Chapter 16

1037 Kata
Jessica mengeluarkan senyuman miringnya, gadis itu berjalan menghampiri sekelompok siswi yang sedari tadi membuat hatinya memanas. "Coba bicara lagi di hadapan gue. Jangan berani bicara hanya di belakang gue," ucap Jessica dengan penuh penekanan. "Kenapa? Lo merasa tersindir?" tanya salah satu dari beberapa siswi yang nampak dominan di kelompoknya. "Lo berucap dengan menatap punggung gue," ucap Jessica lagi. "Lo pikir gue enggak tahu?" tanyanya. Siswi itu mengulurkan tangannya ke hadapan Jessica. "Perkenalkan, nama gue Valencia," ucapnya memperkenalkan diri. Jessica menyambut tangan Valen dan menggenggamnya sedang sedikit kuat. "Jessica." Kemudian ia melepaskan tangan Valen. "Senang kenal sama elo," ucap Valen. "Apa sudah cukup?" tanya Jessica. Valencia meletakkan jari telunjuknya di dagu Jessica. Gadis itu nampak tersenyum sinis sembari menatap Jessica. "Lo pikir, apa setelah gua mengatakan kata tidak pantas, lalu berkenalan dan setelah itu selesai?" tanyanya. Jessica tidak mau kalah, ia juga menampakkan senyuman sinisnya kepada Valencia. Sedetik kemudian, tangan Valencia yang masih ada di dagunya ia pegang erat-erat sehingga keluar suara ringisan dari mulut Valencia. "Kenapa?" tanya Jessica tanpa rasa bersalah. Tentu saja, mana mungkin Jessica merasa bersalah kalau yang memulai duluan adalah Valencia. "Gue hanya pegang tangan elo. Bahkan dengan lembut." Valencia langsung menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jessica. Jessica melepaskan tangan Valencia dengan mendadak hingga Valencia hampir terjatuh. "Ups, maaf." Valencia nampak geram dengan sikap Jessica yang begitu berani terhadapnya. "Awas aja lo," ucapnya sebelum ia pergi dari hadapan Jessica. "Jangan beraninya cuman mengancam, ya!" teriak Jessica seraya menatap punggung Valencia yang mulai menjauh darinya. Kemudian, Jessica kembali ke sebuah stan yang menjual jus buah. Gadis itu memesan satu cup jus apel. "Dia kelas berapa?" tanya Jessica pada Leena. "Siapa? Valen?" tanya Leena. Jessica hanya menganggukkan kepalanya. "Dia kelas 11. Sikapnya memang begitu. Selalu bertentangan dengan orang lain. Dia juga selalu membangkang. Bahkan dia pernah di-skors untuk tidak mengikuti 1 mata pelajaran selama seminggu," jelas Leena panjang lebar. "Masalahnya apa?" tanya Jessica yang penasaran. "Dia enggak mengikuti pelajaran dengan baik dan malah menyalakan rokok di dalam kelas," ungkap Leena. "Sampai sebegitunya?!" kaget Jessica. Memang benar jika sekolah tempat Jessica menuntut ilmu termasuk sekolah yang keras. Namun, sekeras dan sebebas apapun sekolah, menyalakan rokok di dalam kelas adalah suatu tindakan yang salah. Apalagi saat pembelajaran sedang berlangsung. "Mungkin karena dia kurang kasih sayang. Makanya dia cari perhatian dengan bersikap begitu," sahut Leena. Anne yang sedari tadi berada di antara Leena dan Jessica, gadis itu hanya diam sembari menyimak obrolan. "Anne saja pernah hampir pingsan karena Valen," ungkap Leena lagi. "Beneran?" tanya Jessica yang seketika itu langsung menatap Anne. Anne menganggukkan kepalanya. "Dia pernah kunci gue di kamar mandi," ungkapnya. "Keterlaluan," gumam Jessica. Sementara itu, otak Jessica sedang bekerja keras untuk memikirkan bagaimana caranya untuk membalas sikap Valencia. ... Sore hari Jessica sama dengan sore hari-harinya sebelumnya. Gadis itu menghabiskan waktu sorenya untuk berlatih dengan diajarkan oleh Hansel. "Kalau akhir pekan, Om Hansel ngajar juga?" tanya Jessica di tengah-tengah latihannya. "Ngajarin siapa?" tanya Hansel sembari terus fokus memperhatikan gerakan Jesicca yang berlatih bela diri lagi. "Aku dan murid Om Hansel yang lainnya," jawab Jessica. "Kalau ngajarin murid yang lain, pasti libur kalau akhir pekan. Tapi, enggak tahu deh kalau sama elo," sahut Hansel apa adanya. "Masa enggak ada perjanjian sama Papa?" tanya Jessica lagi. "Maunya sih, gue ngajar elo setiap hari," ucap Hansel. "Terus, aku enggak ada istirahatnya begitu?" protes Jessica. Hansel hanya terkekeh. "Om Hansel tahu Valencia nggak?" tanya Jessica lagi. "Kayaknya, pertanyaan elo banyak ya," timpal Hansel. "Tinggal jawab sih," sungut Jessica. "Dia anak kelas 11 yang terkenal bandel padahal dia perempuan," jelas Hansel dengan singkat. "Kenapa? Dia usik elo?" tanyanya. Jessica menganggukkan kepalanya kemudian ia menggelengkan kepalanya kembali. "Yang benar lah jawabnya," kesal Hansel. "Dia sindir-sindir aku. Tapi sudah aku kasih sedikit pelajaran kok," sahut Jessica. "Kenapa enggak banyakin aja sekalian?" tanya Hansel. "Karena ada rencana lain yang akan aku kerjakan untuk memberinya pelajaran," jawab Jessica sebelum ia berjalan menuju meja yang di atasnya terdapat sebotol air putih miliknya. Kemudian, Jessica meminumnya. "Latihan belum selesai, Jessica," tegur Hansel. "Aku haus," sahut Jessica. "Biar enggak dehidrasi, Om. Jangan marah," sambungnya sebelum ia kembali ke hadapan Hansel. Hansel yang kesal dengan Jessica, ia pun menjentik dahi Jessica hingga berbunyi. "Sakit!" ringis Jessica, dengan tangannya yang mengusap dahinya yang sehabis terkena jentikan maut dari Hansel. "Apa? Mau lagi?" tanya Hansel. "Aku laporin Papa nanti. Lihat aja," ancam Jessica. "Coba aja. Palingan elo yang kena marah nanti," sahut Hansel. ... Hansel mengirim pesan pada Jessica untuk menanyakan perihal rencana besok ia akan ke mana. Sebab, Besok adalah hari libur. "Besok mau ke mana?" "Di rumah aja." "Kenapa, om?" "Enggak jalan-jalan?" "Besok akhir pekan loh." "Enggak." "Aku mau istirahat aja." "Mau jalan sama gue?" "Ke mana? " "Jalan-jalan aja." "Izin sama Papa." "Aku takut kalau aku setuju tapi Papa malah larang aku untuk pergi." "Yasudah." "Gue chat Mike." "Oke." ... Jessica meletakkan ponselnya kembali ke atas meja sebelum matanya kembali fokus ke layar TV yang sedang menayangkan sebuah film kesukaan Jessica. Meski malam semakin larut. Namun, Jessica masih terjaga. Bahkan, tidak nampak bahwa ia sedang mengantuk. Film yang tayang semakin menegangkan hingga Jessica benar-benar lupa waktu. Sebuah pesan suara masuk ke ponselnya. Namun, Jessica mengabaikannya. Sampai saat notifikasi yang masuk begitu banyak hingga nada deringnya membuat Jessica terganggu. Jessica langsung menarik ponselnya kembali dan melihat siapa yang sudah mengirim pesan kepadanya. "Ngapain malam-malam begini malah spam coba?" sungut Jessica ketika ia melihat nama Hansel yang tertera di bar notifikasi. Bukannya membuka isi pesan itu, Jessica malah meletakkan kembali ponselnya ke atas meja nakas. "Kalau enggak penting., aku blokir kamu, Om," kesal Jessica. Belum 5 menit Jessica merasa sedikit tenang, sebuah panggilan suara masuk kembali ke ponselnya. Gadis itu nampak berdecik kesal. "Apa?!" TUUTTT!!! Sambungan telfon diputuskan oleh si penelfon sebelumnya. "Dasar om-om enggak jelas!" kesal Jessica. "Nelfon dan setelah itu dimatikan." Kemudian, suara ketukan jendela terdengar. Hal itu membuat Jessica merasa sedikit takut. Jendela kaca yang sudah ditutupi dengan horden itu kembali terdengar seperti ada yang sedang mengetuk. "S-siapa?" tanya Jessica yang tergagap seraya menatap jendela kamarnya. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang ada di sana. "Jangan bercanda deh. Enggak lucu tahu!" kesal Jessica. Tok!Tok!Tok! Kali ini, suara ketukannya menjadi lebih pelan dari sebelumnya. Jessica pun memberanian dirinya untuk melihat siapa yang sudah mengusili dirinya malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN