Urusan rumah

519 Kata
"Kenapa, Mas?" Ketika mendengar suaraku, secara tiba-tiba Mas Panji langsung menolehkan kepalanya untuk menghadap ke arahku. Dia menoleh dengan tatapan yang terlihat sedang memendam amarah, aku tahu, dia pasti sudah lapar dan tidak menemukan makanan yang ada di atas meja makan sana. "Kenapa tidak ada makanan di atas meja makan, kamu tidak masak kah?" Spontan aku menggeleng saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Mas Panji, membuat ekspresi wajahnya semakin terlihat tidak enak untuk dipandang saja. "Kenapa kamu tidak masak, Maya! Lalu suamimu ini mau makan apa kalau kamu tidak masak," ucapnya sedikit membentak, Mas Panji sudah kembali ke setelan aslinya yang tidak akan ragu untuk berbicara dengan nada tinggi kepadaku jika aku membuat kesalahan, akan tetapi dia juga bisa bersikap sangat lembut kepadaku jika ada maunya. Akh, memang dasar laki-laki! Semuanya pasti seperti itu, datang dan baik saat ada maunya saja. "Loh, kamu lupa, Mas? Bukankah kita sudah sepakat kalau mulai saat ini semua urusan rumah itu sudah menjadi urusan istri muda mu, itu berarti urusan dapur juga menjadi urusan Amira dong, kenapa kamu malah menyalahkan aku?" Tentu saja aku tidak mau disalahkan begitu saja, lagi pula memangnya dia menganggap ku apa sampai-sampai berharap aku akan melayaninya sama seperti yang aku lakukan dulu. Dia saja sudah membalas pengabdianku selama ini dengan pengkhianatan dan perselingkuhan, lalu masih berharap aku akan menerima dirinya dan melayaninya dengan baik sama seperti dulu? Huh, jangan harap! Aku tidak akan sudi untuk melakukannya, bukan aku yang harus melayani mereka. Tetapi mereka yang akan melayaniku, lagi pula rumah ini adalah milikku, tidak sepantasnya seorang tuan rumah melayani tamu yang sudah dengan kurang ajar menghancurkan hati dan kepercayaannya. "Maya, tapi kamu kan tahu kalau aku dan Amira sangat kelelahan. Kenapa kamu tidak bisa memahami itu, memangnya apa salahnya kamu masak dulu, toh Amira juga sudah membeli bahan masakannya kan?!" Aku menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab perkataan Mas Panji, enak saja dia mengatakan perkataan seperti itu kepadaku! Dia pikir aku akan tetap bersedia melayaninya seperti dulu lagi kah?! "Aku tahu, Mas! Tapi kamu sendiri kan yang sudah menyetujui persyaratan dariku saat aku memutuskan untuk menerima pernikahan kalian, seharusnya sebelum tidur, Amira memasak dulu untukmu!" "Lagi pula lihatlah, bagaimana bisa dia belanja bahan makanan tapi dibiarkan begitu saja di atas lantai tanpa dimasukan ke dalam kulkas seperti itu? Kalau sampai rusak bagaimana, memangnya kamu mau nombok?!" Huh! Lihat saja, Mas. Kamu pikir aku masih menjadi aku yang dulu yang bisa kamu intimidasi dengan perkataanmu itu?! Aku bukan lagi aku yang dulu, kamu tidak bisa lagi mengintimidasi dan menyuruhku seenak hatimu. "Lalu sekarang aku makan apa? Aku sudah sangat kelaparan, tidak bisakah kamu membuatkan aku makanan terlebih dahulu?" "Maaf, Mas! Tapi itu bukan lagi kewajibanku, semua urusan rumah sudah aku serahkan kepada Amira dan kamu pun sudah menyetujuinya. Jadi daripada kamu membuang banyak waktu untuk menyuruhku memasak, lebih baik kamu bangunkan saja istri mudamu itu untuk menyiapkan makanan untukmu!" Tanpa mempedulikan Mas Panji, aku segera melangkahkan kakiku untuk kembali ke dalam kamar. Mengabaikan dia yang masih berdiri mematung di samping meja makan, mungkin masih bingung hendak melakukan apa. 'Rasakan kamu, Mas! Siapa suruh berkhianat dan menikah lagi di belakangku.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN