"Mas Tirta." Parau suara Canting menyebut nama lelaki yang kini mengelus lembut kepalanya, Canting bisa melihat Tirta memegang sebuah piring di tangan kanannya. "Mama Canting kenapa nangis?" Tirta duduk di depan Canting, sebuah senyum menghiasi wajah tampannya. Canting mengusap air matanya meninggalkan bekas kemerahan di bawah matanya. "Aku enggak apa-apa, Mas." Canting berusaha tersenyum berusaha menutupi sebuah resah yang mengalungi rasa. "Kalau enggak apa-apa kok nangis? Kamu itu perempuan yang selalu jujur, dan kamu enggak pernah bisa bohong, Mas tau ada sesuatu yang menganggu pikiran kamu makanya kamu nangis begitu. Sekarang kamu cerita sama Mas, ada apa?" tanya Tirta sambil menata nasi dan lauknya di atas sendok lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Canting. Wanita itu h

