Bab 19 - Ketegangan

1082 Kata

Pintu kamar Alisa terbuka tepat dua hari, lima jam, dan empat belas menit setelah Damian menguncinya. Leo yang membukanya, dengan wajah yang lebih muram dari biasanya. Dia tidak perlu bertanya, karena Alisa sudah siap. Alisa mengenakan gaun sutra berwarna abu-abu gelap, rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas. “Tuan Sagara menunggu di ruang makan, Nyonya,” ujar Leo, menjaga jarak. Alisa melangkah keluar dari kamar, kaki-kakinya terasa ringan, seolah beban emosionalnya telah dibuang dan digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin dan keras. Ini bukan lagi kamar tidur yang ia benci, melainkan medan perangnya. Ketika Alisa memasuki ruang makan, Damian sudah duduk di ujung meja panjang marmer, membaca laporan keuangan. Cahaya matahari pagi dari jende

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN