“Soal itu aku bakal jelasin nanti,” jawab Gala datar yang terkesan tidak memperhatikan Sasha. Gala bahkan langsung mengajak bicara Erlang tanpa peduli lagi dengan Sasha. “Erlang, kamu sama mama kamu dulu, ya?” ucapnya pada Erlang.
Namun, Erlang langsung menggeleng, bahkan semakin mempererat pegangannya pada kaki Gala. “Gak mau Papa. Aku maunya cama Papa. Aku kangen cama Papa.”
Raut memohon yang ditampilkan Erlang, jelas membuat Gala tidak bisa menolak kemuan anak itu. Apalagi, mata Erlang terlihat berkaca-kaca ketika berucap.
Tak ada pilihan, Gala akhirnya menggendong Erlang meski awalnya ragu. Bukan karena tidak suka, Gala hanya berusaha menghindar dan memberi jarak kepada Erlang setelah tahu kenyataan sebenarnya. Meski tahu anak kecil itu tidak bersalah, namun, Gala takut jika Erlang dijadikan Karin sebagai alat supaya Gala tidak bisa lepas darinya, sama seperti yang sudah-sudah. “Baiklah. Kamu duduk di sini diem, ya,” ucap Gala pada Erlang sambil meletakkan anak kecil itu di kursi pelaminan.
Anggukan yang terlihat menggemaskan itu membuat Gala tak bisa jika tak menciumnya. Gala lantas duduk di sebelah Erlang dan mengusap-usap kepala anak itu.
Merasa terabaikan, Sasha lantas pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Gala. Dia menjinjing tinggi gaun putihnya dan berjalan cepat menuju toilet, tak peduli dengan beberapa orang yang mungkin membicarakannya.
“Dasar Om Gala! Jadi laki-laki kenapa gak peka banget, sih?” gerutu Sasha sambil mencuci tangan di wastafel. Dia sangat kesal, meski tahu jika dirinya tidak berhak marah.
“Ayolah, Sha. Kenapa kamu baper gini,sih? Di kontrak sudah tertulis jelas kalau kamu gak boleh cemburu, kan?” Sasha mencoba menguatkan diri sendiri. Ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan. Meski sudah menguatkan diri, anehnya dia selalu terbawa suasana. Dia lantas mencuci wajahnya dengan air mengalir, berharap bisa menyegarkan otaknya. Beruntung, riasannya tidak luntur meski Sasha membasuh mukanya.
Setelah berhasil menguatkan sekaligus menenangkan diri, dia kembali ke tempat resepsi. Namun, dia sudah tidak lagi melihat Erlang di sana. Entah ke mana anak kecil itu pergi, Sasha tidak mau memikirkannya. Dia lantas mengangkat sedikit gaun pengantinnya untuk memudahkannya berjalan dan kembali duduk di kursi pelaminan.
“Dari mana?” tanya Gala setelah Sasha duduk di kursi.
“Dari toilet,” jawab Sasha datar. Dia tidak berani menatap Gala karena takut raut kesalnya terbaca.
“Ngapain?”
Pertanyaan Gala langsung mengundang amarah Sasha. Alis Sasha seketika mengkerut. “Maksudnya ngapain?”
“Harusnya kamu pamit ke aku dulu. Aku bingung jawab kalau ada tamu yang nanyain di mana pengantin wanitanya.”
“Oh … ternyata karena itu.” Sasha jelas kecewa dengan jawaban Gala yang tidak memenuhi ekspetasinya. Mungkin dia terlalu berharap tinggi jika Gala mencarinya karena peduli.
“Aku gak harus lapor setiap saat ke Om, kan? Lagian ada aku atau enggak di sini, gak ada bedanya, kan?” ucap Sasha kesal.
Paham dengan maksud Sasha, Gala mengangguk pelan sambil tertawa meremehkan. “Oh … kamu marah karena Erlang ke sini?”
“Enggak lah! Ngapain!” sanggah Sasha cepat. Dia hanya tidak suka dengan keberadaan Karin di sini yang bisa saja mencuri hati Gala. Apalagi tampilan Karin yang dibalut dengan gaun merah itu, terlihat sangat mempesona. Sasha saja merasa iri dengan kecantikan yang Karin tampilkan. Dia hanya takut Gala terpesona dengan mantan istrinya.
“Ingat! Di kontrak, tertulis kalau kamu tidak boleh menyimpan perasaan kepadaku.” Gala mencoba mengingatkan.
Ya, Sasha tahu. Hanya saja hal itu terlalu sulit dilakukan karena dari awal memang dia menyimpan rasa kepada Gala. “Gak janji!” ucapnya ketus sambil melengos.
Beruntung, percakapan terhenti karena ada tamu undangan yang meminta foto. Meski suasana di keduanya canggung, mereka harus menerima ucapan selamat dari para tamu dan berfoto sambil tersenyum.
Hingga malam, resepsi pun hampir berakhir. Para tamu mulai berpamitan untuk meninggalkan tempat. Sasha sangat lega karena Karin tidak lagi menampakkan diri ataupun naik ke atas panggung untuk bersalaman dengannya. Ketika acara benar-benar selesai, Sasha menghempaskan diri di sofa, memukul-mukul pundak dan lengannya yang terasa pegal di ruang ganti pengantin.
“Ehem yang mau malam pertama?” goda Rena, saat dirinya masuk ke dalam ruang ganti pengantin.
“Apaan sih, Ren,” protes Sasha sambil tersenyum getir. Bagaimana bisa membayangkan malam pertama, kalau pasangannya saja sama sekali tidak tertarik dengannya.
Sasha jadi teringat dengan insiden laba-laba di dalam mobil Gala kala itu. Seharusnya, laki-laki normal akan terpancing jika berdekatan dengan wanita. Mereka bahkan saling bersentuhan waktu itu. Namun, reaksi Gala terlihat biasa saja, seolah tunjukkan sama sekali tidak tertarik dengan Sasha. Ingat hal itu, Sasha jadi kecewa.
“Sha, jangan dilepas dulu baju kamu!?” ucap Rena sambil mendekat ke arah Sasha dan mencekal pergeralangan tanag Sasha yang hampir menurunkan resleting gaunnya.
“Kenapa?”
“Mamah sudah siapin kamar hotel untuk malam pertama kamu dan Om Gala,” ucapnya sambil tersenyum nakal.
Mendengar hal itu, pergerakan Sasha langsung terhenti. Sekelebat pemikiran kotor mulai memenuhi pikirannya. Namun, ia langsung menggeleng menghempaskan segala macam pemikiran kotornya. “Mana mungkin Om Gala bakal nyentuh aku. Di mobil waktu itu aja dia sama sekali enggak nafsu,” batinnya.
“Jangan dipelas dulu, Sha. Biarin Om Gala yang lepasin baju kamu. Terus ….” Rena sengaja menggantung kalimatnya dan berkeling nakal sambil cekikikan.
“Ah, udah, ah Ren. Kamu bikin aku malu aja!” protes Sasha sambil menutup wajahnya yang memerah.
Rena semakin terbahak melihat reaksi Sasha. “Ya udah yuk keluar! Om Gala pasti udah nunggu kamu di luar.”
“Hah? Nungguin aku?” Sasha merasa tidak percaya dengan ucapan Rena. Tapi, ia hanya bisa pasrah saat Rena terus menarik pergelangan tangannya menuju luar dan menemui Gala.
Gala awalnya sedang berbincang dengan Hendra, seketika menoleh karena teriakan Rena. “Om ini pengantin wanitanya!”
“Apaan sih, Ren, pake teriak-teriak segala,” protes Sasha sambil menyenggol lengan temannya itu. Sementara temannya itu masih betah cekikikan sambil mengantar Sasha.
“Makasih ya, Ren sudah bawa Sasha ke sini,” ucap Gala berlagak bahagia. Padahal Sasha tahu jika laki-laki itu sedang bersandiwara karena ada Hendra di sana.
“Sama-sama, Om.” Rena melepaskan tangannya dari Sasha dan mendorong pelang tubuh Sasha untuk lebih dekat dengan Gala. “Kalau gitu, Pak Hendra pulang sama aku aja. Nanti biar diantar Papah pulang.”
“Boleh, Rena,” jawab Hendra masih terdengar lemah. Dia lantas beralih ke Sasha dan berpesan, “Sha, Bapak pulang dulu. Kamu jaga diri, ya?”
Sasha memaksakan senyum saat menjawab, “Iya, Pak. Bapak gak usah khawatir.”
Hendra tersenyum membalas Sasha. “Nak Gala, aku pamit dulu. Titip Sasha, ya.”
“Iya, Pak. Bapak tenang aja.”
Setelah berpamitan, kini hanya tinggal Gala dan Sasha yang tersisa. Ketika hanya berdua, Gala kembali dalam mode cueknya. Dia membalikkan badan dan berjalan mendahului Sasha. “Ayo pergi ke kamar!” ucapnya tanpa repot-repot berhenti atau berbalik.
Tentu saja Sasha harus menghempaskan jauh-jauh bayangannya tentang nikmatnya gendongan Gala. Ya, dia sempat membayangkan hal itu saat menuju kamar hotel. Namun, sadar jika hal itu tidak akan pernah ia dapatkan, ia segera menggeleng.
“Iya, Om,” jawabnya sambil mengikuti langkah Gala, menuju lantai atas tempat kamar mereka dipesan.
Setelah menempelkan kartu magnetik pada gagang pintu, Gala dan Sasha segera masuk ke dalam kamar hotel.
Jika Sasha terlihat sangat gugup sejak di awal, berbeda dengan Gala yang terlihat sangat santai. Laki-laki itu bahkan merebahkan badannya pada ranjang tunggal di sana yang telah dihiasi dengan taburan bunga mawar, khas kamar pengantin baru pada umumnya.
Sasha yang awalnya bingung harus berbuat apa, turut duduk di sisi ranjang satunya karena dia juga merasakan pegal di seluruh tubuhnya.
Namun, belum sempat ia mendaratkan b****g, tiba-tiba suara Gala membuatnya urung. “Eh, tunggu dulu. Kita bikin perjanjian dulu,” ucapnya sambil terbangun dari baringannya.
“Apa itu, Om?” tanya Sasha yang masih dengan posisi berdiri di samping ranjang.
“Aku gak bisa tidur satu ranjang denganmu, Sha. Jangan harap kita bisa tidur satu ranjang. Mengerti?”
Merasa dirinya yang paling berharap, Sasha buru-buru membantah. “Memangnya siapa yang ngarep bakalan tidur satu ranjang, Om? Om gak lihat apa kalau ranjangnya cuma satu?”
Merasa kesal, Sasha berencana pergi meninggalkan kamar. Namun, baru saja melangkah, kaki kirinya justru tersandung kaki kanannya sendiri yang membuatnya terhuyung hampir terjauh.
Dan anehnya lagi, Gala justru sigap segera menangkap tubuh Sasha meski harus melompat melewati ranjang. Alhasil, kini mereka terjatuh di lantai dengan posisi Sasha yang berada di atas tubuh Gala dengan bibir yang saling menempel.