Pagi datang, tetapi tidak membawa kelegaan. Alisa bangun di pelukan Damian, tubuhnya terbungkus sutra, Mansion diselimuti keheningan yang menyesakkan. Namun, kebangkitan Alisa bukanlah pemulihan, ia semakin tenggelam lebih dalam. Damian terbangun lebih dulu. Dia merasakan tubuh Alisa di pelukannya, berat dan dingin seperti pualam. Kepuasan posesif yang ia rasakan semalam langsung menipis, digantikan oleh firasat buruk. Dia melonggarkan pelukannya dan membalikkan tubuh Alisa menghadapnya. Mata Alisa terbuka. Mata itu seharusnya memancarkan kebencian, ketakutan, atau amarah. Tetapi yang dilihat Damian hanyalah kekosongan. Tatapan itu jauh, tidak mengenali sekeliling, seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya di lantai baja pabrik tua. Damian berbicara, suaranya rendah dan waspada.

