Terbukti

1501 Kata
Nadia pulang ke rumah dengan hati yang enggan mengakui kesakitannya. Bagaimanapun, 10 tahun yang telah dilalui bersama Satria merupakan tahun-tahun yang penuh bahagia. Tak pernah terpikirkan olehnya sedikitpun kalau Satria akan menduakan cintanya yang tulus dari hati. Yang Nadia tahu, Satria sangat mencintainya dan menjaga keutuhan rumah tangganya selama ini. *** "Kamu mau menginap di vila mas malam ini?" tanya Nadia ketika ia dan keluarga kecilnya itu sedang sarapan. "Iya sayang, aku pulang besok malam ya. Paginya dari vila, aku langsung ke kantor, nggak mampir ke sini. Nggak apa-apa kan sayang?" tanya Satria dengan suara merdunya, membuat suasana tampak harmonis. Sementara hati Nadia menangis membayangkan kalau nanti malam mungkin adalah malam yang panjang bagi suaminya dengan selingkuhannya, Sofia. "Iya mas, doain ulangan Bobi nanti dapet nilai bagus ya." ucap Nadia dengan berat hati. "Pastinya." sahut Satria sambil mengelus pelan rambut anak laki-lakinya yang asyik makan ayam goreng. "Jagoan papa, janjinya bagaimana? Kalau sarapan, harus makan sayur, cepet dihabisin sayurnya." ucap Satria yang kemudian menyodorkan semangkuk sayur buatan Nadia ke depan Bobi. Bobi sangat menyukai ayam, hampir setiap hari ia selalu makan ayam sejak ia duduk di bangku SD ini. Untuk mengakali kemauan anaknya yang diluar kendalinya, Nadia membuat janji dengan Bobi bahwa setiap pagi anak laki-lakinya itu harus makan sayur-mayur demi menyeimbangkan asupan gizinya. Tanpa penolakan berarti, Bobi menghabiskan semangkuk sayur yang disodorkan ayahnya tersebut. "Sayang, jaga diri baik-baik ya. Sampai ketemu besok." ucap Satria yang lalu mengecup bibir mungil Nadia. Nadia tersenyum dengan luka hatinya yang semakin dalam. Ia melambaikan tangan untuk kepergian suaminya yang hendak bertemu dengan kekasih gelapnya itu. Nadia kemudian mengantarkan Bobi ke sekolah seperti biasa. Lalu ia pergi ke Geprek Master demi menghabiskan waktu di sana. Nadia tidak ingin sendirian di rumah, yang ada ia hanya akan menangisi perbuatan suaminya. Selain itu, hari ini adalah hari ulangan Bobi, kemungkinan Bobi akan pulang lebih awal. Sehingga ia juga dapat menunggu Bobi di restoran milik temannya itu. "Bobi ada ulangan hari ini, Di?" tanya Dika, Nadia mengangguk lemah sambil menyesap pelan teh hangat di tangannya. "Hubungan kamu bagaimana dengan suami kamu? Kamu bilang waktu itu lagi program kehamilan kan?" tanya Satria yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi rumah tangga wanita yang pernah mengisi hatinya tersebut. "Iya, aku sama mas Satria pengen punya anak lagi. Bobi kan udah gede, pengen punya anak perempuan, sebenernya. Tapi.." ucap Nadia pelan, lalu terputus sehingga membuat Dika penasaran. "Tapi apa Di?" tanya Dika antusias, "Aku nggak tahu apa aku harus menceritakan masalah keluargaku sama kamu, Dik. Tapi aku nggak tahu harus cerita sama siapa." ucap Nadia lirih, ia bahkan tak berani menatap Dika. "Jadi kamu sudah tahu kalau suami kamu selingkuh?" tebak Dika setelah melihat wajah Nadia yang seperti diinjak-injak gajah, kusut tak berbentuk. Nadia langsung mengangkat kepalanya, menatap lekat wajah tampan temannya tersebut. Nadia tak mengira kalau Dika juga mengetahui perselingkuhan suaminya. Yang Nadia pikirkan saat ini malah, mungkinkah dia orang terakhir yang tahu tentang perbuatan busuk suaminya. "Kamu tahu kalau mas Satria...?" tanya Nadia pelan, terhenti karena Nadia malu bercampur takut. "Iya, aku tahu kalau Satria selingkuh dengan perempuan lain. Dia asisten pribadinya kan? Aku sudah menyuruh orang untuk mengikutinya. Sejak aku melihatnya masuk ke kamar hotel, berdua, di jam kerja." ucap Dika pelan namun terdengar jelas. Nadia bagai tersiram air garam pada lukanya yang tengah menganga, sakit bukan main. Jadi perasaannya kalau suaminya main gila dengan Sofia benar, dan bahkan Dika melihat mereka check in di hotel. Air mata Nadia keluar begitu saja, bahkan Nadia tak bisa berkata-kata. Nadia merasa sesak, air matanya semakin deras keluar. Entah kenapa ia teringat kembali saat Satria menolongnya ketika kecelakaan dulu dan mendekatinya, sampai suatu hari Satria menyatakan perasaan padanya. "Kenapa kamu tega mas sama aku? Kenapa harus mencintaiku kalau akhirnya kau lukai seperti ini." ucap Nadia dalam isak tangisnya yang sudah tak peduli lagi diperhatikan oleh karyawan Dika yang sedang bersiap-siap akan membuka restoran Geprek Master. Restoran milik Dika ini memang buka sejak jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Sementara Nadia datang terlalu pagi, ia memang sengaja ingin mengobrol dengan Dika. Namun siapa sangka, ia malah mendengar kenyataan yang teramat menyakitkan baginya. "Kamu yang kuat, aku akan selalu ada buat kamu." ucap Dika yang kali ini meraih dan menggenggam tangan Nadia. Nadia hanya pasrah pada perlakuan temannya tersebut. Karena Nadia memang membutuhkan pundak untuk bersandar. Dika meminta Nadia masuk ke ruangannya, ia merasa kasihan pada Nadia karena menjadi tontonan para karyawannya. Nadia menurut saja, walaupun sesampainya di ruang kerja Dika, ia sudah menghentikan tangisannya. "Jadi kamu udah nyuruh orang buat ngikutin suami aku?" tanya Nadia setelah ia duduk, Satria duduk di sofa yang berbeda dari Nadia, tepat di depan Nadia. "Iya, aku pikir kamu nggak tahu. Aku berniat memberi semua bukti perselingkuhan suamimu ke kamu. Aku nggak mau kamu dibodohi terus-menerus." ucap Satria tegas. Nadia menatap Dika lekat, ia tak menyangka kalau Dika akan peduli pada masalah rumah tangganya. Nadia selama ini tak tahu kalau Dika selama ini memiliki perasaan untuknya. "Tolong, jangan ceritakan masalah ini pada siapapun. Tolong, rahasiain." pinta Nadia dengan suara gemetarnya, ia benar-benar malu mengingat kelakuan suaminya yang mirip binatang. "Enggak akan Dia, apa untungnya juga buat aku. Yang aku peduliin sekarang cuma perasaan kamu." ucap Dika tegas, entah kenapa hati Nadia merasa tersentuh, ia merasa terhibur dengan perhatian Dika. "Tolong, kirim semua foto yang kamu dapet tentang suami aku. Informasi apapun itu, tolong kasih tahu aku. Aku yang akan bayar orang itu, berapapun dia minta." ucap Nadia yang terdengar frustrasi, Dika menggeleng lemah. "Nggak perlu, aku ya akan bayar. Aku akan kasih tahu semua informasi yang aku dapet, kamu nggak perlu khawatir." sahut Dika tegas. "Terima kasih Dika." ucap Nadia lemah, ia kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Istirahatlah di sini, aku akan keluar kalau kamu ingin sendiri." ucap Dika yang langsung berdiri. "Jangan pergi, aku nggak mau sendiri." ucap Nadia tanpa mengalihkan kedua tangannya dari wajahnya. Dika kembali duduk, ia kemudian menyandarkan tubuhnya di badan sofa sambil menatap Nadia yang mulai terisak lagi. *** Di depan kantor Satria, tampak 2 laki-laki dengan pakaian serba hitam dan memiliki tampang seram, duduk di dalam mobil. Mereka tak lain adalah detektif swasta yang disewa Dika untuk membuntuti Satria. Pekerjaan mereka hanya bisa dilakukan jika Satria keluar dari kantor. Jika di dalam kantor, mereka tak bisa ikut masuk dengan bebas demi mengetahui apa saja yang dilakukan Satria. Di waktu yang sama, Nadia keluar dari ruangan Dika, diikuti Dika. Nadia hendak menjemput Bobi. "Aku anter, kamu nggak usah keras kepala." ucap Dika yang memaksa ingin mengantar Nadia yang hendak menjemput Bobi. "Aku nggak apa-apa Dik." ucap Nadia yang merasa sungkan pada kebaikan Dika. "Nggak usah keras kepala, atau aku nggak akan berbagi informasi apapun tentang Satria." ancam Dika, akhirnya Nadia menurut saja. Dika hanya tidak tega melihat Nadia yang tampak kacau, pergi sendiri menjemput Bobi. Dika takut terjadi apa-apa pada Nadia karena wanita cantik itu sedang banyak pikiran. "Malam ini Satria akan menginap di villa. Suruh orang kamu itu ngikutin dia." ucap Nadia ketika mereka sudah ada di dalam mobil. "Kamu kirim alamatnya, aku akan menyuruh mereka ke sana." ucap Dika santai sambil sesekali melirik Nadia. Ketika mereka sudah sampai di sekolah Bobi, Nadia segera memakai lipstik. Ia tak ingin terlihat kacau di depan anaknya. "Selamat siang bos!" sapa Dika pada Bobi, Bobi tampak tak suka ketika melihat Dika ikut ibunya menjemputnya. "Anak mama udah pulang ya? Gimana? Sulit enggak ulangannya sayang?" tanya Nadia yang berjongkok lalu memeluk Bobi sesaat sebelum akhirnya Nadia menatap Bobi lekat. "Mama kok sama om Dika?" tanya Bobi dengan wajahnya yang tampak kesal, Nadia menatap Dika sesaat lalu kembali menatap anaknya. "Apalagi? Tentu saja mama bikin kejutan buat anak mama ini. Om Dika bakal kasih ayam geprek spesial untuk Bobi karena udah berhasil ulangan hari ini." kilah Nadia, ia sebisa mungkin menjadi ibu yang tangguh untuk anaknya. Walau sebenarnya hati Nadia sekarang ini bagaikan lapisan es tipis yang diinjak-injak, hancur dan meleleh. "Benarkah?" teriak Bobi yang langsung berubah ceria, ternyata kemampuan berbohong Nadia patut diacungi jempol. "Iya dong. Om bahkan ikut jemput kamu, om bakal buatin menu spesial buat Bobi. Nanti kalau nilai ulangan Bobi bagus, om akan kasih hadiah lagi." tambah Dika yang merayu Bobi agar tidak mencurigai kedekatannya dengan ibunya Bobi tersebut. "Asik, hore!!!" sorak Bobi yang tampak girang, ia bahkan melompat kegirangan, Nadia tersenyum lebat melihatnya. Hanya Bobi yang kali ini menjadi penyemangat Nadia. Nadia akan mencari tahu kebusukan suaminya dan menceraikannya segera. Nadia tak ingin Bobi mengetahui kebusukan ayahnya yang akan mempengaruhi masa pertumbuhannya itu. *** Malam ini Nadia memandangi layar ponselnya berkali-kali, ia menunggu informasi dari Dika. Sementara putra semata wayangnya sudah tertidur pulas, membuat Nadia merasa terpuruk dalam kesepian dan kesakitannya. Waktu menunjukkan pukul 00:35 WIB, Nadia menerima pesan dari Dika. Nadia segera membuka dan melihat foto yang dikirim Dika. Mata Nadia langsung berkaca-kaca ketika melihat foto yang menunjukkan Satria masuk ke kamar dengan Sofia. 'Mereka masuk kamar dari jam 11, dan sampai sekarang belum ada yang keluar.' isi pesan Dika yang semakin membuat Nadia terisak. Nadia berlutut di samping ranjang anaknya, Bobi. Nadia mencoba menahan tangisnya, takut Bobi mendengarnya. Namun apa daya, rasa sakit hatinya yang teramat dalam membuat Nadia menangis tak berdaya. "Apa salahku mas? Apa aku kurang cantik? Apa aku tidak memberimu kepuasan di ranjang?" ucap Nadia dalam hati. Lagi, Nadia memukuli dadanya sambil menangis sesegukan. Nadia sangat menyesali keputusannya mempercayai Satria. Nadia berpikir, mungkin saja Satria sudah terbiasa melakukan ini. Hanya saja Nadia tak mengetahuinya karena Nadia tak pernah curiga pada suaminya tersebut. Nadia tak habis pikir, suami yang sangat perhatian padanya dan pada anaknya, ternyata mampu menodai ikatan suci di antara mereka. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN