6

1086 Kata
Langkah kaki itu terus berlari dan ketika ia melihat sosok pria dari arah belakang yang baru melangkah masuk ke dalam lift dengan sekuat tenaga Kayla berteriak. "Tunggu!!" Sontak pintu lift yang hendak tertutup itu tertahan. Lebih tepatnya sosok di dalam lift-lah yang menahannya. Kayla berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan sembari memegang dadanya dengan posisi setengah menunduk. Setelah yakin dirinya baik-baik saja, Kayla perlahan mengangkat wajahnya dan detik itu juga ia terperanjat. Sedangkan pria di dalam lift itu memandangnya dengan penuh kebingungan. "Anda siapa?" tanya Kayla heran. Jika benar pria ini yang mengantar kunci mobilnya, lalu di mana Erwin Ivander!? "Seharusnya saya yang bertanya nona. Anda mau masuk atau tidak?" balas Adam jengkel. Ia tidak mengerti bagaimana bisa Erwin mengenal perempuan urakan ini. Padahal pakaiannya mencerminkan seorang wanita berkelas. Namun mengapa tidak ada sopan santunnya. "Apa kamu melihat pria lain?" tanya Kayla hati-hati dan tekad tidak menyerah. Mungkin saja Erwin sudah masuk ke dalam lift lebih dahulu, pikirnya. "Tidak. Sejak tadi hanya saya yang berada di lantai ini." Kayla terdiam. "Baiklah. Maaf sudah menunda perjalananmu." Tanpa menunggu jawaban dari Adam digerakkan kakinya melangkah kembali ke arah ruangannya. Pikirannya mengatakan jika ia harus segera bertemu dengan Erwin Ivander demi majalahnya bulan ini. Setelah pintu lift tertutup, Adam meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. "Pemilik mobil tersebut baru saja mengejarku. Sepertinya ia berpikir jika aku adalah kau. Ada hubungan apa kau dengannya?" tanya Adam terus terang. Di seberang sana Erwin berdecak kesal. "Aku tidak mengenalnya. Jika kau menyukainya sikat saja. Kenapa harus menghubungiku di jam sibuk seperti ini?" omelnya. Sayangnya sebelum Adam menjawab, sambungan telepon lebih dahulu terputus. "Kalau tidak ada hubungannya kenapa kau marah-marah?" *** Hari ini bengkel ramai seperti biasanya. Bukan ramai karena pengunjung yang datang karena kerusakan pada mobilnya namun demi melihat Adam. Sayangnya kaki tangan Max Ivander itu belum menampakkan wujudnya membuat para wanita itu mengeluh saat terpaksa menerima Erwin sebagai gantinya. Well, siapa yang berminta melirik Erwin. Sudah beberapa hari ini ia tidak bercukur. Rasa malas sedang menerpanya. Dengan jenggot dan kumis yang tidak dicukur dan rambut panjangnya menutupi telinganya. Ia sangat berbeda dengan Erwin Ivander yang sebelumnya. Tak lama kemudian, ketika Erwin hendak mengganti oli mobil milik seorang wanita paruh baya namun make upnya bak wanita muda di Korea. Sebuah mobil sedan dengan nomor polisi yang dikenalnya dengan baik berhenti tepat di depan bengkelnya membuat Erwin meraih rokoknya dan menghembuskannya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat pemilik mobil yang sudah ia duga. Dengan angkuhnya, pemilik mobil itu keluar dari mobilnya dan berdiri sejenak. Mengedarkan pandangannya dari balik kacamata hitamnya dan ketika ia menangkap sosok yang dicarinya. Dengan anggun, sukses membuat iri para wanita penunggu Adam minder. Karena mereka tak ada apa-apanya jika dibandingkan wanita ini. Tubuh yang tinggi semapai, lekukan tubuh bak biola, dan belum lagi kulitnya yang seputih s**u. Kemeja putih kebesaran sangat kontras dengan rok pensil merah menyalanya. Stilleto berwarna senada menambah nilai keanggunannya. Namun, kenapa wanita secantik ini mencari pria berjenggot itu? Dengan anggunnya Kayla melepaskan kacamata hitamnya hingha akhirnya pandangan mata mereka bertemu. "Erwin Ivander." Erwin tidak terkejut dengan namanya yang disebut oleh wanita ini. "Boleh aku minta waktumu?" Sebelah sudut bibir Erwin tertarik ke atas. "Kenapa? Mobilmu bermasalah lagi?" "Bukan. Aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu," jawabnya tenang. "Sungguh aneh. Nona yang cantik dan anggun ini ingin berbicara denganku yang hanya seorang montir." "Aku tahu jika montir hanyalah pekerjaan sampinganmu. Kenyataannya kau adalah pewaris satu-satunya Ivander Company," sahut Kayla. Erwin mendengus. "Anda salah orang nona." Ia kembali fokus dengan pekerjaan, meninggalkan Kayla yang memandangnya tidak mengerti. "Aku tidak mungkin salah orang! Kamu adalah Erwin Ivander, putera satu-satunya Max Ivander," seru Kayla tanpa memedulikan tatapan para pengunjung yang mulai fokus pada dirinya. Ia terus mengikuti langkah Erwin. Tapi tak ada tanggapan sama sekali dari laki-laki itu. Membuat Kayla semakin jengkel dengan laki-laki bernama Erwin Ivander. Akhirnya Kayla memutuskan untuk duduk di kursi panjang dari besi yang dikhususkan untuk para tamu yang berkunjung ke bengkel. Dalam hati ia terus bersabar. Menunggu jam makan siang tiba, mungkin di saat itu ia dapat berbicara dengan Erwin Ivander. Karena bagaimana pun kali ini ia harus dapat mewawancarai laki-laki itu demi perusahaannya. Dan Kayla yakin ia mampu membuat Erwin Ivander memberikan waktu untuknya. *** Sudah tiga hari berturut-turut Kayla datang ke bengkel di mana Erwin bekerja. Sudah tiga hari juga Kayla harus menerima udara panas dan harum oli yang menusuk hidungnya. Belum lagi keringat para montir yang baunya melebihi parfum miliknya. Ditahannya semua itu demi seorang Erwin Ivander yang masih saja mendiamkannya. Laki-laki itu terus mendiamkannya dan hanya berbicara beberapa patah kata. Itu juga hanya beberapa kata seperti "iya", "tidak", "bukan", dan selebihnya tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibirnya setiap kali Kayla mengajaknya berbicara. Sejujurnya Kayla sudah tidak sabar ingin mencakar wajah laki-laki yang lebih mirip seorang narapidana daripada seorang montir. Tapi apa mau di kata, ia harus bersabar. Syukurlah sosok Adam yang ditemuinya di lift hari itu berbaik hati menemaninya menghabiskan waktu di bengkel itu. Entah siapa sebenarnya Adam. Tapi pria yang memiliki ketampanan seperti aktor Korea ini seolah-olah menunjukkan jika ia tidak bisa mengatur Erwin Ivander. Dan itu menambah rasa penasaran di dalam diri Kayla. Kayla yang seorang diri tanpa kehadiran Adam merasa bosan dan memutuskan untuk membuka suaranya. "Kenapa harus bekerja di bengkel? Kau yang lulusan manajemen dan bisnis, mengapa berakhir bekerja di bengkel seperti ini?" tanya Kayla dari kejauhan sembari memperhatikan Erwin yang berada di bawah kolong sebuah mobil. Setelah menunggu dua menit, tetap tak ada jawaban dari bibir laki-laki itu. "Memangnya dengan bekerja di bengkel seperti ini, cukup memenuhi kebutuhanmu?" tanyanya lagi. "Apakah Max Ivander akan menyetujui pekerjaanmu seandainya beliau tahu kau bekerja di tempat ini," tanya Kayla masih belum menyerah. Tiba-tiba sosok Erwin dari kolong mobil keluar dan bangkit berdiri. Ia membersihkan tangannya dengan handuk yang berada di dekatnya. Melirik Kayla dengan jengkel dan hendak beranjak dari tempatnya. "Hey! Kamu belum menjawab satu pun pertanyaanku!" ujar Kayla sambil menyusul langkah Erwin. Sialnya Kayla tidak melihat oli yang tadi sempat tumpah ke lantai dan belum dibersihkan. Membuat sepatu yang dikenakannya tergelincir. Kayla memekik sekuat tenaga. Erwin yang berada tak jauh darinya membalikkan tubuhnya dan ketika melihat keadaan perempuan itu, ia langsung menarik tangan Kayla yang mengambang di udara. Lalu detik berikutnya tubuhnya sudah berada di dalam dekapan Erwin. Membuat dirinya mampu mendengar suara detak jantung milik Erwin. Detik itu juga Kayla memaki dalam hati. Mengapa pipinga terasa panas hanya mendengar detak jantung Erwin Ivander? Dan dekapan ini mengapa terasa hangat? Bahkan membuat Kayla melupakan bau oli yang dekat dengan penciumannya. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi? Hatinya membatin. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN