"Semua ini hanya mimpi buruk, Raline. Jangan menangis lagi..." Suara itu seperti menggema di kepala Raline. Perkataan itu sendiri seperti sebuah mimpi yang sangat menenangkan. Namun Raline harus segera bangun karena mimpi - sampai kapanpun hanya tetap mimpi. Kenyataan yang menyakitkan sudah menunggu Raline di ujung mimpinya. Raline membuka matanya dan kepalanya terasa sangat berat. Perempuan itu mengamati ruangan serba putih itu dan menyadari dirinya berada di rumah sakit. Tangannya terasa kaku karena terpasang infus. Raline tak melihat siapapun di ruangan itu, selain Arie yang kini memegang tangannya dengan wajah khawatir. Mulutnya terbuka mengucapkan sesuatu - tapi Raline tak bisa mendengarnya. Namun, laki-laki itu tak lelah berbicara dengan Raline. Hingga Raline mulai mendengar suar

