Chapter 2 : Madinah

1987 Kata
Aira's POV Perjalanan ke Madinah memakan waktu sekitar empat setengah jam, lumayan pegal badanku duduk selama itu. Aisya tak banyak rewel, gadis kecil itu duduk menonton video di layar monitor yang ada di mobil itu, begitu juga dengan kakaknya Thariq. Di tangan mereka masing-masing ada camilan kesukaan mereka. Sesekali mereka berinteraksi, bercakap cakap dalam bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Arab. Melihat interaksi mereka berdua bercakap-cakap merupakan pemandangan yang luar biasa buatku, terutama karena mereka berbicara dalam dua bahasa. Terkadang Thariq berbicara dalam bahasa Arab, dan dijawab oleh adiknya dengan bahasa Indonesia, begitu juga sebaliknya. Mereka bertanya pada ayahnya dalam bahasa Arab, dan ketika bertanya pada mbak Astri mereka pakai bahasa Indonesia. Tapi mbak Astri terkadang menjawab pertanyaan mereka pakai bahasa Arab. Mungkin supaya ayah mereka juga paham. Karena kata mbak Astri, prince Zayn itu buta bahasa Indonesia, hanya sedikit kota kata yang dia mengerti. Aku bertanya, “Bagaimana mbak mereka bisa dua bahasa dengan lancar begitu?” “Mungkin faktor situasi juga dek. Mbak memang selalu berbahasa Indonesia dengan mereka, tapi Zayn selalu pakai bahasa Arab. Memang sudah kesepakatan kami seperti itu, agar mereka mengenal paling tidak 2 bahasa. Sebenarnya kami pingin mereka juga bisa bahasa Inggris, tapi karena bahasa Inggris bukan bahasa ibu kami, jadi pilihannya, kita semua berbahasa Inggris saja, atau kami pakai bahasa masing-masing sehingga mereka paham, dan mbak jika berbicara dengan Zayn, selalu pakai bahasa Arab, kecuali hal yang mereka tidak boleh tahu, kami pakai bahasa Inggris. Kami merelakan bahasa Inggris untuk dipelajari nanti saja ketika mereka sudah agak besar. Karena sebenarnya bahasa Inggris itu lebih mudah dipelajari daripada bahasa Arab.” Mbak Astri menjelaskan dengan panjang lebar. Aku kagum melihat mbakku ini. Dia bisa berpikiran begitu buat keluarganya. “Memang mbak, bahasa Arab tuh susah, aku aja pusing lihatnya, untung aja aku masih bisa baca Quran.” “Tapi kayaknya kamu juga harus belajar bahasa Arab dek.” “Lah kenapa.? Aku kan ga mau tinggal di Arab, aku juga tidak berniat menikahi pria Arab.” Tanyaku. Mbak Astri terlihat gelagapan. “Siapa juga yang mau nikah dengan pria Arab, kamu ngeledek aku” jawab mbak Astri ketus. “Hahaha… mbakku yang cantik ini, kenapa juga cari kerja ke Arab, kalau nggak ada niatan di hati mencari pria lokal disini.” Mbak Astri terlihat gondok sekali aku katain begitu, mungkin dalam hatinya dia memaki begini ‘jiancok nih adek aku’ “Udah udah mbak, ndak usah kesal, untung dapat Arab ganteng, pangeran lagi, sugih lagi. Wes, bersyukur toh mbak.” “iya iya aku bersyukur kok, meski awalnya aku ndak suka banget cara dia dapatin aku.” “Wehh, mestinya bahagia juga dong mbak, digilain oleh seorang pangeran., aku jadi teringat cerita Mehrunnisa, istri raja Moghul yang sudah ditaksir oleh si raja sejak Mehrunnisa remaja belia. Aku baca ceritanya tuh seru banget. Si raja itu melihat Mehrunnisa pertama kali saat Mehrunnisa menemani anak si raja itu main di taman. Di situlah sang raja yang ketika itu masih Pangeran jatuh cinta pada si gadis kecil pengasuh anaknya.”. “Ah kamu dek, ceritanya jadi ke mana-mana. Kamu baca tuh bukunya? Kamu suka baca juga?” “Suka dong mbak. Kalau mau pintar harus banyak baca, meskipun cuman novel, kan tetap menambah wawasan..eh,, tapi itu novel berdasarkan sejarah” jawabku. “ terus tadi mbak belum jawab, kenapa aku mesti belajar bahasa Arab ya.?” Mbakku itu terdiam sejenak, kemudian seperti baru menemukan jawabannya ia kemudian memutar bola matanya, “Ya ampuun dek, ya mesti dong, sebagai seorang Muslim belajar Bahasa Arab itu suatu keharusan, karena kitab pedoman hidup kita berbahasa Arab, jadi kamu belajar bahasa Arab supaya kamu bisa lebih memahami isinya.” “Iya deh mbakku, sekarang udah kayak bu ustadzah ya semenjak menikah dengan pria Arab.” “Jangan ngeledek dek, kusumpahin loh kepincut sama pria Arab.” “Ampun mbak, tolong jangan disumpahin lah, aku ndak suka sama mereka, pria pria Arab itu. wajahnya onta semua” “Eiittss, itu juga nggak boleh, istighfar lah nanti kamu beneran kesambit cinta seorang pria Arab baru nyahok. Juga jangan ngeledek terus tentang pernikahanku, nanti kalau Allah kasih kamu cobaan kayak mbak gini gimana? Pokoknya kamu tuh nggak boleh sombong gitu. ndak boleh juga ngata-ngatain orang.” “Iya ndok,”; ibuku menimpali, “Kamu ndak boleh sombong seolah olah kamu ndak bakal diberikan cobaan yang sama seperti mbakmu ini.” “Udah lah mbak, bu, ganti topik aja deh. Yang jelas sekarang ndak usah mikirin jodoh aku, aku mau sekolah kayak mbak Astri, setelah itu baru menikah, terserah lah mau kepincut sama siapa, tapi kalau pria Arab, ntar dulu lah, kayaknya ndak bakal ada chemistry nya sama aku.” “Ya wess…” kata ibu dan mbak Astri hampir serempak. Aku menghela napasku. Mobil Prince Zayn ini benar-benar bagus dan interior di dalamnya super mewah. mohil minivan mercedes ini di bagian dalamnya dilengkapi dengan kulkas dan televisi. Bahkan tempat duduknya juga dapat di putar sehingga penumpangnya bisa duduk saling berhadapan. Kami terdiam sejenak, kembali melihat kedua anak mbak Astri yang masih asyik menonton video dari layar monitor televisi di mobil itu. Dan aku mulai merasakan engap karena masih mengenakan cadar. Sejujurnya cadar ini sangat mengangguku. Kulihat mbak Astri biasa-biasa saja menggunakan cadar tersebut. “Mbak nggak engap apa pake cadar gitu? kenapa nggak dicopot aja ya, kan yang di mobil ini cuman kita-kita aja. Aku boleh ya buka cadar ini di mobil?” kataku memohon. “Ya terserah aja sih, tapi kalau supirnya melototin kamu, cadarnya dipakai lagi ya.” Astri berusaha memberi jawaban yang logis. “Tapi dia kan nyetir mbak, mestinya dia fokus dong sama kerjaannya.” “Nah itu dia dek, kalau gara-gara wajahmu dia jadi nggak fokus, kan berabe kita/” “Halaah.. mbak mbak, emang aku secantik apa ya? kayak ratu kecantikan aja.. nggak lah mbak, wajahku tu biasa-biasa aja kali..” aku berusaha menyanggah pendapat kakakku. “Ya terserah kamu ya dek, pengalaman aku, mbak selalu dilihati orang sini ketika masih kerja jadi baby sitter Amira, keponakannya Prince Zayn, pokoknya sebelum jadi istri Prince Zayn aku nggak pake cadar. itu dilihatin terus, nanti aku ceritain gimana aku pindah ke rumah prince Zayn ini dari rumah saudari perempuannya. itu ya dia nyulik aku gara-gara ngelihat aku di rumah adiknya itu.” “Oyaa mbak?” segitu parahnya dia naksir mbak.” “Nah, makanya kamu kalau nggak mau diculik, terus jadinya nggak bisa balik ke Indonesia, pake tuh cadar. Nanti kalau sudah boleh buka cadar, mbak kasih tau ya. jangan sekarang. Tapi kamu boleh sih ngetes itu supir, kalau dia ngelihat ke kaca spion melulu ngelihatin kami, ya kamu tutup lagi ya wajahmu itu.” Aku jadi melirik ke arah supir itu, dari arah samping belakang, pria itu terlihat ganteng. aku berusaha melihat wajahnya dari kaca spion. mata kami beradu pandang, aku langsung mengalihkan pandanganku, tak mau ketangkap basah memperhatikannya. “Siapa sih dia mbak, ganteng juga.” “Pengawalnya Zayn. baek baek ya, pengawalnya suamiku ganteng-ganteng. awas kamu naksir salah satu dari mereka, bisa bahaya.” Aku menganga mendengar penjelasan mbak Astri, “Apaa? naksir mereka? aduhhh.. jauh mbak.. udah ah mbak, aku mau coba buka cadarku, mau lihat reaksi si supir ganteng.” Aku melepas cadarku. “Awasnya, jangan sampai kamu dikira menggoda dia. terus buat kamu ketahui, pria disini menganggap, wanita yang tidak bercadar itu dipandang murahan.” “Ndak mbak, tenang aja.. udah jangan diperhatikan dia.” Sementara itu ibuku hanya mendengarkan percakapan kami berdua. Dan sekarang ibuku mulai dengan seksama memperhatikan kaca spion, seperti ingin mengikuti reaksi apa kira-kira yang akan timbul. “Bu.. jangan dilihat dianya, nanti dia merasa diperhatikan malah melihat kesini.” Eh,, benar aja, pria itu mulai ngelihat ke belakang melalui spionnya. Aku memalingkan mukaku. Kami bertiga terdiam sejenak. Dan aku berusaha menutupi bibirku dengan tangan, paling tidak sebagian mukaku masih tertutup tanganku.” Dan kemudian, supir ganteng itu memang jadi sering melihat ke spion. Tapi ndak tau juga, apa aku yang ge er ya? Tapi tak bertahan lama, karena kemudian prince Zayn melihat ke belakang dan bertanya, “What’s wrong?” Dan suami kakakku itu memandangiku, diam sejenak, ia kemudian kembali memandang ke depan tapi kemudian berkata, “Put your veil back”. “WHAT?” Aku menjerit tertahan. “Sssst… dah diturutin saja, kayaknya si supir ngadu. Atau suamiku memperhatikan kalau si supir ngelihat ke spion terus.” Dengan wajah cemberut aku kembali mengenakan cadarku itu. Akhirnya sampai juga kami di kota Madinah, kota yang bersih. Kota dimana Rasulullah SAW beristirahat terakhir kali. Kota ini memancarkan ketenangan dan kedamaian luar biasa meski tidak ada burung yang terdengar berkicau ataupun angin yang berhembus lembut. Aku berharap ketika turun dari mobil aku juga bertemu dengan masyarakat penuh keramahan dan kedamaian. Sebelum perjalanan ke Saudi, aku telah mengisi dulu otakku ini dengan sedikit pengetahuan dan sejarah tentang kota Madinah. Sehingga aku tahu bahwa kota ini dulunya bernama Yastrib. Kota ini berubah namanya menjadi Madinah setelah Rasulullah SAW pindah ke kota ini. Selain itu aku juga sudah mencari tahu tempat tempat ziarah yang wajib dikunjungi. masjid Quba, masjid Qiblatain, jabal Uhud, selain dari makam nabi dan taman Raudhah tentunya. Tempat tempat ini harus ku kunjungi sebelum kembali ke Indonesia. Hotel yang dipilih Prince Zayn memang luar biasa mewahnya, terletak di pinggir jalan tepat di seberang King Fahd Gate. Mobil kami berhenti tepat di depan hotel. Prince Zayn sudah turun terlebih dahulu, demikian juga supir ganteng , Dari dalam kaca, aku melihat Prince Zayn bercakap-cakap dengan seseorang yang tidak kalah ganteng dari Prince dan pengawalnya itu. Wajahnya dengan prince Zayn mirip. Kok seperti tidak asing ya wajahnya. “Mbak itu siapa? yang bicara dengan prince Zayn. kok nggak asing ya wajahnya?” tanyaku heran. Kulihat ibuku hanya diam saja. “itu Prince Ziyad, adik prince Zayn. kenapa ganteng ya, kamu suka juga? mending inilah, jangan supirnya Zayn yang kamu taksir de.” “Uweekk.. “ kataku bergaya seperti mual mendengar tutur mbakku itu. “Ngarep banget mbak aku bakal naksir pria sini.. ndak lah mbak, ndak ndak ndak..” “Jangan gitu, ini tanah suci, nanti kamu kualat.” “Ntar dulu mbak, aku kayaknya inget deh, siapa dia.” Kulihat wajah mbakku dan ibuku berubah air mukanya, ada sedikit kepanikan tergambar di wajah mereka. “Hmm.. bukannya dia yang datang ke rumah kita beberapa tahun yang lalu saat mbak nikah?” Mbak Astri dan ibu yang masih duduk, terdiam sejenak, tapi kemudian mbakku itu langsung berkata, “Aisya, Thariq, sudah nontonnya ayo kita turun., dan Aira nanti dibahasnya siapa pria itu,” mbakku memaksa untuk turun. Dengan cepat dia bergerak mendekati pintu, “Ayo Aisya, kita turun,” Gadis kecil itu dengan malas menghentikan nontonnya. Mbak Astri turun terlebih dahulu, kemudian dia menggendong Aisya. dan Thariq mengikutinya turun. Akupun turun diikuti oleh ibuku. Pria itu, adik Prince Zayn, memandangiku, tersenyum dan berkata, “Selamat Datang.” dalam bahasa Indonesia. “Terima kasih.” balasku. Dengan canggung aku tersenyum juga. Tentu saja ia tak bisa melihat bibirku tersenyum, karena aku mengenakan cadar, tapi aku tak peduli. Kami langsung menuju kamar. Aku dan ibu mendapat kamar yang mewah sekali, kamar itu terdiri dari dua tempat tidur, lantainya dilapisi karpet indah, dan terdapat satu sofa dan meja kecil, serta terdapat meja rias. Aku mengintip ke kamar mandiku, wow mewah, dengan lantai yang dilapisi batu marmer, begitu juga westafelnya, belum lagi dihiasi dengan aroma jeruk segar. Aku duduk ditempat tidur, menikmati kemewahan yang diberikan oleh mbak Astri dan suaminya. Sementara ibuku pun ikut berbaring di tempat tidur satu lagi. Tak lama setelah itu, pintu kamar kami diketuk. aku turun dari tempat tidur dengan perasaan enggan, kenyamanan yang baru kurasakan harus kuhentikan untuk membukakan pintu. Pintu terbuka, assalaamu alaikum nona, pria ganteng dengan hidung mancung, berkumis timis mengucapkan salam padaku. “Saya mau antar barang, nona.” Ampuun, dia bahasa Indonesia, dengan logat yang aneh. Hmm… wangi.. dan senyum itu.. benar-benar menawan. Wuss Aira jangan ngaco, nanti kamu terpikat. Hatiku bertengkar sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN