4
Pada akhrinya Gadis harus menolak ajakan Aurel untuk pergi ke sebuah mall yang dimaksud. Tentu saja itu terjadi karena sang ayah yang menyuruhnya untuk cepat pulang dengan alasan ibunya yang katanya kembali mengamuk.
Ini sudah sering terjadi. Disaat remaja lain bisa menghabiskan waktu pulang sekolahnya dengan main terlebih dulu bersama teman-teman, atau hanya sekedar jalan-jalan, nongkrong bareng. Tidak dengan Gadis yang diusia itu harus bergelut dengan tanggung jawab yang tidak ada habisnya. Belum lagi sang ayah yang selalu menuntutnya untuk mendapatkan banyak uang saat sekali kerja.
Hari ini Gadis lagi-lagi tidak bisa menolak keinginan Juna yang mengantarkannya pulang. Padahal tadinya Gadis sudah berusaha keras menolak. Tapi Juna tetap saja tidak menyerah untuk memaksanya pulang bersama.
Biarpun Juna sudah beberapa kali mengantar Gadis pulang, tapi cowok itu tidak pernah sekalipun berkunjung kerumah Gadis, lantaran Gadis yang selalu saja melarangnya dengan alasan takut sang ayah marah.
Bahkan saat mengantarnya pun, Gadis selalu minta diturunkan di depan gang rumahnya. Untuk saat ini pun juga begitu.
"Makasih ya, udah nganterin aku pulang." Kata Gadis saat sudah turun dari boncengan motor sang pacar. Melepas helm dan memberikannya pada Juna.
"Apa kali ini, aku masih belum boleh mampir ke rumah kamu?" cetus Juna melontarkan tanya dengan hati-hati.
Gadis diam sebentar sebelum akhirnya bersuara meminta maaf. "Maaf..." katanya, dengan perasaan tidak enak. Pasalnya memang Juna sudah sering sekali mengatakan jika ia ingin berkunjung sebentar ke rumah Gadis, tapi Gadis selalu saja mengatakan hal yang sama. Takut jika sang ayah marah padanya jika tau dirinya membawa cowok kerumah.
"Terus kapan Dis, kamu bolehin aku main kerumah kamu? Atau seenggaknya biarin aku anter kamu sampai depan rumah."
Gadis memilin jari dengan kepala tertunduk. "Untuk sekarang, aku masih belum siap."
"Memangnya ayah kamu segalak itu? mungkin aja kan, itu cuman ketakutan kamu aja. Kan belum di coba. Siapa tau pas ketemu dan kenal aku, ayah kamu malah biasa-biasa aja tanggapannya. Gak seekstrim yang kamu fikir." Tutur Juna berspekulasi.
"Juna, please....bukannya kamu pernah bilang bakalan ngertiin aku."
"Aku udah berusaha ngertiin kamu, Dis." Lirihnya. "Kita bahkan jarang bisa keluar malam. Ya... minimal hanya untuk sekedar malam minggu." Ucap Juna, sembari menggenggam jemari tangan Gadis.
Gadis diam. Karena apa yang dikatakan Juna barusan memang benar adanya.
Selama mereka pacaran hampir lima bulan ini, tidak sekalipun Juna bisa leluasa mengajak gadisnya pergi saat malam hari hanya untuk sekedar jalan-jalan⸺menghabiskan waktu berdua.
Kalaupun bisa, itu juga dengan alasan kerja kelompok bersama. Tentu saja itu hanya sebuah alasan, karena memang Juna dan Gadis ini sama sekali tidak sekelas.
"Aku minta maaf, kalau aku sering banget ngecewain kamu. Tapi apa nggak cukup buat kamu, kita ketemu disekolah tiap hari?"
Juna menunduk sebentar. Mengangkat wajah lalu kemudian tersenyum tak ingin memperpanjang hal ini. "Ya, kamu bener-" satu tangannya yang lain tergerak menggenggam jemari tangan Gadis yang satunya. "Kita tiap hari selalu bertemu diskolah, dan aku masih menginginkan lebih?! Kayaknya aku bener-bener gak bisa jauh dari kamu, Dis."
"Kamu lagi gombalin aku?" tanya Gadis dengan kening mengernyit, yang kemudian mendapat gelengan dari Juna.
"Bukan gombal. Tapi aku sedang bicara yang sejujurnya."
Gadis tersenyum dengan rona di kedua pipinya. "Apa sih kamu. Pulang gih!"
"Ngusir, ceritanya?"
"Bukan ngusir. Tapi aku beneran harus balik ke rumah sekarang. Ayah kan lagi nungguin."
"Iya-iya. Ya udah kalau gitu, aku balik ya?"
Gadis mengangguk. Juna mulai memakai helm sebelum akhirnya motor sport itu berderum meninggalkannya sendiri disana.
Mengembalikannya pada realita kehidupan yang ada. Karena memang setiap dirinya tengah bersama Juna, rasanya beban hidupnya seakan terangkat dan ia seolah menjadi pribadi lain yang hidup tanpa masalah serta dapat melupakan sosok dirinya yang sebenarnya.
Sesampainya Gadis dirumah, bukannya sambutan hangat yang ia dapatkan dari sang ayah, melainkan sebuah bentakan. "Lo itu dari mana aja sih?! gue kan udah bilang, pulang sekolah langsung pulang! Bukannya malah main yang gak jelas!"
"Ini juga tadi langsung pulang yah." Lirih Gadis mengatakan yang sebenarnya. Sembari melepas tas dan berjalan masuk ke dalam kamar⸺menaruh tas itu didalam sana.
"Ngejawab aja lo, kalau dikasih tau orang tua! Tuh! urus emak lo yang gila itu. Teriak-teriak bikin telinga gue sakit dengernya."
Gadis tanpa bicara apa-apa lagi, segera memasuki ruangan yang digunakan untuk mengurung ibunya. Netranya melebar terkejut saat ia baru membuka pintu. Bagaimana tidak, ia melihat sendiri ibunya itu sudah seperti tawanan saja. Mulut di sumpal kain, lalu kedua tangannya diikat kebelakang.
Gadis bergegas masuk. Duduk dilantai mensejajarkan tubuh tepat didepan ibunya. Suara geraman bahkan masih jelas terdengar, lantaran teriakan ibunya tertahan oleh sumpalan kain yang sengaja dimasukkan sang ayah ke dalam mulutnya.
"Ya tuhan, bunda. Kenapa ayah bisa sekejam ini sama bunda." Ujarnya dengan berlinang air mata.
Tangannya tergerak hendak mengambil sumpalan kain dimulut ibunya. Namun sang ayah dengan cepat melarangnya. "Ngapain lo?"
Gadis tersentak mendengar suara itu. menoleh ke arah pintu. "Yah, kenapa ayah perlakuin bunda seperti ini??"
"Apa? lo masih nanya kenapa?? lo budek apa tuli sih?! gue kan tadi udah bilang, emak lo ngamuk. Teriak-teriak! Biar telinga gue nggak sakit, gue sumpel aja mulutnya pakai kain lap yang ada didapur. Lagian nungguin lo pulang juga kelamaan."
Gadis terperangah mendengarnya. "Ka-kain lap didapur?? Tapi itu kan kotor yah."
"Terus kenapa emangnya? Masih untung gak gue potong tuh lidahnya emak lo."
Untuk kali ini, Gadis hanya diam tak berani mengatakan sepatah kata dan hanya sanggup membatin pilu. Ya tuhan, kapan ayah bakalan berubah...
"Kenapa lo? mau nangis??" Sentak Arman, saat sejenak memperhatikan Gadis yang mendadak diam dengan kepala menunduk. Arman yang sedari tadi berdiri di ambang pintu⸺lantas menyuruh Gadis untuk segera membelikannya sebungkus rokok di warung tak jauh dari rumahnya.
Gadis yang tak merespon dan hanya diam di tempat itu, membuat Arman geram, sehingga mengharuskannya untuk mendekat dan menyeret paksa anaknya itu supaya berdiri.
"Aw! Yah, sakiitt.." ringis Gadis, merasakan nyeri dipergelangan tangan akibat tarikan sang ayah yang dirasa sangat kencang.
Arman melepas tarikan tangannya itu dengan cara menyentaknya kasar. "Mangkanya, kalau disuruh tuh Nyaut! Lo gak tuli kan?!" bentaknya. Dan gadis hanya diam menunduk⸺masih memegangi pergelangan tangannya yang nyeri. "Udah buruan, beliin gue rokok sana!"
"U-uangnya Yah?" Ujar Gadis, saat sudah mengangkat wajah.
"Uang?? Lo kan banyak duit. Tiap malam lo jual diri kan?! Pakai duit lo dulu!!"kata sang ayah, yang seketika membuat hati Gadis tersakiti dengan perkataannya barusan.
Kenyataan yang membuat Gadis bisa sampai seperti ini juga karena ulah sang ayah yang dulu memaksa menjual keperawanannya disaat ia baru menginjak bangku SMA. Dan itu berlanjut hingga kini. Bahkan janji ayahnya dulu terdengar begitu manis dengan alasan pengobatan kedua mata bundanya. Namun sampai sekarang hal itu tak pernah terealisasikan.
Dibohongi? Ya, katakanlah seperti itu.
Biarpun tau dirinya dibohongi? Namun ia bisa apa? semuanya sudah terlanjur terjadi seperti ini. Lagipula, untuk lepas dari profesinya yang sekarangpun susah. Apalagi dengan sikap dan watak ayahnya yang seperti itu. Belum lagi dengan Mami, sebutan untuk bos yang biasa menawarkan dirinya pada pria-p****************g diluar sana.
Gadis melangkah pergi, sebelum ia mendengar lebih banyak lagi perkataan pedas yang nantinya akan semakin membuat hatinya kian sakit.
"Tutup?" desahnya dengan raut wajah kecewa, saat sudah sampai di warung yang ternyata tengah tutup tersebut.
Gadis menghela napas berat. Mau tidak mau ia harus pergi ke toko yang berada di seberang jalan utama perkampungannya.
"Buk, rokoknya satu ya?" kata Gadis, pada ibu si pemilik toko, saat sudah sampai.
Si ibu lantas mengangguk dan mengambilkan merek rokok yang dimaksud Gadis. Memberikannya pada gadis dan dibayar olehnya⸺sebelum akhirnya pergi untuk kembali pulang.
Namun di tengah perjalanan pulangnya, langkah kakinya mendadak terhenti saat melintas didepan sebuah gang buntu. Lalu bergegas mundur untuk sembunyi, sebelum beberapa cowok disana melihat dan menyadari keberadaannya saat ini.
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara pukulan terdengar bertubi-tubi. Membuat Gadis mengintip dari balik tembok dengan rasa keingintahuan yang cukup tinggi. Mendapati sepuluh orang cowok pelajar SMA yang tengah memukuli satu orang cowok yang mengenakan seragam berbeda dari mereka.
Eh?!
Gadis melebarkan kedua bola mata, saat tau siapa cowok yang tengah dalam keadaan di keroyok itu.
I-itu Dewa kan?? Batin Gadis, dengan rasa keterkejutannya. Kenapa Dewa bisa ada disini? dan kenapa dia bisa dikeroyok sama anak-anak itu?
Gadis masih memperhatikan keadaan Dewa yang tengah dikeroyok tersebut dengan perasaan khawatir dan juga cemas. Apa lagi dengan keadaan Dewa yang menurutnya cukup memprihatinkan. Dan sepertinya saat ini, Dewa nampak terlihat tidak berdaya karena tidak bisa membalas pukulan mereka yang jumlahnya memang tak sebanding dengan dia yang hanya sendirian saat ini.
"Mampus lo! ini akibatnya kalau lo nyari gara-gara sama gue! Cuih!" cowok⸺yang diduga Gadis adalah pemimpin dari mereka semua, nampak tersenyum puas dan meludah setelah tadi ia menendang bagian perut Dewa yang tergeletak pasrah di tanah.
Gadis yakin jika Dewa pasti merasa kesakitan saat menerima tendangan itu. Terbukti dengan raut muka Dewa yang meringis menahan sakit. Bahkan Gadis sendiri yang hanya melihatnya saja Merasa ngilu. Apalagi Dewa yang merasakannya.
Dewa tersenyum sinis di tengah rasa sakit yang mendera. "Lo bangga, bisa ngalahin gue dengan cara keroyokan kayak gini?!" katanya, dengan nada ejekan. "Banci!"
Mendengar makian dari Dewa, membuat cowok yang masih berdiri itu meradang. Emosi yang tadinya sudah mulai turun, kini kembali naik dengan cepat. "b******k!!" kesalnya, dengan menarik kerah seragam Dewa⸺hingga kepalanya terangkat naik, lalu melayangkan pukulan telak di wajah memar Dewa sangat kencang, sampai membuatnya berpaling menyamping.
"Bacot lo bikin gue muak!" cowok itu lantas memanggil salah seorang temannya dengan suara lantang. Temannya yang mengerti segera mendekat dan memberikan pisau lipat kecil yang sedari tadi dipegangnya. "Gue akan kasih lo pelajaran, biar lo gak bisa ngebacot seenaknya lagi!"
"Lo bakal lakuin apa bro, sama dia?" ujar temannya yang lain mempertanyakan. Seolah penasaran dengan apa yang akan dilakukannya pada Dewa.
Cowok itu tersenyum penuh maksud. "Gimana kalau~ gue potong lidahnya dan kasih ke anjing gue buat camilan makan malam nanti." Ujarnya, dengan pisau lipat yang sudah berada di pipi kiri Dewa, seolah siap untuk merealisasikan apa yang dikatakannya barusan.
Melihat benda tajam ditangan cowok itu, membuat netra Gadis melebar kian panik.
Gadis melihat kesekeliling⸺mencari adanya orang sekitar yang mungkin saja bisa dimintainya bantuan. Namun keadaan sekitar yang terlampau sepi dari aktifitas warga, membuatnya membatin frustasi. Ini orang-orang pada ke mana sih?! ya tuhan... aku nggak bisa diam aja ngelihat Dewa seperti ini. Tapi, aku mesti lakuin apa?
Gadis berfikir keras mencari ide, lalu segera merogoh ponsel disaku bajunya. Sementara disana, cowok itu sudah mencengkram kuat kedua rahang Dewa⸺memaksanya menjulurkan lidah.
Dewa berusaha keras melawan dan juga bangkit, Namun sialnya, beberapa anak lain memegangi kaki dan juga tangannya agar tetap diam ditempat.
Sumpah serapah terlontar dari mulut Dewa. Berkata jika dia akan membalas semua perlakuan mereka saat ini, dengan nada terdengar sedikit tidak jelas⸺lantaran rahangnya yang masih dalam keadaan dicengkram kuat.
"Hahaha! Lo fikir ancaman lo itu bakalan bikin gue takut?! Gak usah mempersulit gue, keluarin lidah lo, biar gue bisa dengan mudah memotongnya."
Cengkraman cowok itu turun kebagian leher, mencekiknya kuat-kuat. Dewa mulai kesulitan bernapas. Sementara musuhnya itu sudah menyeringai, siap mengiris lidah Dewa dengan mulutnya yang kini terbuka akibat napasnya yang terasa sesak serta rasa sakit dilehernya.
Hanya tinggal sedikit lagi, sebelum pisau itu benar-benar masuk melewati bibir dan mengoyak lidahnya. Namun suara nyaring dari mobil polisi, membuat gerakan pisau itu terhenti.
"Polisi bro."
"Sial!" umpat cowok tadi, sembari menarik tangan. Memasukkan pisau kedalam saku celana. Tatapannya menajam penuh kebencian terhadap Dewa. "Kali ini lo selamat. Lain kali, gue akan tuntasin yang tadi." Berdiri dan berucap pada temannya untuk pergi. "Cabut!"
BRRMM..
Tak butuh waktu lama, hingga kesepuluh cowok itu benar-benar pergi meninggalkan Dewa sendiri disana dengan menaiki motor sport masing-masing.
Dewa meludahkan darah dibibir, kekehannya terdengar sinis dengan tatapan penuh dendam. "Lain kali? justru gue yang akan bikin lo cacat seumur hidup!" cetusnya, dengan aura iblis yang seolah menyelimuti.
"Dewa! Kamu nggak papa kan?" Gadis berlari menghampiri Dewa, setelah memastikan kesepuluh cowok tadi benar-benar pergi.
Melihat gadis tiba-tiba muncul didepannya, membuat Dewa membatin atas kepergian musuh-musuhnya tadi. Jadi dia, yang udah nolongin gue?!
"Emm... Bi-biar aku bantu kamu berdiri." Cetus Gadis dengan langsung berjongkok, saat Dewa hanya mendiamkannya.
"Nggak perlu!" Dewa menepis kasar tangan Gadis yang hendak menyentuh untuk membantunya berdiri. "Gue nggak butuh bantuan lo!" sentak Dewa. Berdiri sendiri dengan satu tangan memegangi perut.
"Tapi Dewa, kamu lagi terluka parah. Seenggaknya biarin aku bantu obatin luka kamu." ujar Gadis bersikeras saat sudah berdiri. Bahkan ia mendekat satu langkah, namun Dewa dengan kasar mendorongnya dengan bentakan dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"GUE BILANG NGGAK USAH! LO DENGER NGGAK!!"
tubuh Gadis terdorong dan mengakibatkan punggungnya membentur tembok dengan cukup kencang. Ia meringis, terkejut dengan sikap kasar Dewa padanya. Untuk beberapa detik tatapan Gadis saling beradu dengan tatapan tajam Dewa saat ini. Lalu tanpa sadar, air mata Gadis meluncur jatuh tanpa bisa ditahannya.
Kenapa Dewa sebenci ini padanya?
***
[BERSAMBUNG]