Jessica membawa sebuah burger, gadis itu duduk di salah satu bangku yang ada di depan kelas. Kemudian, ia memakannya.
“Makan sendirian,” ucap Hansel yang kemudian ia duduk di samping Jessica.
“Mau?” Jessica menawarkan pada Hansel sembari menyodorkan burger yang sudah ia gigit tadi.
Namun, tanpa Jessica duga, Hansel malah memakannya.
“Enak,” ucap Hansel sebelum ia mengunyah burger yang tentu saja bekas digigit oleh Jessica sebelumnya.
“Om Hansel!”
“Saya enggak akan pernah menolak penawaran dari kamu, Jes,” sahut Hansel sembari tersenyum.
Jessica menaikkan alis sebelah kanannya, gadis itu menatap Hansel yang sedang duduk di sampingnya. Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja ia lontarkan. “Kalau aku tawarkan Om untuk meninggal, bagaimana?”
Hansel terdiam dalam beberapa detik, lalu ia tersadar dan menjawab “Tangan kamu tega bunuh saya?”
“Pertanyaanku saja belum Om jawab,” sahut Jessica.
“Jawaban dari kamu akan menjawab pertanyaan kamu tadi juga,” ucap Hansel.
“Tunggu dulu,” ucap Jessica. “Memangnya Om Hansel mau meninggal di tangan aku?” tanyanya.
“Kalau itu memang takdirnya. Saya bisa apa?” sahut Hansel kemudian ia beranjak dari sisi Jessica.
“Pertanyaanku hanya bercanda, Om. Jangan anggap serius,” ucap Jessica sembari menatap punggung Hansel yang berjalan semakin jauh dari dirinya.
“Dia enggak tersinggung, ‘kan?” tanya Jessica pada Hanna.
“Mana mungkin Pak Hansel tersinggung dengan ucapan Nona,” sahut Hanna.
Jessica yang tadinya menatap Hanna, kini ia memalingkan wajahnya, menatap lorong kampus yang nampak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswi yang lewat.
Gadis itu berpikir, mana yang benar. Ucapan Hanna atau perasaannya?
Tentu saja Jessica berprasangka kalau Hansel tersinggung dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Sebab, Jessica sudah tahu bahwa ayahnya Hansel lah pelaku pembunuhan ayahnya dan hal itu juga diketahui oleh Hansel sendiri.
“Ayok masuk kelas, Nona. Sebentar lagi dosen akan segera datang,” ucap Hanna.
Jessica menganggukkan kepalanya sebelum ia beranjak memasuki kelas kembali.
...
Satu minggu bukanlah waktu yang singkat untuk Jessica menjalani dunianya yang berbeda dengan sebelumnya. Sebab, di manapun ia berada, maka Hanna dan Gian ada bersamanya. Bahkan, saat ia pergi dengan Hansel pun, Hanna dan Gian tetap mengikutinya.
“Om, risih enggak sih pas jalan begini diikutin sama mereka?” bisik Jessica pada Hansel yang berjalan di sampingnya.
“Mau gimana lagi, Jes? Daripada gua enggak dibolehin bawa elo jalan-jalan,” sahut Hansel dengan berbisik juga.
“Padahal ini sudah hari kelima. Lusa jahitan aku juga sudah boleh dilepas. Tapi, kenapa mereka tetap begini, ya?” tanya Jessica lagi.
“Karena mereka sayang sama elo, Jes,” jawab Hansel. “That simple answer, right?”
“Iya sih. Cuman kan...”
“Lo mau jajan apa?” Hansel sengaja memotong pembicaraan Jessica. Sebab, Hansel tahu bahwa Jessica akan banyak bertanya.
Jessica nampak menatap setiap toko yang ada di mall yang mereka kunjungi sekarang. Satu-persatu ia telaah dengan baik. Sampai saat mata Jessica menangkap sebuah toko yang menjual wafle.
“Aku mau itu,” ucap Jessica.
Hansel pun membawa Jessica ke toko yang menjual wafle itu.
Sembari menunggu wafle pesanannya selesai dimasak, Jessica duduk di salah satu bangku yang ada di toko itu. Sesekali ia menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan toko.
“Di antara banyaknya orang yang nampak biasa saja, pasti ada salah satu di antara mereka yang memiliki perangai jahat,” Jessica membatin.
“Wafle elo,” ucap Hansel sembari menyodorkan sebuah wafle ke hadapan Jessica.
Jessica pun menerima wafle itu dan ia berterima kasih pada Hansel.
“Mau makan di sini atau mau sambil jalan lagi?” tanya Hansel.
“Makan di sini saja. Aku sudah lumayan capek keliling,” jawab Jessica.
“Yasudah, kalian tunggu di sini. Gua belikan minum buat Jessica dulu,” ucap Hansel lagi.
“Siap, Pak,” jawab Hanna dan Gian secara bersamaan.
“Beli minumnya jangan cuman buat aku saja. Buat mereka juga tuh. Kasian kan kalau tiba-tiba keselek,” ucap Jessica pada Hansel.
“Iya, sayang,” sahut Hansel sebelum ia pergi dari hadapan Jessica.
“Apaan sayang-sayang?!” kesal Jessica.
Sementara Hansel, ia tetap melanjutkan langkah kakinya sembari tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Hansel kembali dengan 4 gelas bubble tea di dalam kantong plastik, lelaki itu langsung menyerahkan semuanya pada Hanna.
“Punya Jessica yang rasa cokelat,” ucap Hansel.
“Kamu belinya beda-beda?” tanya Jessica.
“Iya. Punya gua sama Gian rasa green tea,” jawab Hansel.
“Sejak kapan bubble tea ada rasa green tea?” heran Jessica.
“Lo lihat lah, Jessica. Di dalam kantong plastiknya ada yang warna hijau atau enggak?” tanya Hansel.
Jessica menjawab pertanyaan Hansel dengan gelengan kepala saja.
“Terus, kenapa elo percaya kalau gua beli yang rasa green tea?” tanya Hansel.
“Ini Nona,” ucap Hanna sembari menyerahkan segelas bubble tea.
“Terima kasih, Bi,” ucap Jessica sebelum ia menyeruput minuman itu. “Terus, Om Hansel beli yang rasa apa?” tanyanya lagi.
“Astaga!” kesal Hansel.
“Tanya doang loh aku. Kalau enggak mau jawab, yasudah. Jangan marah-marah,” gerutu Jessica.
“Punya gua sama punya Gian yang rasa kapuchino,” sahut Hansel. “Sampai sini masih ada pertanyaan?”
Jessica terkekeh, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Untung gua sayang,” gumam Hansel sebelum ia duduk di samping Jessica.
“Coba deh kalau bicara itu, nadanya naikin sedikit saja. Supaya aku bisa dengar,” ucap Jessica.
“Sengaja gua bicara pelan supaya elo enggak dengar,” sahut Hansel.
Setelah selesai memakan wafle miliknya, Jessica pun kembali mengajak Hansel untuk berkeliling mall lagi.
“Katanya sudah capek keliling,” ucap Hansel.
“Tenaga aku sudah terisi lagi,” sahut Jessica. “Ayok jalan lagi. Kita ke time zone,” ajaknya.
“Hah? Apa, Jes? Time zone? Lo yakin ajak gua ke sana?” tanya Hansel yang sedikit tidak percaya dengan tujuan Jessica.
“Kenapa? Enggak mau?” tanya Jessica kembali. “Kalau enggak mau, aku sama mereka berdua saja yang ke sana,” lanjutnya.
Akhirnya, mau tidak mau Hansel mengikuti Jessica sampai ke time zone.
“Sabar, Pak. Namanya cinta itu memang butuh perjuangan dan juga pengorbanan,” bisik Gian pada Hansel.
“Iya sih,” gumam Hansel. “Tapi, lo tahu dari mana kalau gua mencintai dia?” tanyanya.
“Dari perlakuan Pak Hansel terhadap Nona Jessica,” jawab Gian.
To Be Continued...