Sebelum Kamu Pergi

834 Kata
Dimas tidak pernah merasa dirinya orang yang pencemburu. Ia tidak keberatan ketika orang yang ia sayangi punya dunia sendiri—teman-teman lain, tempat-tempat yang tidak selalu melibatkannya, cerita-cerita yang tidak ia dengar sejak awal. Ia selalu percaya, rasa memiliki tidak seharusnya berubah menjadi pengawasan. Cinta, menurutnya, bukan tentang membatasi, melainkan tentang memberi ruang. Setidaknya, itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Namun akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan marah. Bukan curiga. Hanya rasa tidak nyaman yang datang pelan setiap kali ia merasa sedikit tertinggal. Suatu malam, Dimas duduk di sudut kamar dengan lampu yang tidak sepenuhnya terang. Ponsel di tangannya memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya. Ia menatap unggahan terbaru orang itu—tertawa bersama seseorang yang tidak ia kenal, di tempat yang tidak pernah mereka datangi bersama. Foto itu biasa saja. Terlihat wajar. Tidak ada yang salah. Tapi entah kenapa, Dimas menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ia memperbesar gambar itu tanpa sadar, memperhatikan detail kecil: posisi duduk yang terlalu dekat, senyum yang terlalu lepas, cara bahu mereka hampir bersentuhan. Hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi justru karena kecil, ia tidak punya alasan untuk memprotesnya. Ia menutup aplikasi itu perlahan. “Kenapa sih aku begini?” gumamnya. Ia tidak suka versi dirinya yang seperti itu. Versi yang menghitung jarak di antara dua orang dalam sebuah foto. Versi yang diam-diam membandingkan. Versi yang takut tergeser tanpa peringatan. Saat mereka bertemu beberapa hari kemudian, Dimas tetap seperti biasa. Tidak ada nada menuduh. Tidak ada perubahan sikap. Ia mendengarkan cerita dengan senyum yang ia jaga agar tetap utuh. “Aku kemarin ke tempat baru, seru banget,” katanya antusias. Dimas mengangguk. “Oh ya? Sama siapa?” “Teman lama,” jawabnya ringan. “Baru ketemu lagi setelah sekian tahun.” Nada itu santai. Terlalu santai untuk dipertanyakan. “Kamu kenal dia dari mana?” tanya Dimas sekali lagi, berusaha terdengar biasa. “Oh, dulu satu komunitas,” jawabnya singkat, lalu pembicaraan beralih ke hal lain—film terbaru, pekerjaan, rencana akhir pekan. Percakapan berjalan seperti tidak pernah ada apa-apa. Tapi di dalam dirinya, ada ketakutan kecil yang terus berputar—takut suatu hari ia tidak lagi menjadi tempat pulang. Takut perannya perlahan digantikan tanpa ia sadari. Takut bahwa kebersamaan yang selama ini terasa cukup ternyata hanya sementara. Ia sadar, rasa itu bukan tentang orang ketiga. Bukan tentang saingan. Melainkan tentang posisinya sendiri yang terasa samar. Hubungan mereka memang tidak pernah punya definisi. Tidak ada status. Tidak ada janji. Tidak ada kepastian. Hanya kebersamaan yang terasa cukup—sampai perlahan tidak lagi. Malam itu, Dimas berjalan sendirian di trotoar yang sepi. Lampu jalan menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di aspal. Angin berembus pelan, membawa suara kendaraan yang lewat tanpa benar-benar tinggal. Ia memikirkan hal-hal kecil yang selama ini ia anggap aman: pesan selamat pagi yang tidak pernah terlewat, obrolan singkat sebelum tidur, kebiasaan bertanya, “sudah sampai?” Sederhana. Tapi justru karena itu, ia takut kehilangannya. Bukan karena ingin menguasai. Melainkan karena ia belum siap dilepaskan. Selama ini ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa tidak perlu label untuk merasa dekat. Bahwa perasaan tidak perlu diumumkan untuk menjadi nyata. Namun kini, ia mulai menyadari sesuatu: tanpa nama, kedekatan bisa hilang tanpa penjelasan. Akhirnya, suatu sore yang terasa lebih sunyi dari biasanya, Dimas memberanikan diri bicara. “Aku mau jujur,” katanya pelan. Orang di depannya menatapnya, menunggu. “Aku nggak cemburu,” lanjut Dimas, berusaha memilih kata dengan hati-hati. “Aku cuma takut… suatu hari aku nggak penting lagi.” Kalimat itu menggantung di antara mereka. Tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup jujur untuk terasa rapuh. Orang di depannya terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Kamu terlalu mikir,” katanya. Jawaban itu ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sudah lama mengendap. Dimas ikut tersenyum. Ia sudah menduga. Perasaannya memang sering dianggap berlebihan. Ketakutannya sering terlihat tidak perlu. Beberapa waktu setelah percakapan itu, segalanya berubah tanpa pengumuman. Pesan yang dulu rutin mulai jarang. Telepon yang dulu spontan menjadi alasan sibuk. Jarak tumbuh tanpa suara. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada perpisahan resmi. Hanya keheningan yang semakin permanen. Sampai suatu hari, Dimas berhenti menunggu. Dan di situlah ia akhirnya mengerti: mencintai tanpa nama berarti siap kehilangan tanpa hak bertanya. Malam itu, di kamarnya yang terasa lebih luas dari biasanya, Dimas duduk di tepi ranjang dan menatap dinding kosong. Ada kelegaan karena ia sempat jujur. Setidaknya, ia tidak lagi membohongi dirinya sendiri. Namun ada juga kesadaran pahit yang datang bersamaan— takut kehilangan bukan tanda cinta yang berlebihan, melainkan tanda bahwa sesuatu yang berharga sedang terasa rapuh. Dan tidak semua orang siap memegang sesuatu yang rapuh. Beberapa orang hanya ingin yang ringan, yang tidak menuntut, yang bisa ditinggalkan tanpa penjelasan. Dimas menutup mata sejenak. Ia tidak menyesal pernah merasa takut. Ia hanya menyesal pernah menganggap ketakutan itu sebagai kelemahan. Kini ia tahu, rasa takut itu bukan tentang posesif. Bukan tentang cemburu. Itu hanya hati yang sedang meminta kepastian—pada hubungan yang sejak awal tidak pernah berani menamakan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN