Secara sengaja aku mengikuti langkah Sinta. Kemana sebenarnya dia hendak pergi sampai tergesa-gesa seperti itu. Meskipun badan masih terasa lemas, aku terpaksa menyimpan kursi roda dan mengikuti Sinta dengan terseok-seok. Ketika aku sedang mengikuti langkahnya yang hampir sampai ke kamar Umi, dia memutar tubuhnya dan kembali ke dalam kamar yang sudah kosong beberapa bulan lalu. Kini aku sengaja berdiri tidak jauh dari ruangan itu untuk melihat siapa yang akan dia temui dan apa yang akan dibicarakannya. Tidak lama yang datang adalah Umi, lalu menarik Sinta untuk masuk ke kamar yang dulu pernah di tinggalinya itu. Jangan bertanya apa aku sudah mulai mengingat, karena aku memang mengingat semuanya. Hanya saja inilah satu-satunya cara agar aku bisa menahan Sinta tetap berada di sisiku. Aku

