"Raline, kau harus makan. Kau belum makan selama dua hari, Nak," kata Banu sambil membawa nampan berisi makanan ke hadapan Raline. Raline hanya meliriknya tidak tertarik. Perempuan itu menatap kosong jendela di depannya. Duduk kaku di kursi kayu, dengan wajah pucat dan mata tidak fokus. Hanya kekokongan yang mengisi kepalanya. Seperti pantai dan langit yang selalu ia tatap di tempat itu - tampak kosong dan sendiri. Raline hanya melihat guratan biru itu yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah, kuning, dan warna-warna lainnya. "Raline..." lirih Banu memanggil Raline. Perempuan itu menoleh, lalu menatap Banu dengan mata lelahnya. Dua hari juga Raline tidak tidur. Ketika tubuhnya menyentuh ranjang, ingatan malam itu selalu menghantuinya. Bukan ketakutan atau perasaan jijik - tapi karena

