Tubuh Kayla terasa ringan, rasanya meski ia telah menari selama dua puluh menit, tubuhnya tidak terasa lelah. Saat ini di hadapannya seorang laki-laki berwajah tampan. Dengan hidung lancip dan dagu terbelah tersenyum ke arahnya. Ketika mendapat respond dari laki-laki itu, Kayla segera menarik tangan laki-laki itu ke lorong menuju toilet. Dengan gairah yang meletup-letup Kayla bersandar pada dinding dan memberikan pandangan menggoda kepada laki-laki yang bahkan namanya saja ia tak tahu. Senyum terukir di bibir laki-laki berambut cokelat itu. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, laki-laki itu mulai menyatukan bibir mereka. Hati Kayla merasa puas, inilah yang diinginkannya untuk menyembuhkan luka di hatinya. Bukan, lebih tepatnya membantu menghilangkan sosok Erwin di dalam kepalanya. Mer

