Westeros World?

1726 Kata
Dunia baru yang sebenarnya akan di mulai saat ini juga. Melepaskan kesedihan, melepaskan rasa sakit, dan melepaskan segala penderitaan yang aku rasakan saat ini. Melupakan kejadian kelam dan memulai semuanya dari awal. Berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan membuat mereka menyesal telah melakukan sebuah hal yang salah kepadaku saat ini. Ini adalah waktunya, waktunya untuk aku melakukan sebuah perotes besar kepada mereka semua untuk sementara di dalam dunia baru. -Arthemis Amysthyst Matcha. Aku menikmati perjalanan kali ini dengan sangat nyaman dan tenang. Rasanya pertama kalinya aku merasakan ini selama hidupku. Setelah kepergian Ayah dan Ibu benar-benar aku lupa bagaimana caranya bahagia dan bagaimana caranya untuk tertawa. Semuanya seakan sirna dalam waktu yang sangat cepat. "Aetos katamu aku bukan anak kandung dari Ayah dan Bunda. Lalu aku ini siapa? Di mana orang tuaku yang asli? Kenapa Ayah dan Bunda tidak mengatakan apa-apa kepadaku?" tanyaku dengan pelan. "Kamu adalah bukan seorang manusia, kamu adalah salah satu makhluk bangsa Westeros. Mereka berdua hanya bekerja sebagai penasehat ayah dan ibu kandungmu saja." "Aku? Bukan manusia? Makhluk Bangsa Westeros? Apa maksudnya?" tanyaku dengan sangat bingung. "Iya, kamu adalah seorang makhluk yang berasal dari sini. Dunia adalah sebuah pelarianmu saja. Kehidupanmu yang sebenarnya berada di sini. Aku tidak akan mengatakan banyak hal kepadamu. Karena semakin aku menjelaskan semuanya maka kamu akan terus bertanya seperti orang linglung kepadaku nantinya. Sudahlah nikmati saja perjalanan ini semua." "Selalu saja kamu mengatakan hal yang sama kepadaku saat ini. Rasanya aku ingin sekali memukulmu dengan sangat keras. Ayolah, jelaskan secara detail kepadaku apa maksud dari semua perkataanmu." "Malas, kamu akan mengetahuinya sendiri nanti. Sudah jangan banyak bertanya. Karena bukan waktunya bertanya saat ini. Nikmati saja perjalanan ini maka kamu akan melihat keindahan yang sebenarnya. Rasa sakit yang kamu rasakan di dunia telah lenyap saat ini. Jangan berpikir kalau kamu masih sama seperti yang di dunia. Anggap saja Arthemis Amysthyst Matcha yang berada di dunia telah tiada." Aku memukul punggung Aetos dengan sangat kesal dan memutar bola mataku dengan sebal ke arahnya. "Kau kira aku sudah mati apa? Lalu jika aku sudah mati yang di atasmu ini siapa?" tanyaku dengan sangat sebal. "Kan aku bilang anggap saja kamu sudah mati. Kamu di sini gak boleh merasa sama seperti di dunia. Ini adalah tempat yang lebih kejam daripada dunia manusia. Kamu harus terus berjuang sendiri di sini untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang jangan banyak bicara. Aku tidak fokus ke arah depan mendengar semua ocehanmu yang seperti burung beo," ucap Aetos. Mendengar penjelasan dari Aetos aku langsung terdiam dengan sangat kesal, karena dengan mudahnya dia membullyku saat ini. Aku hanya terdiam dan kembali menikmati perjalan udara kami berdua. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah desa. Aetos menurunkanku dan berjalan di sampingku. Aku mengikuti arahan yang Aetos arahkan. Namun saat ini Aetos merubah badannya menjadi kecil dan ia langsung bertengger di atas bahuku. "Kita akan berjalan kemana?" tanyaku dengan menghembuskan nafas dengan panjang. Rasa lelah karena telah menempuh perjalanan jauh dari hutan hingga kesini menggunakan jalur udara, aku di suruh kembali berjalan menuju kota yang ada di dalamnya. "Nah, di depan ada gerbang kota Dyrnatous, kita akan beristirahat sebentar di sana," ujar Aetos. Aku menghela nafas lega dan kembali berjalan menuju kota itu. Kami menempuh jalan yang tidak lama untuk sampai ke gerbang pintu masuk kota Dyrnatous sampai di depan gerbang kami di berhentikan oleh pengawal yang berwajah sangar dan menakutkan. "Boleh minta tanda pengenal mu, Nona?" tanya pengawal itu. "Aetos bagaimana ini? Aku tidak memiliki kartu tanda pengenal? Aku belum berumur 17 tahun," bisikku kepada Aetos yang ada di bahuku. Pengawal itu menatapku dengan tatapan yang bingung dan mengintimidasi. "Nona?" tanyanya. "Eh, e-e-itu kartu tanda pengenal saya tertinggal di rumah," ucapku dengan nada yang sangat gugup. "Maaf, anda tidak boleh masuk ke dalam Nona. Orang yang boleh masuk ke dalam hanya orang-orang yang memiliki kartu tanda pengenal." Mendengar jawaban dari pengawal itu aku hanya bisa menghembuskan nafas kecewa. Tiba-tiba ada seorang bersuara berat muncul di belakangku. "Biarkan wanita itu masuk. Karena dia adalah salah satu teman dekatku," ucap laki-laki itu dari arah belakang. Aku langsung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung. "Siapa laki-laki ini?" tanyaku dalam hati. Ia menghampiri pengawal itu dengan santai. "Boleh kau tunjukkan identitasmu?" ujar pengawal itu dengan nada yang tegas. Pria itu mengeluarkan tanda pengenalnya kepada pengawal itu. "Oh, kau guru dari Immortal Academic School. Selamat datang tuan Psyche dan silakan masuk," ujar pengawal itu dengan ramah. Kami bertiga berjalan menuju sebuah tempat singgah. Tempat itu sama seperti kedai pada umumnya. Aku dan Tuan Psyche masuk ke dalamnya. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pelayan yang ada di dalam kedai itu. "Saya pesan steak dan jus alpukat," ucap laki-laki tersebut. Aku terdiam dan memikirkan apa yang ada di dalam otakku selama ini. Aku sama sekali tidak pernah di pegangkan uang oleh Ibu angkatku. Sehingga aku berpikir untuk membayar makanan yang ada di sini. "Apakah kau tidak ingin memesan apapun?" tanya Tuan Psyche membuatku kaget dan langsung tersadar dari lamunanku. "Eh, iya. Samakan saja," ucapku dengan gugup. "Baiklah kau dengar apa yang baru saja dia ucapkan?" ulang Tuan Psyche. "Iya, saya mendengarnya Tuan. Kalau begitu tunggu sebentar ya, saya akan kembali lagi sambil membawa makanan kalian." Pelayan itu meninggalkan kami bertiga di meja itu. Tuan Psyche menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, ia melihatku dari atas hingga bawah. "Mau kemana kamu?" tanya Tuan Psyche dengan ramah. "Aku ingin ke Immortal Academic School," jawabku seadanya. "Apa maksud dan tujuanmu pergi ke Immortal Academic School?" tanya Tuan Psyche. Pertanyaan itu membuatku bingung ingin menjawab apa. Pasalnya aku tidak tahu apapun tentang Immortal Academic School. "Bersekolah mungkin," jawabku. "Mungkin? Kau bukan dari kota ini?" tanya Tuan Psyche. "Iya, aku bukan berasal dari kota ini. Aku berasal dari hutan yang ada di dalam sana. Hingga akhirnya aku berjalan-jalan sampai di sini," jelasku. "Oh, kamu ingin bersekolah? Kebetulan sekali kalau begitu tadi aku lewat. Aku adalah salah satu guru di sana. Aku mengajar elemen angin, dan aku juga merangkap sebagai guru TU yang merekap semua nama siswa yang masuk ke sekolah itu," ujar Tuan Psyche sambil mengeluarkan buku dan penanya. "Baiklah aku akan mendatamu, namamu siapa?" tanya Tuan Psyche. "Arthemis Amysthyst Matcha," jawabku sambil menyebutkan nama lengkapku. "Arthemis Amysthyst Matcha? Nama yang sangat indah, kau dari bangsa mana?" tanya Tuan Psyche. Mendengar pertanyaan itu aku bingung ingin menjawab apa. Karena selama ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya mengetahui kalau aku hanya seorang manusia biasa yang tinggal di bumi. Jika mendengar tentang dunia fantasi, aku hanya mendengar lewat sebuah dongeng fantasi atau cerita fantasi pada umumnya. Aku langsung berbisik kepada Aetos yang ada di sampingku saat ini. "Aku harus menjawab apa? Aku tidak tahu aku berasal dari bangsa mana?" tanyaku sambil tersenyum dengan manis. "Bilang saja kau berasal dari bangsa Dyrnatous," bisik Aetos ke ke kupingku. "Aku berasal dari Dyrnatous," ucapku. "Berapa umurmu?" tanya Tuan Psyche. "Aku berumur 16 tahun." Tuan Psyche langsung menulis nama, umur, dan bangsaku di dalam buku itu. "Okey, lalu siapa nama kedua orang tuamu?" tanya Tuan Psyche. "Fransisco Amysthyst Matcha dan Arnemis Matcha," jawabku dengan tegas. Tuan Psyche langsung memberhentikan tangannya dan menatapku dengan sangat lekat. Ia menatapku sampai tak berkedip dari atas hingga sampai bawah. Ia seolah-olah melihat aku seperti melihat emas berlian yang baru saja ia temukan. "Maaf Tuan, ada apa ya?" tanyaku dengan tatapan yang risih. "Oh, maafkan aku. Aku tidak apa-apa kau boleh ikut denganku ke sekolah. Kau akan tinggal di sana, anggap saja itu rumahmu sendiri." Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan yang kami pesan. Kami memakannya dengan cepat dan menghabiskan makanan itu tanpa berbicara satu patah katapun. Arthemis POV Off. Psyche Pov On. Mungkin kalian akan mengira aku ini gila. Seharusnya aku tidak boleh membawa orang lain yang belum aku kenal masuk ke dalam kota ini. Kota ini memiliki penjagaan yang sangat ketat, barang siapa orang yang tidak di kenal maka ia tidak akan boleh masuk ke dalam. Dan aku tadi, tidak sengaja mendengar ia berbicara dengan burung rajawali yang ada di sebelahnya. Burung itu sangat tidak asing bagiku. Burung milik Chaos yang terkenal di sini. Ia bertugas melindungi seseorang yang sampai sekarang belum jelas siapa orang itu. Hingga akhirnya aku membantu mereka untuk masuk ke dalam kota. Kami sampai di sebuah kedai yang tak jauh dari pintu masuk. Aku memesan makanan dan begitu pula dengannya. Ia memesan makanan yang sama denganku saat ini. Aku mulai menanyakan apa yang akan ia lakukan di kota ini. Karena aku tidak mau kalau kota ini hancur karena seorang penyusup. Aku bertanya hingga akhirnya ia menjawab kalau ia ingin sekolah di sekolah tempatku mengajar. Aku membuka buku pendaftaran dan menulis namanya di sana. "Okey, lalu siapa nama orang tuamu?" tanyaku dengan pelan. "Fransisco Amysthyst Matcha dan Arnemis Matcha, jawabnya dengan sangat tegas. Aku langsung terdiam dan menelaah apa yang baru saja ia katakan. Dia anak dari keluarga bangsawan Matcha? Bukannya keluarga itu berada di bumi? Kenapa ia bisa berada di sini? Terus bukannya istri dari bangsawan Matcha memiliki kanker rahim? Sehingga ia mengangkat rahimnya dan sangat tidak mungkin untuk mendapatkan keturunan. Maka, anak ini? Anaknya siapa? Hanya itulah yang ada di dalam benakku saat ini. Siapa dia sebenarnya? Apakah ia benar anak dari mereka? Kenapa mukanya tidak mirip dengan mereka berdua? Aku mengabaikan apa yang aku pikirkan saat ini dan kembali menulis nama orang tua dari anak itu. Setelah selesai menulis tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa makanan yang kami pesan. Aku dan Arthemis makan dengan sangat nikmat tanpa adanya pembicaraan di dalamnya. Psyche Pov Off. Arthemis POV On. Aku makan di hadapan Tuan Psyche. Rasanya sangat canggung makan di hadapan orang lain saat ini. Aku berbisik kepada Aetos yang ada di sebelahku. "Bagaimana aku akan membayar makanan ini?" bisikku dengan pelan. "Tenang saja, uangmu sudah ada di dalam saku saat ini. Kau tinggal memakainya untuk membayar makanan itu dan menggunakannya jika di perlukan." Aku hanya mengangguk dengan pelan dan melanjutkan acara makanku. Setelah selesai makan aku meminum jus alpukat itu dan menunggu Tuan Psyche selesai makan. "Apakah kau sudah selesai?" tanya Tuan Psyche. "Sudah Tuan," jawabku dengan lembut. "Okay, kalau sudah. Pelayan!" panggil Tuan Psyche sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan yang tak jauh dari kami. Pelayan itu menghampiri kami berdua. Tuan Psyche langsung memberikan uangnya kepada pelayan itu. "Ini uangnya," ucap Tuan Psyche. "Terima kasih Tuan," ucap pelayan itu sambil meninggalkan kami berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN