Seperti kata perempuan itu, Arie sudah menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dan Raline tak kunjung kembali. Arie tak bisa menunggu lebih dari itu. Arie dengan gerakan cepat memakai kembali kemejanya dan keluar dari ruangan itu. Arie membuka pintu kantornya dan tidak menemukan Raline di sana. Tas perempuan itu juga sudah tidak ada. Arie mengambil ponselnya dan menelepon Raline berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Perasaan Arie semakin tak tenang. Ada yang salah - sinar mata perempuan itu saat menerima panggilan tadi - Arie harusnya tahu ada yang salah dan melarang Raline pergi. Kemana perempuan itu pergi? Siapa yang meneleponnya? Satu jam mencari Raline di kantor itu dan tidak menemukannya, Arie semakin kacau. Arie bertanya pada setiap karyawan yang ia temui, kepada

