AKU 17 TAHUN DAN SUAMIKU 40 TAHUN
Part 10
Pagi-pagi sekali Mas Joko sudah menyiapkan beberapa baju ke dalam tasnya, aku tidak tahu dia mau pergi ke mana tapi memang dari kemarin tidak ada membicarakan apapun.
'Mau kemana sih?' gumamku dalam hati.
Aku masih berpura-pura tidur melihat gerak-geriknya, kenapa aku berfikiran kalau Mas Joko seperti akan pergi jauh.
Aku masih belum bertanya sampai sarapan, berharap aku akan mendengar penjelasan Mas Joko bersama ibu di sini.
"Bu, Joko pamit pergi dulu selama seminggu ada urusan penting," kata Mas Joko sambil menikmati sarapan pagi ini.
Akhirnya terjawab sudah kecemasanku, Mas Joko memang benar-benar akan pergi tanpa memberitahu aku terlebih dahulu.
Meskipun aku cuek tapi biasanya Mas Joko akan bercerita apapun meskipun aku tak menggubrisnya.
"Loh kok mendadak gitu? Memangnya ada urusan apa?" Tanya ibu sedikit kaget.
"Iya Bu, memang mendadak maaf ya Bu, Joko haruskah kasih tau mendadak seperti ini" jawabnya singkat.
Mau kemana mas Joko tiba-tiba pergi selama satu Minggu, tadi malam pun dia tak membicarakan apa-apa, bahkan terakhir kali aku melihat kontak bernama Elsa itu ngirim banyak pesan.
"Din, aku pergi dulu ya," ucap Mas Joko padaku.
"Eh Joko! Kamu mau kemana jelaskan dulu pada kita?" Kata ibu.
Akhirnya ibu mewakili pertanyaan yang ada di benakku, sebenarnya itu yang ingin aku tanyakan juga tapi malu untuk mengungkapkannya.
"Ada urusan Bu, nanti kalau Joko sudah pulang baru deh akan Joko ceritakan semua, tidak lama kok Bu," jelas Mas Joko.
Hem, apalagi yang disembunyikannya? Apa salahnya memberitahu sekarang kenapa harus nanti nanti.
"Memangnya tidak bisa ngajak Dinda? Bawa saja masa kamu mau pergi sendiri," ujar ibu.
"Nanti yang jaga ibu siapa? Joko tidak lama kok Bu, ibu jangan cemas gitu dong," Mas Joko dari tadi berusaha menenangkan ibu.
"Besok saja berangkatnya, sekarang ibu mau Masakin rendang dan tempe kering untuk bontot," ujar ibu.
"Tidak usah repot-repot Bu, disana juga banyak makanan kok kan Joko bukan mau pergi ke hutan," kata Mas Joko sambil tertawa.
Mas Joko yang sudah selesai sarapan langsung pergi ke kamar untuk mengambil beberapa tasnya.
Mas Joko memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil, aku dan ibu hanya bisa melihatnya dengan banyak tanda tanya.
"Jadi yang urus pabrik kayunya siapa?" Tanya ibu.
"Sudah ada yang Joko perintahkan untuk mengurus pabrik beberapa waktu ke depan, ibu dan Dinda pokoknya tenang saja deh," jelas Mas Joko.
"Hati-hati Joko, kamu ini bikin ibu sedih saja," lirih ibu.
Mas Joko langsung menghampiri dan memeluk ibu, Mas Joko malah tersenyum melihat ibu menangis.
"Ibu jangan nangis dong, apa ibu kira Joko mau merantau? Hehe...anggap saja Joko mau main Bu, hanya seminggu kok," kata Joko.
Mas Joko terus menghibur ibu saat semua keadaan sudah tenang Mas Joko bergegas naik ke dalam mobil.
"Ibu, Dinda, Joko pamit ya cuman sebentar kok," ucapnya lagi.
Aku dan ibu mengantar kepergian Mas Joko di halaman depan hingga bayangan mobil Mas Joko hilang tak terlihat lagi.
"Kok mendadak ya Bu?" Tanyaku penasaran pada ibu.
"Iya ibu juga tidak tahu, apa Joko tidak ada bilang apa-apa sama kamu?" Kini ibu menanyakannya padaku.
Aku menggeleng pada ibu, menandakan bahwa aku tidak tahu menahu soal kepergian Mas Joko.
Saat aku dan ibu beres-beres di dapur aku masih kepikiran soal Mas Joko, tidak biasanya dia seperti ini.
Prank... tiba-tiba aku tidak sengaja menjatuhkan gelas hingga pecah, sepertinya tadi aku tidak sengaja melamun.
"Dinda! Jangan melamun Nduk," kata ibu.
Aku mengangguk dan langsung membersihkan serpihan gelas kaca yang pecah.
"Oh iya Bu, bagaimana kalau nanti kita main tempat ibu Dinda," ujarku pada ibu karena ibuku dan mertuaku sama sekali belum pernah bertemu, karena di hari pernikahanku ibu mertuaku tidak hadir.
"Oh iya-iya nduk," jawab ibu dengan senang.
Aku dan ibu mertuaku memutuskan nanti siang akan main ke tempat ibuku yang rumahnya tidak jauh dari sini.
Akupun segera menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat, dan langsung bergegas untuk mandi.
"Bu, ayo kita pergi," Aku memanggil ibu pelan di depan pintu kamarnya, namun sama sekali tidak ada jawaban, saat aku mendorong sedikit pintunya terlihat ibu sedang tertidur pulas, tak tega aku membangunkannya labih baik aku pergi sendiri saja.
Langsung saja aku bergegas pergi kerumah ibu yang jaraknya tidak terlalu jauh itu.
***
Aku memarkirkan motor, hari ini sepertinya aku akan main lama karena kemarin aku hanya sebentar di rumah ibu.
"Assalamualaikum ibu, ayah, Salsa," ucapku sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah ibu.
"Waalaikumsallam, eh Kak Dinda datang," ujar Salsa menyambut ku.
"Ibu mana Sa?" Tanyaku.
"Ada di belakang," jawabnya.
Aku dan salsa pun pergi kebelakang untuk menemui ibu dan ayah.
"Eh Dinda kamu datang, sama siapa?" Tanya ibu lalu menghampiriku.
"Sendirian Bu," jawabku singkat.
"Kenapa tidak pernah main sama Joko? kalau Joko main kan enak apa-apa pasti dia beliin untuk ibu," kata ibu sambil manyun.
"Mas Joko saja tidak ada di rumah Bu," kataku.
"Kemana dia?" Tanya ibu penasaran.
Akupun menejelaskan kepergian Mas Joko yang tiba-tiba itu selama satu Minggu, namun ibu menanggapi nya dengan tidak baik.
"Pasti kamu masih jual mahal sama Joko, kalau dia pergi untuk nikah lagi gimana coba," kata ibu sedikit marah padaku.
Hah? Apa mungkin karena aku tidak mau memiliki anak darinya, Mas Joko lalu pergi untuk menikah lagi.
"Ada apa Bu, kok teriak-teriak gitu?" ujar ayah yang ikut berkumpul bersamaku dan ibu.
"Joko pak! pergi mendadak entah kemana, pasti gara-gara si Dinda itu pak," ujar ibu yang langsung menatap wajah ayah dengan serius.
Ibu menyalahkanku atas kejadian ini, ibu menyangka kalau aku masih jual mahal dan tidak mau melayani Mas Joko, padahal apa yang diucapkan ibu memang benar sih.
Ah aku jadi semakin bersalah dan takut kalau Mas Joko benar-benar menemui istri barunya.
"Wah kemana perginya si Joko ya Bu," ayah kembali bertanya pada ibu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ibu takut dia akan menikah lagi," kata ibu.
"Sudahlah pak,Bu, biarkan saja mas Joko menikah lagi, kalau memang begitu kan Dinda bisa dengan mudah minta cerai," kataku kesal bercampur takut.
Bahkan ibu lah yang lebih takut dariku, sangat khawatir dan cemas tapi entah apa yang sebenarnya ibu khawatirkan.
"Hustt...kamu itu ngmong apa, ibu tidak rela kamu bercerai dengan Joko, dari mana coba ibu dan ayah bisa mendapat uang yang banyak kalau buka dari dia! Lagian kamu mau menjadi janda? Jangan bicara aneh-aneh kamu!" Ibu justru malah membentakku.
"Sudahlah Bu, Dinda mau pulang saja, disini juga malah pada ribut," kataku yang langsung beranjak berdiri.
"Eh awas saja ya sampai kamu bercerai, saran ibu jika nanti Joko pulang kamu harus baik padanya jangan sok jual mahal lagi," teriak ibu.
Ibu mewanti-wanti ku sambil memegang erat tangan kananku.
"Dinda! Duduk dulu ayo kita bicarakan baik-baik," kata ayah.
Ibu yang ketawa sih pergi dan tidak mau berbicara denganku dan ayah lagi.
"Kalian ada masalah?" Tanya ayah.
"Tidak, kamu baik-baik saja dan tidak ada masalah yah, hanya saja Mas Joko berpamitan karena ada urusan mendadak," jelasku.
Ayah langsung terdiam seperti memikirkan sesuatu, aku berharap ayah bisa mendapatkan jawaban dari kegelisahanku.
"Em, Joko itu kan punya pabrik kayu jadi wajar saja kalau dia banyak urusannya, yang penting kamu tidak buat masalah dan jangan berfikir yang tidak-tidak," jelas ayah.
Aku juga berharap sama kalau Mas Joko pergi hanya sebatas untuk mengurus pekerjaannya.
"Kalau pekerjaan pasti bakal dijelaskan Yah!" Sahut ibu dari belakang.
"Ibu jangan buat dinda semakin takut dong," ujar Ayah.
"Bukannya gitu Yah, tapi kita harus mengajarkan si Dinda itu, dia pasti tidak memperlakukan Joko dengan baik, ibu yakin itu," kata ibu.
"Ayah tau sendiri kan gimana sikap si Dinda itu!" Ibu memang terlihat sangat kesal sekali.
"Sudahlah Bu! Jangan marah-marah terus!" Kata Ayah.
Akhirnya semuanya diam begitu juga dengan ibu yang berhenti mengomel, aku langsung pergi menemui Salsha.
Aku menonton bersama Salsha, karena kalau pulang pun pasti aku akan kesepian karena ibu masih tidur.
"Kak Dinda jarang kesini kenapa?" Tanya Salsha.
"Kakak kan sibuk," jawabku.
"Om Joko mana Kak?" Tanyanya lagi.
Salsha memang sudah biasa memanggil Mas Joko dengan sebutan Om.
"Pergi main klereng," jawabku kesal.
Kenapa juga Salsha menanyakan orang itu lagi, padahal aku sedang kesal jika mendengar namanya.
Sampai-sampai aku ketiduran bersama Salsha di depan TV, saat aku bangun hari sudah sore.
Akhirnya aku langsung berpamitan untuk pulang karena pasti ibu sendirian di rumah.
"Ayah, ibu, Dinda pulang dulu ya sudah sore," kataku dengan terburu-buru.
Ayah mengantarku bersama Salsha sampai halaman depan, Ayah bilang juga aku harus segera menghubungi Mas Joko.
✨✨✨
Tolong!!! Tolong!!! Mas Joko kemana ya??
Hayoo ada yang tau kemana Mas Joko pergi?