Sinta "Kenapa tidak bicara? Apa karena dalam hatimu tidak ada yang bisa menggantikan posisi ustadz Fahmi?" tanyanya yang lagi-lagi membuatku naik darah. "Bagaimana aku bisa bicara jika kau terus mengoceh seperti itu," ucapku jengkel. "Maksudnya?" tanyanya dengan memasang wajah polos. Sepertinya dia memang buka seorang pimpinan. Bagaimana mungkin hal ini pun dia tidak faham. "Cintaku padanya sudah hilang. Seiring dengan penghianatan yang dia lakukan," lirihku yang akhirnya memilih jujur untuk mengungkapkan. "Jadi kamu menerima lamaranku?" tanyanya semangat dengan penuh rasa percaya diri. Matanya menatapku lekat. "Siapa bilang. Emang kapan Bapak pimpinan melamarku," godaku padanya. "Jika kau meminta, aku akan melamarmu saat ini juga. Jangan panggil Bapak. Sebut saja namaku. Dan ya, ja

