Chapter 38

1025 Kata
Mulanya Jessica berpikir bahwa hanya Hansel yang menjadi mata-mata agar ia terhindar dari orang-orang yang hendak melukainya. Dari Hansel menjadi guru SMA sampai sekarang Hansel menjadi dosen. Rupanya, Jessica salah. Selain Hansel, juga ada salah seorang yang diutus Mike untuk menjaganya 24 jam. Namun, hal itu ternyata tidak disadari oleh Jessica selama ini. “Pa, siapa orangnya?” tanya Jessica. Jelas saja sekarang gadis itu dirundung rasa penasaran yang mendalam. Hingga Mike menyerah dengan rengekan Jessica. Mike mengambil ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di atas meja, lelaki itu mencari nomor kontak seseorang untuk ia telfon. “Hallo, ke ruang makan sekarang,” ucap Mike saat benda persegi panjang itu ia tempelkan ke kupingnya. Hanya kata itu dan ia langsung memutuskan sambungan telfon. Hanya berselang 5 menit setelah Mike menelfon, seorang lelaki berjalan menuju meja makan yang mana di sana ada Mike, Maura, Jessica dan Hansel. Lelaki yang memiliki tinggi sekitar 180 CM, wajahnya yang berbentuk bulat namun raut wajahnya terlihat tegas. Lelaki yang nampak seumuran dengan Hansel itu membungkukkan setengah badannya. “Dia yang selama ini mengikuti aku?” tanya Jessica sembari menatap lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kepala. “Namanya Gian. Sejak awal kamu ikut dengan Papa dan Mama, dia lah yang kami percaya untuk terus menjaga kamu,” ungkap Mike. “Alasan kalian menyembunyikan ini dari aku, apa?” tanya Jessica lagi. “Kami hanya takut kalau kamu tahu dan malah membuat kamu enggak nyaman,” jawab Maura apa adanya. “Duduk sini,” ucap Jessica sembari menatap Gian, Jessica juga menarik kursi kosong yang ada di sebelah kanannya. Hansel yang melihatnya, ia pun terbelalak kaget. “Tapi...” Gian nampak ragu dengan tawaran yang diberikan oleh Jessica. “Saya pernah bilang ke kamu kalau Jessica adalah majikan kamu. Jadi, apa yang dikatakan Jessica, harus kamu turuti,” ucap Hansel. Gian pun duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Jessica tadi. “Sudah makan malam?” tanya Jessica sembari menatap Gian. Gian menggelengkan kepalanya. TAK! Bunyi sendok yang sengaja dipukulkan ke piring dilakukan oleh Hansel dan membuat Jessica menatap ke arah lelaki yang duduk di hadapannya itu. “Pelan-pelan, Om. Takutnya piring Mama pecah,” ucap Jessica. Kemudian, Jessica beranjak dari tempat duduknya. “Mau ke mana, Jes?” tanya Mike. “Mengambil piring untuk Om Gian. Kasian sudah kerja seharian tapi enggak dikasih makan. Papa memang begitu,” sahut Jessica. “Papa enggak pernah enggak kasih makan semua anak buah Papa, Jes,” Mike membela diri. “Benar, ‘kan?” tanyanya sembari menatap Gian. “Iya, Boss,” sahut Gian dengan tegas. “Tapi buktinya sekarang Om Gian belum makan,” ucap Jessica seraya meletakkan sebuah piring di hadapan Gian. “Om mau makan yang mana aja terserah. Makan yang banyak, Om. Biar kuat jagain aku,” ucapnya lagi kepada Gian. “Terima kasih banyak, Nona,” ucap Gian sembari tersenyum. Sebenarnya Jessica menyadari ekspresi macam apa yang ada pada raut wajah Hansel saat ia bersikap baik pada Gian. Namun, Jessica memilih untuk mengabaikannya. “Tahu begini, Papa enggak akan suruh Gian untuk jaga kamu diam-diam, Jes,” ucap Mike. Mendengar hal itu, Jessica hanya terkekeh. Sejujurnya, Jessica bersikap manis pada Gian hanya untuk membuat Hansel tambah kesal padanya. ... “Om Gian pasti banyak bisanya, ‘kan?” tanya Jessica pada Gian yang hari ini akan mengantarkan ke kampus. Bukan hanya mengantar, Gian akan menunggu Jessica sampai gadis itu selesai kuliah. “Kenapa Nona bertanya begitu?” tanya Gian seraya tetap fokus dengan jalanan di hadapannya. “Enggak mungkin Papa percayakan aku kepada Om Gian kalau Om enggak bisa bela diri,” jawab Jessica. “Semua anak buah Boss Mike, semuanya bisa bela diri dan bisa mengendalikan senjata tajam dan senjata api,” ungkap Gian. “Om Gian bekerja dengan Papa sudah berapa lama?” tanya Jessica lagi. “Sudah hampir 5 tahun,” jawab Gian apa adanya. “Sebagai apa?” Jessica bertanya untuk kesekian kalinya. “Sebagai bodyguard Boss Mike dan Boss Maura,” jawab Gian. Jessica mengangguk tanda bahwa ia mengerti dengan setiap jawaban yang diberikan oleh Gian. “Saya juga tahu bagaimana Nona bisa berada di tengah Boss-boss saya. Perjalanan yang cukup panjang untuk mereka menantikan seorang buah hati. Tapi, Tuhan belum mempercayakan mereka untuk memiliki anak. Lalu, muncullah Nona di tengah mereka dan dengan adanya Nona, mereka terlihat 2 kali lipat lebih bahagia dari sebelumnya,” ungkap Gian. Jessica yang mendengarnya, ia hanya bisa tersenyum. Sebab, gadis itu tidak tahu harus mengatakan apa. Entah ia yang bersyukur karena Mike dan Maura mau mengurusnya atau malah kedua orangtua angkatnya itu yang bersyukur karena Jessica mau menjadi anak mereka. “Nona kenapa diam?” heran Gian. “Kenapa pertanyaannya begitu?” tanya Jessica. “Tadi Nona banyak bertanya. Tapi, sekarang Nona hanya tersenyum saja,” jawab Gian. “Tidak apa-apa, Om. Aku hanya sedikit bingung saja,” sahut Jessica. “Apa yang Nona bingungkan?” tanya Gian. “Aku hanya bingung perihal ; Aku yang beruntung karena bertemu dengan mereka atau mereka yang beruntung bertemu dengan aku,” jawab Jessica. “Kalian sama-sama beruntung,” ucap Gian. Jessica merasa bahwa ucapan Gian ada benarnya juga. Mereka seperti sistem simbiosis mutualisme. Tidak lama, Gian dan Jessica sampai di kampus. Jessica segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian ia melambaikan tangan ke arah Gian yang masih berada di dalam mobil. “Aku masuk duluan,” ucapnya. Baru saja Jessica memasuki gedung kampus, ia sudah dihadang oleh Hansel yang menyilangkan tangan di depan dadanya. “Kenapa, Om?” tanya Jessica dengan santainya. “Tadi bareng siapa?” tanya Hansel dengan suaranya yang terdengar begitu dalam. “Kalau tahu aku pergi dengan siapa, kenapa harus bertanya?” tanya Jessica yang juga melipat tangannya di depan d*danya. “Maaf, aku lupa satu hal bahwa Om Hansel enggak suka kalau pertanyaannya malah dibalas dengan pertanyaan lagi, bukan jawaban,” sambungnya. “Kenapa harus dengan dia?” tanya Hansel yang kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Wajar, Om. Dia itu bodyguard aku,” jawab Jessica. Melihat kampus yang semakin ramai, akhirnya Hansel memilih untuk pergi dari hadapan Jessica. “Dasar enggak jelas!” ucap Jessica sembari menatap punggung Hansel. To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN