "Jutek banget lo hari ini," sindir Hansel. "Biasa aja," jawab Jessica kemudian ia menarik pelatuknya dan lagi-lagi, pelurunya tidak melesat. "Om Hansel lihat, dari tadi aku nembak dan enggak ada yang melesat sedikitpun," ucap Jessica membanggakan diri. "Owh," kali ini, Hansel membalas ucapan Jessica dengan singkat juga. Jessica pun langsung menatap Hansel dengan tatapan kesal. ... Setelah satu jam melatih Jessica menembak, Hansel pun memutuskan untuk mengajari Jessica mengganti senjatanya. Dari senjata api ke senjata tajam. Mulanya, Jessica nampak sedikit gerogi dengan senjata yang nampak berkilap itu. Hal itu tentu saja dilihat oleh Hansel. "Hilangkan dulu rasa ragunya. Kalau sudah, baru kita mulai," ucap Hansel. Jessica menarik napasnya dengan pelan dan ia mengembuskannya dengan pelan juga. Kemudian ia menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia sudah siap. Hansel dan Jessica memegang masing-masing 1 pisau dengan bentuk dan ukuran yang sama. Hansel memandu Jessica untuk mengikuti gerakan tangannya. Dari mengayun ke kanan dan kekiri, kemudian mendorong ke depan beberapa kali. "Aku pikir latihan dengan senjata tajam sama saja dengan senjata api. Ternyata senjata tajam lebih sulit," gerutu Jessica. "Kalau senjata api, kita bisa membunuh target dari kejauhan. Tapi, kalau senjata tajam, kita bisa membunuh musuh dari dekat saja," jelas Hansel. "Aku pernah nonton film. Di film itu aku lihat dia bisa membunuh musuhnya dengan menggunakan pisau. Bahkan, dengan jarak yang lumayan jauh," ungkap Jessica. "Bagaimana caranya?" tanya Hansel seraya terus menggerakkan tangannya. "Begini," sahut Jessica kemudian ia melempar pisau yang ada di tangannya ke arah sebuah apel yang ada di atas meja. Tentu saja pisau itu menancap dengan sempurna di atas buah apel itu. Senyuman miring nampak terukir jelas di wajah Jessica. Ia merasa sudah berhasil membuat Hansel terkagum. Pasalnya, saat ia berhasil menancapkan pisaunya ke buah apel itu, Hansel nampak terdiam dengan mulut yang menganga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN