PACTA | 5

1058 Kata
Safira tiba di rumah itu dua puluh menit kemudian, dan tentunya tanpa Sean. Entah dimana lelaki itu. Safira kira Sean sudah tiba lebih dulu, tapi begitu sampai, Safira tidak melihat batang hidungnya di sana. Chat terakhir yang Safira kirim bahkan belum dibaca oleh lelaki itu. Mami sempat bertanya, dan Safira jawab kalau Sean sedang sibuk. Padahal ia sama sekali tidak tahu dimana lelaki itu. Entah masih hidup atau tidak, terserah lah, pokoknya kalau mengingat Sean membuat dirinya merasa kesal. Saat ini Mami dan Safira sedang sibuk di dalam dapur. Niatnya adalah untuk membuat makan siang bersama-sama, tapi karena Safira tidak bisa memasak. Niat itu berubah menjadi belajar memasak bersama. "Makanan kesukaan kamu apa, Fir?" Safira sedang memotong sayuran saat Mami bertanya demikian. Perempuan itu terdiam sejenak, menoleh sebelum kemudian menghentikan gerakan tangannya. "Apa aja Fira makan, Mi," ujarnya sambil memberi cengiran. "Gak ada pantangan makan gitu, atau alergi?" Mami menjauhi bowl sink, menghampiri Safira sembari mengelap tangannya yang basah ke atas apron. Safira menggeleng. "Gak ada, Mi. Dari kecil udah dibiasain makan yang ada aja sama Ibu." "Terus kalo masak, bisanya masak apa?" Mendadak Safira terdiam membisu. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh ibu mertua dan pasti sangat sulit untuk dijawab bagi menantu sepertinya. "Em ... Fira bisa masak telor sama mie instan sih, Mi." "Kalo ayam goreng?" Mami bertanya lagi sambil memandanginya. Ditatap oleh Mami untuk sebuah pertanyaan yang sulit dijawab membuat Safira menelan ludahnya kelat. Salah bicara sedikit saja bisa mampus dia. "Bisa ... Fira bisa kok masak yang langsung digoreng, tapi gak bisa ngeracik bumbunya." Mami mangut-mangut. "Fira mau gak Mami ajarin bikin ayam goreng?" Tanpa perlu menunggu, kepala itu refleks mengangguk cepat. "Mau, Mi ... Fira mau," ujarnya berbinar. "Ya udah, tinggalin dulu sayurannya. Kita bikin racikan bumbu ayam goreng aja, ya." "Hm." Safira segera meninggalkan potongan sayuran yang sedang ia potong itu untuk mengikuti langkah Mami. Di depan freezer, Mami mengeluarkan beberapa potong ayam, memberikannya pada Safira. "Sean itu suka banget sama ayam goreng, Fir ... makanya, kamu harus bisa masak ini." "Harus ayam goreng, Mi?" "Ya gak juga." Lalu Mami mengeluarkan bumbu-bumbu dari dalam kulkas. "Sean sebenarnya agak susah makan. Tapi kalo udah ada ayam goreng di atas meja, pasti dia langsung semangat makan." Safira terdiam seketika, menikah bersama Sean hampir melewati dua minggu memang tidak membuatnya hafal segala hal tentang lelaki itu, termasuk makanan. Mereka tidak pernah makan bersama. Setiap pagi Safira hanya melihat Sean meminun kopi, dan malam hari mereka bertemu hanya sekilas, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing tanpa tahu apa salah satu di antara mereka sudah makan atau belum. Hubungan mereka benar-benar sangat kacau. Pernikahan hanyalah sebuah status, selebihnya mereka hanya dua orang asing yang tak sengaja tinggal di satu atap yang sama. Mungkin kalau seperti ini terus, semua orang akan tahu bahwa tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka. Termasuk Mami yang semakin terlihat curiga pada keduanya. Ngomong-ngomong, kertas perjanjian pernikahan mereka masih tersimpan rapi di dalam lemari Safira. Meski secara lisan ia sudah membatalkannya, secara bukti itu masih tersimpan rapi. Haruskah ia melenyapkannya? "Kamu tahu Sean alergi, Fir?" Sontak Safira tersentak, menatap Mami dengan wajah terkejut. Sean alergi? Alergi apa lelaki itu? "Kamu gak tahu?" Mami bertanya lagi dengan penuh selidik, merasa curiga. Tapi langsung enyah begitu mengingat pernikahan anaknya yang baru memasuki minggu ke dua, dan tak lupa kalau sepasang suami istri itu harus melewati proses perjodohan lebih dulu. "Fira ... gak tahu, Mi," jawab Safira tergagap sembari melarikan pandangannya. "Sean gak cerita?" Boro-boro bercerita, yang ada malah mereka hanya akan bertengkar setiap ada di rumah. "Mungkin belum," kilahnya. Mami tersenyum, merasa maklum karena usia pernikahan mereka yang masih muda. "Sean alergi udang, Fir. Dia gak bisa makan seafood." "Udang, Mi?" Safira memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh wanita tua itu. "Meski cuma bubuknya aja, Sean gak bisa makan udang. Badannya pasti akan merah-merah, terus gatel gitu." Informasi itu terdengar penting, kalau suatu saat ada saudara yang bertanya atau teman Sean, atau mungkin Bapak. Safira harus bisa menjawabnya, kan? Meletakan potongan ayam yang berada di tangannya ke dalam bowl sink, Safira dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celana, lalu mengetikan sesuatu di sana. Tentu kegiatannya itu tak luput dari pengamatan Mami. "Kamu ngapain, Fir?" tanya Mami bingung. Safira mendongak, lalu tersenyum ke arah wanita yang sudah melahirkan suaminya itu "Fira mau catat apa aja makanan kesukaan Sean, sama alerginya. Biar gak lupa." Mami tergelak pelan, merasa lucu dengan kelakuan sang menantu. "Kenapa dicatat?" "Fira takut lupa, Mi ... nanti kalo ada yang tanya Fira gak bisa jawab." "Kalo ada yang tanya?" Mami sontak mengernyit. Astaga, Safira salah berbicara. Lagi pula kenapa ia harus menjawab seperti itu. Buru-buru Safira memperbaiki ucapannya. "Mak—sud, Fira, untuk menghindari Sean dari salah makan, Mi." "Oh gitu." Mami mengangguk seraya tersenyum tipis. "Pantas Sean pilih kamu jadi istri. Kamu lucu gitu." Kali ini kening Safira yang terlipat dalam, wajahnya terlihat bingung. "Maksudnya, Mi? Bukannya Fira sama Sean dijodohin, ya?" "Iya, memang dijodohin, tapi dia yang milih sendiri mau nikahin kamu." Membelalak, Safira terkejut. Melihat itu Mami pun akhirnya menjelaskan. "Gini loh, Fir. Sebelumnya Mami minta maaf, bukannya mau jadiin kamu cadangan atau apa gitu." Duh, Safira bingung. "Sean itu sebelum dikenalin sama kamu, pernah Mami jodohin juga sama anak temennya Mami, tapi banyak yang gak kuat sama sikapnya dia. Udah ada empat gadis yang coba Mami jodohin, tapi Sean langsung nolak mentah-mentah. Malah ada nih ya, Fir, yang sampe dia tinggal di pinggir jalan karena dia gak mau Mami suruh pengenalan dulu. Ya ampun ... Mami malu banget sama temen Mami itu." Safira masih menyimak cerita Mami. Diam-diam ia menahan bibirnya untuk tidak tertarik lebar. Safira jadi penasaran, bagaimana kabarnya perempuan yang Sean tinggal di pinggir jalan itu? "Mami sampe pusing ngadepin itu anak. Mami takut Sean gak mau nikah-nikah, masa anak Mami jadi perjaka tua." Mami bercerita seraya menerawang. "Tapi, Fir ... pas pulang setelah pertemuan pertama kalian, Sean tiba-tiba aja setuju, terus dia bilang cuma mau nikah sama kamu." Oke, tunggu. Pertemuan pertama? Safira mengerjap bingung. Memang saat itu Bapak pernah menyuruhnya untuk bertemu dengan anak sahabatnya, yang tak lain adalah Sean. Tapi ... saat itu mereka tidak bertemu setelah lima jam Safira menunggunya di taman. Sean tidak datang, Safira menunggunya sendirian di sana. Hingga dua hari kemudian, pihak Sean mengatakan akan datang ke rumah untuk melamar Safira. Jadi, kapan pertemuan pertama mereka? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN