Badanku seketika kaku. Tubuhku seakan tertampar. Jiwaku bagai tersambar petir disiang hari ketika mendengar apa yang baru saja Sinta katakan dan caranya berbicara. Dia yang sekarang sudah seperti bukan Sinta yang dulu. Kini dia bagai menjadi dua orang yang berbeda. Perkataan Sinta sungguh membuatku semakin diam. Bibir ini seakan kelu untuk berucap. Aku tidak menyangka Sinta begitu saja melupakanku. Melupakan hubungan yang pernah terjalin di antara kita. Ustadz Rahman menatapku dengan penuh tanda tanya. Sengaja aku menyetel volume paling rendah, tadinya untuk bisa mendengar kata-kata rindu atau ucapan semacamnya. Tapi siapa sangka ternyata malah hal buruk yang dia katakan. Melihatku yang semakin diam, ustadz Rahman memilih mendekat dan mencoba meraih gawai, tapi aku langsung menjauhkann

