Di sangkar emas itu, keheningan adalah tirai tebal yang memisahkan Alisa dari dunia luar, dan yang lebih penting, memisahkannya dari suaminya, Damian.
Setiap hari adalah latihan fisik dan mental untuk menghindar. Damian adalah bayangan berbahaya yang sebisa mungkin tidak ingin Alisa sentuh.
Bukan hanya karena ia dingin dan asing, tetapi karena ia tahu kebenaran mengerikan yang disembunyikan di balik citra pengusaha suksesnya, Damian adalah Bos Mafia, kejam, dan ditakuti.
“Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari duniamu,” bisik Alisa pada dirinya sendiri di depan cermin.
Ia adalah boneka dalam etalase yang mahal, dan ia bertekad untuk tidak pernah bergerak sesuai tali yang diulurkan Damian.Namun, pengasingan ini menggerogoti jiwanya. Ia rindu. Rindu pada tawa Ibunya, pada aroma teh mint yang dibuat di dapur sederhana mereka.
Rasa rindu itu kini membebani bahunya seperti beban fisik.Sore itu, kebosanan mencapai puncaknya.
Setelah dua jam menatap buku tebal yang tak satupun hurufnya ia cerna, Alisa memutuskan untuk melanggar aturan tak tertulis tentang tetap berada di area utama.
Dia butuh udara segar, butuh tujuan menjelajahi sayap barat mansion yang jarang dilewati, tempat perabotan ditutup selimut putih dan udara berbau kayu tua.
Di ujung lorong, di luar gudang yang tersembunyi, ia menemukan pemandangan yang tak terduga, sebidang tanah yang terlupakan.
Tempat itu liar, penuh gulma, namun terasa hidup, kontras total dengan keindahan taman formal Damian di depan.
Alisa tersenyum kecil. “Obat kebosanan,” gumamnya menemukan sesuatu yang nyata.
Segera kembali dengan sarung tangan dan sekop kecil berkarat yang ia temukan di gudang. Bekerja keras, mencabuti gulma dengan tangan kosong, mengolah tanah yang keras menjadi gembur.
Pekerjaan itu menguras tenaga, tetapi setiap cabutan gulma terasa seperti mencabut kekecewaan dari hatinya.
Tiga hari kemudian, Alisa kembali ke lokasi rahasianya. Ia sudah menanam benih Forget Me Not, bunga kecil berwarna biru yang melambangkan kenangan. Setiap benih yang ia tanam adalah janji sunyi untuk mengingat Ibunya.
Alisa berlutut, dengan pipi memerah karena sinar matahari dan tangan kotor. Ia sedang menyiram petak kecil itu ketika ia merasakan suhu udara di sekitarnya tiba-tiba turun.Bukan dingin. Melainkan kehadiran yang menekan.Alisa membeku. Ia tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang berdiri di belakangnya.
Aroma kayu cendana yang mahal, yang selalu menyertai Damian, menusuk indra penciumannya.Ia menahan napas dan perlahan membalikkan badan, sekop kecilnya jatuh di samping lutut.
Damian berdiri di sana, tanpa ekspresi, seperti patung marmer hidup. Ia mengenakan celana bahan gelap dan kemeja abu-abu tua yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang. Penampilannya lebih santai, tetapi auranya lebih mengancam daripada biasanya.
“Jadwal mu berubah,” kata Alisa, suaranya sedikit bergetar.
Damian tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya yang tajam menyapu Alisa dari ujung kepala hingga ujung kaki, sepatu bot yang kotor, jaket yang lusuh, tanah yang menempel di pipinya, sebelum akhirnya berhenti pada petak gembur di depannya.
“Ini bukan area yang sering dikunjungi pelayan. Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?” tanyanya, nadanya datar, tanpa emosi.
Alisa menelan ludah. “Aku bosan. Rumah ini terlalu besar, tapi tidak ada ruang untuk bernafas.”
“Kamu punya perpustakaan, punya studio lukis, kolam renang dalam ruangan.” Damian menghitung, matanya tak lepas dari tanah. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuatmu bernafas,” lanjutnya sombong.
Alisa bangkit berdiri, membersihkan sedikit debu dari celananya, meskipun ia tahu usahanya sia-sia. Ia harus berani.
“Mereka adalah benda mati, Damian. Aku butuh sesuatu yang hidup. Sesuatu yang bisa kurawat,” balasnya, sedikit menantang.
“Aku menemukan gudang, dan aku menemukan benih. Itu bukan urusanmu.”
Damian mengangkat alisnya sedikit, sebuah reaksi kecil yang luar biasa.
“Semua yang ada di dalam pagar ini adalah urusanku, Alisa. Termasuk benih-benih kecil yang kau tanam itu.”
Alisa menghela nafas, mengumpulkan keberanian yang ia miliki.
“Apa menanam bunga adalah tindakan ilegal dalam daftar peraturan mu? Apakah aku melanggar perjanjian kita dengan menanam Forget Me Not?”
Tatapan Damian menjadi intens. Ia melangkah mendekat, dan Alisa harus menahan diri untuk tidak mundur.
“Kamu tahu betul apa perjanjian kita,” katanya pelan, suaranya kini terdengar seperti belati yang diasah.
“Selama patuh, kamu aman. Tapi aku tidak akan mentolerir keributan, apalagi kekacauan di propertiku,” tegas Damian menunjuk petak tanah itu dengan dagunya.
“Apa yang kamu tanam?” tanyanya.
“Bunga,” jawab Alisa singkat.
“Bunga apa?”
“Aku sudah bilang, Forget Me Not. Dan beberapa mawar liar.”
Damian memejamkan mata sesaat, seolah kata itu terasa asing di lidahnya.
“Berapa lama mereka akan tumbuh?”
"Mungkin butuh satu atau dua minggu untuk melihat tunas pertama. Mengapa bertanya? Kamu berencana untuk mencabutnya?”
Alisa tidak bisa menahan nada sinisnya.
Damian menatap lurus ke matanya, dan tatapan itu membuat Alisa merinding.
“Kamu tampak terikat pada tanah ini. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak akan membuat drama jika aku harus membangun sesuatu di sini,” kecam Damian mencondongkan tubuh, sorot matanya tak bisa lepas dari Alisa.
“Aku jamin tidak ada drama,” kata Alisa, nadanya lebih lembut sekarang, karena menyadari ancamannya serius.
“Aku hanya butuh ruang kecil ini. Aku tidak akan mengganggu siapa pun. Jika aku harus membersihkan kekacauan, aku akan melakukannya. Aku janji.”
Damian mundur selangkah, menciptakan kembali jarak yang melegakan. Ia menyilangkan tangan di depan d**a.
“Baiklah. Kamu boleh menanam bunga-bunga bodohmu itu,” putusnya.
“Tapi pastikan peralatannya disimpan kembali ke gudang setiap kali selesai. Aku tidak ingin melihat sekop atau sarung tangan bertebaran. Dan batas tanah mu adalah di sini.” Damian menunjuk batas petak gembur itu dengan ujung kakinya.
“Satu benih pun yang melewati batas itu, dan aku akan meminta para tukang kebun datang, menghancurkan segalanya dengan mesin pemotong rumput, dan mengecat seluruh area dengan beton.” Ancaman itu diucapkan dengan nada tenang, namun begitu dingin hingga Alisa tahu ia tidak sedang bercanda.
“Aku mengerti.” Alisa mengangguk cepat. “Aku akan menjaganya.”
“Bagus,” kata Damian, tanpa ekspresi. Ia mengalihkan pandangannya dari Alisa dan menatap ke arah matahari yang mulai terbenam di balik pepohonan tinggi.
Keheningan yang tiba-tiba kembali terasa mencekik, Alisa memberanikan diri.
“Mengapa? Mengapa kau izinkan aku melakukannya?”
Damian menghela napas pendek, lebih mirip desahan ketidaknyamanan. Ia membalikkan badan sepenuhnya untuk pergi, tetapi ia berhenti lagi, hanya mengangkat bahu.
“Aku lebih suka kau menghabiskan energi untuk bermain lumpur daripada untuk merencanakan cara melarikan diri,” katanya, suaranya sedikit lebih keras dan tajam.
Satu kalimat Damian, dan ia kembali ke horor malam pernikahan. Jelas, suaminya tahu bahwa rahasia identitas gandanya sudah ia pegang.
‘Ck, aku hanya memikirkan untuk kabur dari sini,’ batin Alisa mendelik kesal, begitu banyak pasang mata memantaunya.
“Lakukan apa yang kamu suka, selama itu membuatmu tidak terlihat. Itu adalah bagian dari perjanjian kita.”
Tanpa menunggu balasan, Damian melangkah pergi. Kali ini, langkahnya lebih cepat, seolah ia ingin segera menjauh dari keanehan interaksi ini.
Alisa terdiam di tengah petak tanah itu, menyaksikan punggungnya menghilang, tahu bahwa Damian mengizinkannya bukan karena kebaikan hati, melainkan karena bunga-bunga itu adalah pengalihan yang efektif, sebuah rantai baru yang menahannya.
“Orang aneh. Selesai kontrak… aku harap tidak lagi berurusan dengannya!”
Alisa menyentuh tanah gembur itu, bunga-bunga kecil ini kini membawa risiko, tetapi juga membawa harga diri yang hilang.
“Tidak semudah itu, Alisa.” Damian tersenyum misterius, diam-diam mengamati Alisa.