“Dan juga ingat baik-baik, mulai sekarang jangan harap kamu bisa bertemu ayahmu lagi!” Mata Darel seperti mau keluar saat mengatakan.
Aku hanya melongo, suaraku tercekat. Aku ketakutan setengah mati dengan perubahannya.
Darel pun akhirnya melepas cengkraman kasarnya sambil mendorongku hingga membuat tubuhku terhempas ke sofa.
Setelah itu, Darel keluar dan pergi lagi dengan mobilnya. Asisten rumah tangga Darel membantuku membawa koper ke kamar pengantin. Setelah mengucap terima kasih padanya, aku pun menangis saat mengingat kembali apa yang Darel katakan. Harapan untuk bahagia seketika sirna. Ternyata laki-laki yang aku anggap bisa membawa kebahagiaan untukku, tak lebih seperti seorang aktor yang bersandiwara dengan baik di depan ayahku.
***
Malam harinya, aku menatap sendu ranjang pengantin dengan taburan kelopak mawar merah yang indah. Terdapat juga sebuah handuk berbentuk sepasang angsa di tengahnya. Sungguh romantis.
“Cantik,” gumamku memuji kasur pengantin yang harusnya seindah malam pertama yang diharapkan.
Pintu didorong kasar dari luar. Darel kembali berulah. Dia melemparku keluar kamar dan dengan enteng membawa wanita lain masuk ke kamar pengantinku.
Tangisku pun pecah, apalagi ini, Tuhan. Siapa wanita itu? Tega sekali Darel memperlakukanku seperti ini.
Wanita itu menatapku sambil tersenyum sinis. Darel hendak menutup pintu kamar pengantin kami.
“Jalang,” umpatku kasar.
Aku mencoba berdiri dari lantai tempat dimana aku terjerembab akibat ulah seseorang yang sudah resmi menjadi suamiku itu.
Sampai tiba-tiba … pintu dibuka kasar dan suara kayu berbahan kayu jati itu terdengar keras beradu dengan tembok kamar kami.
Darel keluar, dalam sekelebat meraih daguku yang masih setengah berdiri. “Apa katamu?”
Mata kami beradu. Aku bisa melihat betapa marahnya Darel, sudah bisa dipastikan dia tak terima dengan ucapan reflekku tadi.
“Dengar baik-baik, kamu tidak punya hak atas apapun di sini. Bukannya sudah aku peringatkan beberapa kali tadi siang?”
Pria songong itu semakin kuat memegang daguku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencengkram lengan kananku.
“Sekali lagi telingaku mendengar kamu berkata kasar tentang Farah, akan kupatahkan rahangmu yang runcing ini,” geram Darel.
‘Oh jadi jalang itu bernama Farah?’ bisikku dalam hati.
“Rumah ini ada banyak sekali kaca besar. Dan silakan kamu menggunakannya, agar bisa introspeksi diri.” Perempuan yang dari tadi bersedekap sambil bersender di pintu itu ikut menimpali.
“Kamu atau aku yang, jalang?” ucapnya lagi, kali ini sambil membawa telunjuk kanannya persis di depan mukaku.
“Lagian, kamu yang telah masuk dalam kehidupan kekasihku. Lalu? Katakan siapa yang Jalang?” Dengan jengkel wanita itu mengataiku.
Darel tampak tersenyum melihat tingkah wanita gelapnya itu. Bahkan dia belum melepas cengkraman kuatnya.
“Lepas! Sakit!” erangku dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, terlalu kuat tenaganya.
Mungkin saat ini mukaku sudah sangat merah. Setelah lelah acara resepsi seharian kini aku diperlakukan tidak pantas seperti ini. Kemana orang yang romantis tadi siang, ternyata hanya sebuah formalitas demi lancarnya sebuah tipu daya.
Tenang aku tidak boleh menangis. Meski rasanya sudah sepanas ini.
Dia pun akhirnya melepaskanku.
“Jangan GR kamu, aku hanya tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuhmu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk kedua tangannya, seolah aku benda najis yang tak sengaja tersentuh.
Lagi-lagi perempuan itu mengangkat dagu dan tersenyum mengejekku. Ingin sekali aku tampar wajah mulusnya yang sok kecakepan.
Bisa-bisanya sesama perempuan berbuat sekeji itu.
“Udah yuk sayang, buang waktu saja meladeni gembel seperti dia. Huh, membuat mood kita jadi jelek saja,” ucap perempuan itu memberengut dengan nada merajuk manja, tangan kanannya menarik lengan Darel.
“Awas, kamu kalau sampai menganggu kami lagi. Aku lempar kamu ke jalanan.”
Mereka berdua pun masuk ke kamar pengantin kami, lagi.
Kamar yang telah dihias dengan sebegitu romantisnya itu harusnya milik kami saat ini, sebagai sepasang pengantin baru, tapi apa yang suamiku lakukan. Dia dengan tega membawa wanita lain di dalam sana. Entah apa yang akan mereka lakukan?
Aku hanya bisa menatap nanar pada pintu bernuansa clasic modern itu. Tanpa sadar tubuh yang semula berdiri tegak menahan marah, sudah luruh di lantai tepat di depan pintu, tak berdaya.
Tuhan, tidak cukupkah setelah semua yang terjadi, Engkau malah pertemukan aku dengan pria b******k itu.
“Oh … ah darling, kamu ganas sekali malam ini?”
“Iyakah, mungkin karena nuansa kamarnya romantis. Jadi, aku semakin bernafsu malam ini.”
“Atau mungkin karena kamu habis ngamuk sama istrimu tadi jadi penuh amarah, maka kamu lampiaskan dengan menghajar aku sekarang?”
Aku dapat mendengar jelas desahan dari wanita. Apa-apaan mereka. Keterlaluan mereka apa sengaja manas-manasin aku? Tangisku pun semakin pecah, tapi aku tak sanggup berdiri dengan kedua kaki yang mulai terasa lumpuh.
“Ah, Sayang. Mmmm, ah … pelan dong, Sayang!”
Dih menjijikkan. Desahan demi desahan manja jalang itu, sungguh tak tahu malu.
“Kenapa punyamu semakin enak sih malam ini, Baby.” Terdengar suara suamiku dengan penuh nafsu dan napas terengah dari dalam sana.
Ya Tuhan, hati aku rasanya tercabik. Suamiku telah m*****i malam pengantin kami dengan selingkuhannya tepat di kamar yang seharusnya jadi kamar pengantinku.
Aku berusaha bangkit meski tertatih, semua persendian tulangku rasanya lemas sekali. Aku pun melangkah menuruni anak tangga, mengambil air di dapur. Kemudian menuju kamar tamu yang letaknya juga sama di lantai bawah.
Namun, saat hendak tidur, ponsel di saku piyamaku bergetar. Aku mengambil benda pipih itu. Menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang menghubungiku.
“Ayah.”
Ternyata panggilan dari Ayah. Aduh bagaimana ini, jangan sampai Ayah tahu kesedihanku. Aku tidak mau ayah ikut sedih dan tentu ini akan berpengaruh pada kesehatannya. Apalagi ayah masih masa pemulihan. Aku beranjak ke depan kaca yang menempel pada lemari yang menjulang tinggi, di ruangan ini tidak ada meja rias.
Kulihat bayangan wajahku di sana, hanya untuk mematut diri agar tak terlihat rona kesedihan. Wajah sembab masih terlihat jelas, bagaimana ini. Eh, tunggu! Bukankah ayah hanya melakukan panggilan suara dan kami tidak bertemu maupun panggilan video. Ya, aku hanya perlu berusaha agar suaraku tidak terdengar habis menangis.
Dua panggilan tak terjawab sudah cukup menyiapkan diriku. Aku pun menekan tombol warna hijau untuk menghubungi ayahku.
“Halo, Aleena!” sapa ayahku yang langsung menjawab panggilan teleponku.
“Iya, Ayah.”
“Kok tadi lama sekali angkat telponnya?”
Aku hanya diam masih coba mengatur napas agar suaraku terdengar biasa saja.
“Ah iya, Ayah lupa, pasti kamu lagi sama Darel, ya. Wah, maaf, ayah jadi ganggu malamnya Aleen,” tambah beliau terdengar merasa bersalah.
“Hehe iya, tidak mengapa ayah. Lagian Ayah ini, belum juga sehari ditinggal, baru juga tadi siang ketemu,” jawabku santai.
Harusnya ayah sudah terbiasa ditinggal, toh selama ini aku tinggal di Amerika. Apa mungkin beliau ada firasat sebagai seorang ayah bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja di sini?
“Aleen, kenapa kok suaranya serak gitu? Apa Aleen habis nangis?”
Aku tercekat. Tak ingin berkata jujur, mesk memang sulit membohongi Ayah. Namun, aku dengan cepat menampik perkataan Ayah.
“Nangis? Enggak kok, Ayah. Ini Aleen ngantuk, capek setelah acara seharian, makanya suaranya agak serak.” Bukankah orang yang ngantuk atau suara orang bangun tidur akan berbeda, ya? Semoga saja ayahku percaya.
“Iya, Sayang, maaf ya jadi ganggu waktu Aleen. Habisnya Ayah kangen. Entah kenapa ayah tiba-tiba ingin sekali mendengar suara putri ayah.”
“Duh, Ayah, bukankah selama ini Aleena juga tinggal jauh dari Ayah, malah jauh lagi di negeri paman sam,” kilahku.
“Entahlah … perasaan Ayah tidak tenang, mungkin karena sekarang kamu sudah menikah. Kamu sudah dibawa pria lain.”
Ayah benar, firasat Ayah tepat. Aleen tidak baik-baik saja, Yah. Bahkan suami Aleen mengancam tidak akan mengijinkan kita berdua bertemu lagi.
Tenang, aku tidak boleh nangis lagi. Ingat, Aleen, di seberang sana ayahmu, dia bisa mendengar suara tangisanmu.
“Huffh.”
“Ada apa Aleen?”
“Tidak, Ayah, maaf Aleen ngantuk Ayah.” Aku kembali mencari alasan agar ayah segera menyudahi panggilan telepon kami.
“Tunggu dulu, Ayah mau tanya, Darel memperlakukanmu dengan baik, ‘kan?” tanya Ayah. Pertanyaan itu sukses membuatku tercekat. Aku pun ragu menjawab, terlebih untuk berbohong, aku memang tidak pandai melakoninya.
“Aleen dengar suara Ayah?”
“Eh iya, Yah,” jawabku tergagap.
“Suamimu ada di sana, boleh ayah ngomong, sebentar saja?” Terdengar suara Ayah memohon dan penuh penekanan di kata “sebentar”.
“Gawat ini, aku harus jawab apa?”
Bersambung