1

1483 Kata
1 PLAKK!! Ini masih pagi, namun paras ayunya sudah menjadi sasaran empuk dari tamparan ayahnya. Tubuhnya limbung terjatuh dengan kepala yang hampir saja menghantam tepian ranjang. Untungnya ia sempat menghindar, namun tetap saja ia bisa merasakan nyeri wajahnya yang menghantam kasur akibat kondisi kasur yang memang keras. "Anak setan!" maki sang ayah sembari menjambak rambut panjang anak perempuannya. Kepalanya mendongak dengan rasa nyeri dikulit kepala yang tertarik kuat. "Berani-bearaninya lo bohongin gue, ayah lo sendiri! Bukannya semalam gue udah bilang, keluarnya gak usah lama! lo sengaja ya, biar gue kena bogem sama anak buahnya si Rian? Hah?!" ucapnya, berbarengan dengan semakin menguatnya tarikan tangan pada rambut anak perempuannya. "Lo liat nih muka gue! liat! Muka gue jadi bonyok gini gara-gara lo semalam gak datang! Setan!" maki sang ayah lagi, sembari menyentak kasar tangannya yang tengah menjambak rambut gadis itu. Gadis Felicia Chesta, atau yang akrab disapa Gadis. Meringis menahan rasa nyeri dipipi dan juga kulit kepalanya. Terlihat beberapa helai rambutnya yang rontok berceceran dilantai, akibat dari jambakan sang ayah barusan. Air matanya jatuh membasahi pipi. Lagi-lagi ayahnya mengasarinya seperti ini. Biarpun perlakuan ayahnya yang seperti itu sering kali diterimanya, tetap saja Gadis hanya diam dan tak bisa membalas perbuatan ayahnya tersebut. "Ma-maaf yah, se-semalam aku gak tau kalau ngerjain tugasnya sampai selarut itu." jelas Gadis dengan nada sesenggukan akibat tangisnya. Semalam memang sebelum pergi mengerjakan tugas bersama beberapa temannya, ia sudah berjanji pada sang ayah untuk tidak pulang malam. Tapi kenyataannya Gadis tidak tau jika tugasnya akan sesulit itu untuk dikerjakan. Sehingga membuatnya ingkar dengan janji yang sudah terlanjur dibuat dengan ayahnya, yakni mendatangi sebuah hotel untuk menemui Rian⸺seorang om-om sekaligus bos besar dari salah satu perusahaan yang cukup terkenal. "Pinter banget ya lo ngelesnya." Arman menekan kuat pipi Gadis tanpa belas kasihan sedikitpun. "Lo pikir gue akan percaya, hah?! berengsek!" umpat Arman, sembari menyentak cengkraman tangannya dipipi Gadis, hingga membuat wajah Gadis berpaling menyamping. Rasa nyeri kian makin menjalar dikedua pipi dan kepalanya. Rambutnya sudah acak-acakan tidak jelas akibat ulah sang ayah yang menjambaknya tadi. "Pokoknya gue nggak mau tau. Entar malam lo harus datang ketempatnya Rian. Awas aja kalau sampai lo nyari alasan buat gak datang, gue bakalan kasih lo pelajaran! ngerti?!" "Tapi Yah, om Rian itu orangnya kasar pas lagi main. Aku takut." "Gue nggak perduli! Selama dia ngasih duit banyak ke gue. Seharusnya lo itu bersyukur si Rian mau makek lo lagi. itu tandanya, dias suka sama service yang lu kasih! Jadi gak usah kebanyakan ngeluh yang gak jelas! Faham??" Gadis hanya diam tak menjawab dengan tangan yang bahkan masih memegangi pipinya nyeri. Terkadang ia tidak mengerti, kenapa tuhan memberinya sosok ayah yang bahkan sedikitpun tak memiliki rasa belas kasihan terhadap putri kandungnya sendiri. Jika normalnya ayah pada umumnya akan menjaga dan melindungi anak gadisnya diluar sana. Berbanding terbalik dengan Ayahnya yang justru tega menjual keperawanan Gadis, saat dirinya baru menginjak awal SMA kala itu. "Heh! Lo denger gak gue ngomong?! Malah diem aja lo. Bisu?!" bentak sang ayah. Membuat gadis akhirnya menjawab dengan nada tergagap takut. "I-iya yah. Aku ngerti." Jawab Gadis, pasrah. "Nah, gitu dong. Jadi anak mestinya harus gini. Nurut sama apa kata orang tua." PRANG!! Suara gaduh itu berasal dari salah satu kamar yang ada dirumah sederhana itu. Arman menggeram kesal dengan suara gaduh yang selalu ditimbulkan istrinya didalam sana. "Ck! Itu lagi satu. Nggak bisa apa sehari aja gak bikin gue stres dirumah ini! dasar, bini gak guna!" Lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya⸺mencari sesuatu seperti tali tambang atau apapun itu yang bisa digunakan untuk mengikat. Saat sudah dapat, Arman segera mengambilnya dan beranjak masuk ke dalam kamar yang dimaksud, namun Gadis sudah dengan sigap ambil tindakan⸺menahan ayahnya pergi ke kemar yang dimaksud. "Yah, ayah mau ngapain sama tali itu?" tanya Gadis sembari menahan tangan ayahnya. "Bukan urusan lo! minggir!" bentaknya, berharap Gadis akan segera menyingkir. "Bukannya ayah waktu itu pernah janji gak akan berbuat kasar sama bunda, asal aku nurutin apa maunya ayah? Aku mohon yah, jangan sakitin bunda, biar aku yang urus bunda." Pinta Gadis dengan tangisnya. Terlalu takut dengan tindakan yang akan diambil sang ayah kali ini dalam menghadapi sikap ibunya yang memang sering mengamuk akibat kejiwaannya yang terganggu. Membuang tali tambang dengan kasar, Arman lantas berujar memberi peringatan pada anaknya itu. "Urus tuh orang gila satu! Gue gak mau liat ruangan itu berantakan! Ngerti?!" tangan Arman menunjuk ke arah ruangan yang dimaksud. Sementara ia berbicara dengan menoyor kepala Gadis menggunakan satu tangannya yang lain. Tak ada perlawanan yang berarti dari Gadis, karena memang perlakuan kasar ayahnya itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Asal ayahnya tidak main tangan lagi dengan bundanya, ia tidak masalah jika harus diperlakukan seperti ini. Gadis mengangguki ucapan ayahnya tadi. Lalu berjalan memasuki ruangan saat ayahnya sudah berlalu pergi keluar rumah. Pintu ruangan itu terbuka, saat Gadis sudah membuka slot kunci. Ia segera berjongkok, memunguti pecahan piring yang sudah berantakan dengan nasi dan lauk berceceran dimana-mana. Dengan sabar dan telaten, Gadis melakukan itu hingga ruangan itu kembali bersih. Lalu mendekati ibunya yang kini diam tenang dengan rambut acak-acakan, kaki terikat rantai, dan juga tatapan kosong nan gelap⸺karena memang kenyataannya, ibunya tidak bisa melihat akibat suatu penyakit yang dideritanya. "Bunda, kenapa bunda gak makan makanan yang udah aku buat?" ujar Gadis, dengan netra berlinang air mata. Tentu saja ibunya itu tidak menjawab dan hanya diam memeluk lutut. Sama sekali tidak ada ranjang empuk di ruangan itu. disana hanya ada tikar yang sudah butut termakan usia. Satu-satunya alas untuk ibunya tidur dari dinginnya lantai saat malam hari. Ruangan sempit itu bahkan berbau tidak sedap akibat ibunya yang memang selalu kencing dan membuang kotoran sembarangan. Biarpun Gadis sudah membersihkan tiap hari, entah kenapa bau tersebut masih saja dapat tercium olehnya. Gadis memutuskan mengambil sisir diruangan itu, lalu membantu menyisir rambut ibunya penuh perhatian. Seakan sudah menjadi rutinitas kesehariannya. Tiap pagi ia sudah harus bangun mengurusi ibunya dan memasak untuk sarapan. Rasa letih yang mendera, seringkali diabaikannya. Belum lagi ketika malam datang. **** Suara gedoran di pintu kamar terdengar memekakkan telinga. Dua orang pembantu dirumah besar itu lantas berbisik takut dengan sikap majikannya yang memang sering seperti ini jika salah seorang putranya berulah. Adhyastha Dewa, salah seorang putra kembarnya itu lagi-lagi pulang subuh. Entah semalaman anak itu pergi ke klub malam mana lagi, yang jelas dari rekaman CCTV yang dilihatnya pagi ini, ia bisa melihat putranya pulang dalam keadaan sedikit sempoyongan. "DEWA! PAPA BILANG BUKA PINTUNYA!" Untuk kesekian kali teriakan sang papa diabaikan oleh sang pemilik nama. Pintu kamar sebelah terbuka akibat cukup terganggu dengan teriakan keras dari sang ayah. Adhyastha Juna, kembaran Dewa menanyakan pada sang ayah, penyebab ayahnya berteriak seperti ini. "Ada apa pah? pagi-pagi udah marah-marah begitu?" "Ini, Si Dewa kakak kamu. semalam dia pulang subuh lagi. papa yakin banget kalau dia pasti masih tidur sekarang." "Papa yakin, Dewa masih tidur? mungkin aja kan dia udah bangun dan berangkat sekolah?" Juna mencoba menenangkan. Memang Juna dan Dewa adalah dua orang saudara kembar yang memiliki watak sangat berbeda. Jika Dewa terkenal selalu membuat ulah karena seringnya terlibat tawuran atau perkelahian, balap liar, bahkan sampai dengan mabuk-mabukan saat pergi ke klub malam. Berbeda dengan Juna yang selalu mendapat perhatian lebih karena seringnya membanggakan orang tua dengan prestasi nilai yang dimilikinya disekolah. "Mana mungkin. Liat saja kamarnya masih terkunci begini." "Tapi tadi Juna sempet denger suara motornya Dewa di luar pah." "Yang bener kamu?" ujar sang papa tak yakin. Takutnya Juna berbohong demi melindungi kembarannya. "Iya pah, beneran. Liat aja kalau gak percaya. Motornya Dewa diluar udah gak ada." Krisna akhirnya keluar untuk memastikannya sendiri. Dan benar saja, motor Dewa sudah tidak ada. Entah anak itu pergi untuk bersekolah atau tidak. Yang jelas, Krisna meminta Juna untuk memberitahunya jika sampai Dewa membolos lagi saat sekolah nanti. **** Gadis yang baru saja turun dari angkot itu, nampak sibuk menutupi memar di pipi kiri menggunakan rambut panjangnya. Bunyi klakson motor dari arah belakang, membuatnya menoleh untuk mencari tahu. Motor sport itu berhenti tepat didepannya. Sang pengendara motor membuka kaca helm. Dengan senyum mempesona, ia menyapa sang pujaan hati. "Pagi sayang, Naik gih! kita barengan masuknya." "E-enggak usah. Aku lebih suka jalan." Gadis lantas berjalan cepat meninggalkan Juna--sembari menunduk menyembunyikan memar di pipi kirinya. "Loh? Gadis kenapa sih, gak biasanya begitu." gumam Juna, keheranan atas sikap aneh pacarnya itu. Juna segera menjalankan motornya kembali--menyusul Gadis-nya dengan tergesa. Namun sayang, ia kesulitan mengejar, sementara dirinya harus menaruh motor tersebut terlebih dahulu di parkiran sebelum masuk kedalam. Gadis mempercepat langkahnya---terkadang sedikit berlari demi bisa menghindar dari Juna. Nyatanya Gadis masih belum memiliki alasan saat nanti Juna menanyakan mengenai kondisi memar dipipinya saat ini. Tepat saat Gadis baru saja memasuki koridor, langkahnya memelan berbarengan dengan pandangan yang menoleh kebelakang---mencari tahu apakah Juna mengikutinya atau tidak. Hingga tanpa sadar membuatnya menabrak seseorang didepannya. Untungnya Gadis tak sampai terjatuh, dan hanya mengaduh saat wajahnya membentur d**a bidang cowok itu. "Ma-maaf, aku nggak----" Ucapan Gadis terhenti, saat mengenali siapa sang pemilik tubuh yang ditabraknya barusan. Kakinya melangkah mundur sejengkal. Ekspresinya berubah takut dengan cepat. Napasnya tercekat dengan jantung yang dirasa terhenti untuk beberapa detik. Dewa. Tatapan cowok itu begitu tajam seakan ingin mengulitinya sekarang juga. "D-Dewa, aku nggak bermaksud buat---" Ucapan Gadis terhenti saat cowok didepannya itu tiba-tiba melangkah maju dengan tatapan menusuknya. "Lain kali, jalan pakai mata!" Sinisnya memperingati dengan nada penuh penekanan, lalu melangkah pergi melewati Gadis dengan sengaja menyenggol bahunya kencang. Sampai-sampai membuat gadis itu terdorong ke belakang. ***** BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN