Bab.4 Kenyataan Pahit

1057 Kata
  "Bu, lagi di mana sekarang?" Suaranya terdengar begitu bahagia, dengan sebuah medali emas dan juga piagam di tangannya.   Baru saja dia mendapat penghargaan atas keberhasilannya meraih juara satu, lomba menulis puisi antar kota. Senyumnya merekah, saat mendengar sahutan di seberang sana.   "Ibu lagi di jalan, Fel. Habis nganterin Ayah check-up ke rumah sakit. Ada apa?"   "Jemput Feli sekalian, Bu. Ini udah di depan gerbang sekolah," pintanya, sembari sesekali mencium medali itu.   Tangan kanannya tetap fokus pada benda pipih yang menempel di telinganya. Sedangkan hatinya tengah berbunga-bunga, ingin segera menunjukkan hasil prestasinya itu pada kedua orangtuanya.   "Ya sudah, tunggu sebentar ya, Sayang. Sebentar lagi ibu sampai situ."   Baru juga hendak menjawab perkataan ibunya, saat tiba-tiba terdengar decitan rem yang begitu nyaring, serta teriakan kedua orang terkasihnya itu di seberang sana.   Matanya membelalak sempurna, "Ada apa, Bu? Hallo ... hallo! Bu, jawab Feli, Bu. Hallo!"   Suara sambungan terputus, bersama luruhnya ponsel dan juga medali serta piagam, yang sedari tadi dipegangnya. Tubuhnya lunglai tak berdaya.   "Allah ... Semoga tidak terjadi apa-apa pada kedua orang tuaku. Lindungilah keduanya, Ya Allah," gumamnya.   Kemudian diraihlah ponselnya itu. Mencari lokasi terakhir kedua orangtuanya saat berkomunikasi. Ketemu. Sekitar dua kilometer dari tempatnya berdiri sekarang. Dia pun segera menyambar tasnya yang tergeletak di atas paving block, memasukkan semua barangnya, dan mencari tukang ojek yang terdekat.   Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat itu. Kini, yang terlihat hanyalah bangkaian mobil yang tertabrak truk bermuatan pasir, yang dia ketahui nomor polisinya adalah ... milik orangtuanya.   Wajahnya berubah pias, tubunya lunglai. Apalagi saat melihat siapa yang terbaring lemah di atas brankar dengan berlumuran darah, sedang dibawa masuk ke dalam ambulans oleh petugas.   Hatinya hancur. Air mata tak bisa lagi ia bendung. Dia telah ... rapuh. Kemudian, tak lama ia berpikir, sampai sambungan telepon pun akhirnya terhubung.   "Ra, ke rumah sakit sekarang! Kakak tunggu di depan gerbang. Ajak Fredy juga, ini penting!"   Tanpa mempedulikan jawaban di seberang sana, langsung diputusnya sambungan tersebut. Dia pun segera berlari menemui tukang ojek yang mengantarnya tadi, kemudian melesat menuju rumah sakit.   Tiga jam berlalu. Datang seorang dokter menghampiri mereka. Menyampaikan kenyataan pahit yang seharusnya tak ingin dia telan. Bahwa kedua orangtua mereka kini telah ... tiada.   .    "Hey! Kenapa kamu?" tanya Angga, sambil melempar sekotak tissu ke arah Felisha yang kini tengah melamun sambil mengelap kaca. Matanya terlihat begitu sembab.   Felisha tersadar, dia segera mengambil sekotak tissu yang jatuh menimpa kakinya. Kemudian mengambil beberapa lembar untuk mengusap sisa air mata yang mempel di pipinya.   'Kok aku bisa nangis, sih?' gumamnya, sambil mengelap pipi dan juga bawah sudut mata. Lalu beralih pada hidung.   "Dih! Jorok amat, sih! Buang noh, di tempat sampah!" cela Angga sembari bergidik, kemudian melirik tempat sampah di pojok ruangan itu.   Tak ingin berdebat, Felisha pun akhirnya mengikuti saja semua yang diperintahkan atasannya itu. Bukan hanya itu, sepanjang waktu dia habiskan untuk melakukan pekerjaannya tanpa sepatah katapun terucap.   'Sebenarnya gadis ini kenapa, sih? Dari tadi diam mulu. Nggak kayak kemarin.' Sambil menatap komputernya, Angga bergumam. Sesekali matanya melirik karyawannya itu.   "Buatkan saya kopi!" Akhirnya itu yang dia perintahkan, untuk menghilangkan jenuh yang mendera.   Tanpa menjawab, Felisha pun segera berlalu meninggalkan atasannya yang tengah berkutat dengan komputernya.   Sebenarnya saat ini pikirannya tengah tertuju pada adiknya yang kini tengah dirawat di rumah sakit. Setelah semalam pihak klinik tak mampu menangani adiknya, dan hanya memberi surat rujukkan untuk pihak rumah sakit.   Tubuhnya yang sebenarnya terasa letih, ia jaga sekuat mungkin. Agar tak terlihat rapuh di depan atasannya. Sampai di dapur, dia segera mengambil cangkir dan juga kopi plus gula.   "Jangan pakai itu!" Sebuah suara terdengar begitu nyaring, menghentikan aktivitasnya. Dia pun menoleh, mendapati seseorang tengah bersedekap menatapnya.   "Pak Andi?" Sapanya, kemudian mengangguk hormat.   "Kamu mau buat kopi untuk Angga, 'kan? Dia tidak suka kopi plus gula." Sambil mendekat ke arahnya, kemudian duduk di kursi yang tak jauh darinya.   "Dia lebih suka kopi dengan sedikit gula, kemudian diberi sedikit s**u segar," tambahnya.   "Oh ... baik, Pak." Kemudian dia segera melakukan apa yang diberitahukan oleh atasannya tadi.   Sempat ragu saat membuka pintu, tetapi tetap ia lakukan tanpa banyak bicara. Diletakkannya secangkir kopi itu di atas meja atasannya. Kamudian kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.   Selang beberapa menit, Angga meraih cangkir kopinya, kemudian meminumnya sedikit. 'Cih! Ternyata pintar juga dia bikin kopi. Eh, tunggu. Sejak kapan dia tahu kopi kesukaanku seperti ini? Setahuku, hanya Andi dan Anna yang mengetahuinya,' batin sang direktur.   "Siapa yang mengajarkanmu membuat kopi ini?" selidiknya, Felisha pun segera menghentikan pekerjaannya, kemudian menoleh.   "Kebetulan saya bisa sendiri, Pak," kilahnya. Sempat mengulum senyum, saat melihat atasannya itu mendelik menatapnya.   "Mana mungkin! Di sini hanya ada dua orang yang tahu seperti apa seleraku. Katakan, siapa yang memberitahumu?"   Dia menghela nafas. "Iya deh, ngaku. Pak Andi yang ngasih tahu," jawabnya, sambil melanjutkan pekerjaannya.   "Cih! b*****h itu! Gagal sudah rencanaku buat ngerjain dia." Angga mendengkus kesal, kemudian kembali menatap komputernya.   'Apa? Jadi dia tadi berniat ngerjain aku?! Bener-bener tuh orang, untung ada Pak Andi yang nyelametin,' batinnya.   .    Jam makan siang telah tiba. Dia bergegas keluar dari kantor, setelah memastikan atasannya telah pergi dari ruangan itu. Pikirannya telah melayang, bersama dengan langkah kaki yang telah melesat jauh dari wilayah kantor.   Segera ia berlari, menyusuri koridor rumah sakit itu. Pandangannya tetap lurus, sambil sesekali membaca papan nama di setiap ruangan. Jarak antara rumah sakit dan kantor tempat ia bekerja memang tak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit kalau ditempuh dengan berjalan kaki.   Hari ini hasil CT Scan adiknya keluar. Dia tak mau melewatkan kesempatan itu, untuk mengetahui sebenarnya penyakit apa yang diidap oleh adiknya. Perasaan cemas kian menguasai hati. Apalagi saat melihat dokter yang menangani adiknya kemarin, berjalan mendekatinya.   "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" Berusaha mencairkan suasana, sambil mengorek berita tentang keadaan adiknya.   "Dia tengah beristirahat. Mari, ikut saya. Ada yang mau saya tunjukkan sama kamu," ujar dokter itu, Felisha pun segera mengikuti langkahnya.   "Ini, hasil CT Scan adikmu." Sambil menyerahkan sebuah map berwarna cokelat, berisi hasil CT Scan tentang penyakit adiknya.   Felisha pun segera membuka map itu, melihat gambarnya dan membaca hasilnya. Matanya membelalak sempurna, tangannya gemetar memegang map itu, setelah ia membaca isinya.   Tak terasa, map itu terlepas dari tangannya. Bersama bulir bening yang terjatuh dari sudut matanya. 'Ya Allah ... kenapa kenyataannya sepahit ini?' lirihnya.   Dokter yang tadi memberinya map, mengusap pundaknya. Mencoba menguatkannya. "Masih ada jalan untuk adikmu bisa sembuh."   Seperti angin segar yang menerpa wajahnya. "Apa itu, Dok?"   "Dengan cara ... operasi."   ***EA***   Next
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN