Chapter 10: Saved by the bell

1487 Kata
Dira POV Dira berjalan terburu-buru keluar dari ballroom hotel dan masuk ke toilet yang pas berada di seberang pintu ballroom. Kemunculan Tristan yang mendadak setelah empat tahun lamanya membuat Dira teringat pada kenangan buruknya bersama solois itu. Buru-buru Dira mencuci mukanya dengan air yang mengalir di wastafel. Perutnya tiba-tiba mual dan rasanya ia ingin muntah, teringat bau wine yang menusuk. Dira tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Tristan. Tristan adalah mantan kliennya saat masih bekerja di kantor hukum di Jakarta. Empat Tahun lalu.. Minggu ini adalah minggu terakhir Dira bekerja di kantornya sebelum tanggal pengunduran dirinya. Semenjak putus dengan Arya akibat perselingkuhannya dengan Kirana beberapa minggu lalu, Dira memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya di Jakarta dan membangun kehidupan baru bersama Diro dan Lisa di Batam. Selain karena ia tiba-tiba merasa tidak kuat hidup sendirian di Jakarta, Arya juga masih terus-terusan berupaya menghubungi dan kadang nekat mendatanginya, baik ke rumah maupun kantornya. Dira tidak paham dengan Arya yang masih saja terobsesi padanya, meskipun dia sudah memiliki Kirana. Sepertinya Arya hanya tidak rela keluar dari comfort zone yang telah mereka bangun bersama selama 6 tahun, sementara Dira sudah terlalu sakit hati untuk memaafkan perselingkuhan Arya. Akhirnya diam-diam Dira menjual apartemennya, dan mengajukan pengunduran diri di kantornya. Beberapa barangnya sudah ia kirim, dan sisanya akan ia bawa sendiri dengan mobil swiftnya. “Dir, kamu sudah sampai?” Suara Ibu Jovanka, bosnya, terdengar melalui telepon. “Sudah bu, ini saya lagi parkir di basement.” Jawab Dira, sambil memarkirkan mobil swift merahnya di basement kompleks apartemen. Kompleks apartemen ini adalah salah satu apartemen termewah di Kuningan, Jakarta, dan salah satu unitnya dimiliki Tristan, klien kantornya. Sore ini, Dira akan bertemu Tristan di apartemennya untuk memintanya menandatangani kontrak dengan salah satu brand ternama yang akan menggunakannya sebagai model iklannya. “Oke, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, telpon saya.” Ucap Ibu Jovanka pelan sambil  menutup telpon. Nada suaranya terdengar sedikit khawatir. Dira merasa aneh tapi tidak terlalu memusingkannya. Dia sudah beberapa kali bertemu Tristan di kantor atau di apartemennya bersama dengan Ibu Jovanka dan rekan kerjanya yang lain, dan meski dia adalah seorang penyanyi sukses,  Tristan adalah pribadi yang ramah serta sopan. Ini pertama kalinya Dira menemui Tristan sendirian di apartemennya, karena rekan kerjanya yang lain dan Ibu Jovanka sedang rapat dengan klien lain, sementara manajer Tristan sedang ada urusan lain dengan studio rekaman. “Selamat datang mba Dira, silakan masuk.” Tristan mempersilahkan Dira masuk ke dalam apartemennya. Apartemennya ini cukup besar, dengan ruang keluarga yang luas dan tiga kamar. Dira kemudian duduk di sofa depan ruang tv, sambil meletakkan barang-barangnya. Dira pernah mendengar bahwa Tristan lebih suka sendirian di apartemennya, karena itu petugas housekeeping juga hanya membersihkan apartemennya di jam-jam tertentu. “Mau minum apa? Saya ada wine yang enak banget.” Tristan menawarkan sambil memperlihatkan gelasnya yang sudah diminum setengah. Dira menggeleng. “Terima kasih pak, saya tidak minum alkohol.” Tolak Dira. “Oke,” Kemudian Tristan menenggak habis isi gelasnya, dan mengisi ulang lagi. Botol wine itu kini sudah tinggal terisi sedikit. Sepertinya dia habis minum-minum, pikir Dira. Perasaannya mulai tidak enak. “Baik pak, silakan ditandatangani disini ya pak.” Dira langsung mengeluarkan kontrak dan menyerahkan pulpennya pada Tristan yang kini duduk di sofa di sampingnya. Tristan menurut dan langsung menandatangani isi kontrak. Kemudian ia menghabiskan isi gelasnya dan mengisinya lagi. Dira buru-buru merapikan dokumen dan memasukkan kembali ke dalam tasnya. “Sudah selesai pak, nanti kontrak akan kami kirim ke pihak brand, nanti agensi periklanan mereka yang akan kontak manajer bapak.” “Oke. Kamu beneran nih tidak mau minum?” Tristan menawarkan gelasnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih akrab daripada sebelumnya.  “Tidak pak terima kasih. Kalau begitu, saya pamit dulu ya.” Dira berdiri, tapi kemudian tangan kirinya ditarik oleh Tristan, sehingga Dira kembali terduduk di sofa. “Kok buru-buru? Mau kemana sih?” Tanya Tristan pelan. Suaranya kini tajam terdengar berbahaya. “Masih ada kerjaan lain pak, maaf.” Dira berusaha menarik tangannya, tapi cengkraman Tristan makin kuat. “Disini dulu, temani saya.” Tristan mencondongkan tubuhnya ke arah Dira. Bau semerbak alcohol tercium dari napasnya, membuat Dira mengernyitkan hidung. Perutnya langsung terasa mulas dan ia merasa mual.  “Kamu cantik, udah pernah ada yang bilang belum? Kamu cantik.” Tristan mengusap pipi Dira, lalu bibirnya, kemudian turun ke leher dan perlahan ke bagian d**a Dira. “Maaf pak, saya buru-buru,” Dira berusaha berdiri, tapi Tristan kini memegang kedua tangan Dira dan berusaha mencium bibirnya. Dira meronta. “Pak, tolong, jangan,” Dira berkata pelan, lidahnya kelu, lututnya lemas. Dia tahu apa yang akan terjadi dan dia berusaha meronta, tapi tenaga Tristan sangat kuat. “Ssst, kamu diam saja, kapan lagi bisa main dengan saya,” Tristan menciumi leher Dira. Dira terpaku dan berdoa dalam hatinya.  Tuhan, selamatkan aku dari lelaki gila ini. Tiba-tiba bel berbunyi kencang. Tristan berusaha mengacuhkannya tapi bel tetap berbunyi dan tidak putus-putus. “s**t,” Umpat Tristan, kemudian melepaskan tangan Dira dan membuka pintu. Ternyata manajernya yang datang. Dira yang tidak melewatkan kesempatan ini langsung mengambil tasnya dan berjalan buru-buru keluar sambil mengangguk ke arah manajer Tristan. Di lorong, Dira berjalan sangat kencang hingga menuju lift, dan cepat-cepat menekan tombol ke basement. Di kejauhan dia bisa mendengar Tristan memanggilnya, tapi tidak ia hiraukan. Ketika sudah sampai di mobilnya, Dira langsung tancap gas menuju kantornya. Di perjalanan, Dira menangis kencang-kencang. Perasaannya sungguh kacau. Baru kemarin rasanya dia memergoki calon suaminya berhubungan dengan selingkuhannya, dan hari ini hampir saja dia dilecehkan oleh kliennya. Bau wine yang diminum Tristan masih tercium di hidungnya, dan bekas cengkramannya membuat pergelangan tangan Dira merah. Dira memegang setir dan menekan gas sekuatnya seperti orang kesetanan. “Dira, syukurlah, kamu dari tadi saya telpon gak diangkat-angkat, saya jadi khawatir,” Ucap Bu Jovanka saat melihat Dira masuk ruangan kantornya. Suasana kantor sudah lumayan sepi karena sudah lewat jam pulang kantor. “Besok kita lanjut lagi ya, saya mau bicara dulu dengan Dira,” Lanjutnya sambil meminta beberapa associate lawyer yang sedang rapat dengannya keluar. Setelah mereka semua keluar, Dira langsung menutup pintu, menutup blinds ruangan Bu Jovanka dan duduk di sofa.  “Ibu…” Air mata Dira berderai. Bu Jovanka langsung memeluknya tanpa berkata apapun, seperti paham perasaan Dira. Dira bekerja di kantor ini sudah empat tahun, sejak masih magang, dan Bu Jovanka yang membimbingnya menjadi pengacara seperti saat ini.  Beliau sangat baik dan sudah seperti pengganti ibunya sendiri. Perlahan-lahan Dira menceritakan kejadian yang tadi menimpanya di apartemen Tristan. “Ibu minta maaf ya, sebetulnya ibu sudah sering dengar rumor itu mengenai Tristan, tapi ibu tidak bisa bilang apa-apa karena ibu juga sebagai pengacaranya terikat klausul kerahasiaan,” Dira mengangguk, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa berkata apapun mengenai Tristan karena dia sendiri juga terikat klausul kerahasiaan, tidak dapat membocorkan rahasia klien bahkan hingga sampai 10 tahun setelah berhenti jadi pengacaranya. “Ibu sebenarnya keberatan banget tadi kamu sendirian kesana, makanya ibu telponin terus manajer Tristan supaya cepat datang kesana,” “Terima kasih bu,” Dira berkata di sela tangisnya. Dira tahu dia tidak dapat berbuat apa-apa atas apa yang dilakukan Tristan hari ini.  Selain terikat klausul kerahasiaan, dia juga tidak memiliki bukti kuat, dan dengan posisi Tristan sebagai solois terkenal dengan penghasilan berlimpah akan membuat ia kalah. Meskipun trauma, Dira bersyukur manajernya cepat datang dan Tristan tidak sampai menggagahinya. Tidak terbayang betapa hancur perasaannya kalau itu sampai terjadi. Kejadian tadi saja sudah cukup membuatnya mual dan bergidik. “Sudah, kamu tidak perlu pikirkan urusan kerjaan disini lagi. Toh hampir semua juga sudah kamu serah terima sama yang lain, tinggal sisa beberapa saja. Kalau kamu mau berangkat ke Batam secepatnya, berangkatlah. Ibu tahu berada sendiri disini pasti bisa bikin kamu tambah sedih,” “Benarkah bu? Apa tidak apa-apa? Yang lain bagaimana?” “Benar. Tidak perlu dipikirkan. Maaf ya ibu tidak bisa bantu apa-apa. Setelah apa yang terjadi dengan Arya, ditambah dengan kejadian hari ini, Ibu tahu kamu sangat perlu istirahat sekarang.” Bu Jovanka memeluknya makin erat. Dira bersyukur. “Terima kasih banyak Bu, atas bantuannya selama ini.” Berat sekali rasanya Dira mengucapkan selamat tinggal dengan Bu Jovanka dan kantornya ini. Meskipun kerjaannya seabrek, tapi semua rekan kerjanya kompak dan semua atasannya terutama Bu Jovanka sangat baik padanya. Kalau saja semua hal berjalan mulus dengan Arya, mungkin Dira tidak akan terpikir untuk pindah dari kantornya dan keluar dari Jakarta, tempatnya menghabiskan seluruh hidupnya.  Tapi  Jakarta ternyata terlalu keras baginya, dan kejadian hari ini mengukuhkan perasaannya. Semua kejadian yang terjadi membuatnya ingin berada lebih dekat dengan keluarganya yang tersisa, yaitu Diro dan Lisa. Bertahan hidup di Ibu Kota dengan kondisi hati yang hancur dan perasaan yang amburadul hanya akan membuatnya gila. Dan Dira saat ini cuma ingin hidup dengan tenang. “Hati-hati di jalan ya Dira,” Ucap Bu Jovanka saat menemani Dira masuk ke mobilnya. “kamu berhak bahagia.” Dira tersenyum lemah sambil melambaikan tangan untuk terakhir kalinya pada Bu Jovanka. Ya, aku berhak bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN