Aira menuangkan langsung bawang putih itu ke dalam pan. Bunyi mendecis terdengar tandanya minyak sudah panas.
Ziyad mengaduk aduk bawang putih yang sudah dituangkan ke dalam pan tadi. Menunggunya hingga agak kekuningan. Kemudian memasukkan potongan daging asap. Mengaduk adiknya sebentar agar tercampur rata dengan bawang putih.
Bau harum campuran bawang putih dan daging asal mulai memenuhi dapur rumah Astri.Tapi sementara itu, tidak ada tanda-tanda orang lain di rumah ini yang menyadari bahwa ada dua orang anak manusia sedang memasak di sana.
“Ya, sekarang masukkan spaghetti nya.” pinta Ziyad.
Aira memasukkan spaghetti yang tadi sudah ditiriskan.
Ziyad mengaduk aduk-aduk mie itu. “Kau suka pedas?”:tanya Ziyad tiba tiba tanpa menoleh dari apa yang sedang ia kerjakan.
Sementara Aira terpana melihat cara Ziyad masak. Aku tak menyangka pria Arab ini pintar memasak, dan sudi membuatkanku makanan.
“Hah..apa?” Aira baru tersadarkan.
“Pedas! Kau suka?”
“Ya.”
“Kalau gitu sebentar, kamu tolong aduk aduk ini. Aku ambil cabe bubuk dulu.”
Aira mengambil alih sutil pengaduk masakan itu dan mutilasi mengaduk adukkan agar bawang putih dan mie nya tercampur rata.
Ziyad kembali dengan satu botol kecil berisi cabai kering tumbuk dan langsung menuangkannya ke dalam pan berisi spaghetti itu.
“Aku tahu apa yang kamu bikin, ini Aglio lio kan?”
“Ya betul. Aku dulu sering membuatnya kalaku jadi mahasiswa di kota London.” terang Ziyad
Bau harum masakan itu benar benar membuat Aira tambah lapar.
“Oya aku lupa keju, sebentar aku ambilkan dulu.”
Sementara itu Aira masih mencampur mie, daging asap dan bubuk cabe.
Ziyad kembali membawa keju balok dan perautnya. Kemudian ia memarut keju itu langsung di atas wajan. Serpihan keju itu langsung masuk ke dalam pan masakan. Dan Aira mengaduk aduk ya jadi satu. Bau harum campuran bahan bahan masakan itu benar benar membuat siapa saja yang menciumnya menjadi lapar.
“Oya terakhir harus masukkan ini.. daun oregano.” Ziyad Menaburkan daun kering yang sudah ditumbuk kasar, daun dengan bau khas Italia.
“Cicip dulu, garamnya cukup atau tidak?”
Aira mencicipi masakan itu. Ia harus mengakui bahwa masakan itu memang enak. Garamnya terasa, dan campuran antara protein dan karbohidrat pilihan rakyat Italia itu memang enak.
“Hmm… enak!” Gumam Aira pelan.. sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
“Kau menyukainya?” Tanya Ziyad dalam bahasa Inggris.
Aira tersenyum, “Ya.. kamu pintar masak.”
“Tidak juga, itu karena aku sering membuatnya saat aku di Inggris dulu, temanku seorang Italia pernah mengajari beberapa masakan Itali, tidak banyak, hanya yang simpel simpel saja.” Jawab Ziyad pendek tak ingin menjelaskan lebih panjang tentang guru memasaknya dari Italia itu.
“Ooo.. girl friend?” Tanya Aira singkat.
“Yaa.. seperti itulah, aku munafik kalau aku tidak mengakuinya. Tapi kami tidak lama, ia kembali ke negaranya. Keluarganya menyuruhnya pulang untuk menikah, dan ia tak bisa menolaknya.”
“Oouuh.. patah hati dong.”
“Ya tidak juga, sejujurnya dia bukan tipeku.” Jawab Ziyad sambil menyodorkan piring ke Aira.
“Jadi seperti apa tipe mu?”
“Salin!” Perintahnya singkat agar Aira segera menyalin masakan yang tadi mereka masak.
“Sudah sekarang makan dulu yaa, kan tadi katanya lapar.” Pinta Ziyad.
Aira menyalin masakan itu ke atas piring yang diberikan oleh Ziyad. Dan Ziyad mengambil piring itu, dan membawanya ke meja makan yang berada di ruang makan, meletakkan piring itu di atas meja makan. Ia juga mengambilkan sendok dan garpu agar Aira bisa segera makan.
“Terima kasih ya, sudah membuatkanku makanan.”
“Your welcome.” Jawab Ziyad ringan sambil tersenyum manis.
“Apakah kamu selalu membuatkan makanan untuk tamu seperti ini?” Tanya Aira lugu.
“Tidak. Biasanya pelayan-pelayan kami yang akan membuatkannya.”
“Terus kenapa tadi kamu yang membuatkannya? Apakah tidak ada pelayan pelayan di rumah ini? Aku tidak yakin itu. Dimana mereka?” Tanya Aira dengan lugu nya.
“Mereka ada di rumah pelayan.”
“Terus kenapa mereka tidak keluar membantu?” Aira sudah di duduk kursi makan memegang sendok dan garpu, di hadapannya Oglio lio bikinan mereka berdua.
“Sudah.. makan dulu, katanya lapar.” Kata Ziyad.
Aira memakan spaghetti tersebut dengan rasa penasaran akan keanehan di rumah itu. Ia berpikir, tak mungkin rumah seperti istana ini, terawat baik tapi tak punya pelayan.
Aira mulai memakan spaghetti itu, setelah sendok kedua masuk ke dalam mulutnya ia kembali bertanya, jadi kenapa rumah ini sepi ya?
Ziyad mengangkat bahunya.
"Mana kutahu."
"Apa? Dari tadi aku menunggu penjelasanmu, dan jawabnya hanya mana kutahu??!"
"Iya… emang aku nggak tahu.” Jawab Ziyad lempeng.
Padahal aku sudah w******p Zayn agar memerintah semua pelayannya untuk tidak keluar, karena aku ingin berdua dengan Aira. Hehehe… Ziyad terkekeh dalam hatinya. Kena dia!
"Setelah pacar Italia-mu itu pacarmu siapa lagi?"
"Dia bukan pacarku!" Tegas Ziyad.
“Okay! Kamu nggak punya pacar setelah itu? Soalnya aku nggak percaya kamu nggak punya pacar. Sekolah di Inggris. Berapa tahun sekolah di sana?” Tanya Aira nyerocos.
“Satu-satu bertanyanya.”
“Okay, berapa lama kamu sekolah di Inggris?”
“Sekitar 6 tahun. Ayo sambil dimakan..” kata Ziyad lagi.
“Iya, ini aku makan.” Aira sambil memasukkan makanan itu ke mulutnya.
“Jurusan apa?” Tanya Aira dengan gencar.
“Komputer dan bisnis.”
“Wow, dua jurusan?”
“Ya, Komputer, terus S2 nya bisnis.”
“Wah hebat! Terus berapa tahun di sana?”
“Kira kira 6 tahun.”
Nggak mungkin selama itu nggak punya pacar, pikir Aira.
“Pacar?”
“Hmm….punya sih..” sambil mata Ziyad mendelik ke atas, dan bibirnya nyengir.”
“Berapa orang?” Tanya Aira sambil mengunyah makanannya. Sementara Ziyad memandangi gadis pujaannya ini yang duduk tepat di depannya.
“Jangan ngelihatku seperti itu dong.”
“Hmm.. kamu itu pemandangan yang indah.”
Aira jadi salah tingkah.
”Gombal kamu..,!” Aira memonyongkan mulutnya.”
Pasti pacarnya banyak nih.. ganteng, anak sultan.. berapa banyak nih ceweknya.. batin Aira.
“Jadi berapa?”
“Apa nya?” Tanya Ziyad lagi. Ia pura-pura bego, soalnya Ziyad tidak pingin Aira tahu tentang masa lalunya yang mempunyai banyak perempuan. Duh, bagaimana ngasih tau nya ya? Aku tak ingin ia berpikiran buruk tentangku. Tapi jika aku tidak jujur, dan suatu hari nanti dia tahu, mungkin dia akan marah besar. Ziyad menimbang nimbang untung rugi berkata jujur atau tidak.
“Satu.”
“Okay.. berarti satu ini yang paling berkesan dan paling dicintai.” Kata Aira lagi.
“Sok tahu kamu.” Balas Ziyad.
“Lah bener kan..”
“Kenapa sih pingin tahu banget? Naksir ya sama aku?” Tanya Ziyad sambil tersenyum.
“Uhuk..huk.. huk..” Aira terbatuk batuk mendengar penjelasan itu. Amit amit.. aku naksir dia.. jangan sampailah.. tapi Aira tak mau pria di depannya ini tersinggung.. “Nggak! Aku hanya ingin tahu kehidupan seorang pangeran Saudi di negeri orang.” Jawaban Aira.
Ziyad cemberut dan menundukkan kepalanya, seperti orang kecewa.
“Ha ha ha ….uppss sorry kamu kurang beruntung.” Aira tertawa geli.
Tapi ia memang tidak tertarik dengan Pria ini. Karena pria ini adalah pria Saudi, dan dia tidak pernah berpikir untuk tinggal di Saudi karena menikah dengan pria lokal sini. Aira punya cita cita sendiri. Menjadi seorang dokter, mengabdi pada masyarakatnya. Bukan di Saudi.
“Ya sudah, aku ndak akan tanya tanya.. nanti dikira naksir..nggak mau lah.. nanti cowo aku di Indonesia mau dikemanain?.. hahaha…”
“Apa..!? Kamu punya pacar?” Ziyad kaget setengah mati, mukanya pucat seketika.
"Memangnya kenapa? Nggak boleh?"
"Nggak boleh lah.. "
"Lah kenapa? Memangnya kamu siapa? Kok larang larang aku?"
"Nggeeehhhrrr.."kata Ziyad geram, ingin sekali ia mengatakan bahwa ia itu suaminya.
"Loh ko marah?..ibuku saja santui kok"
Ziyad berusaha menenangkan hatinya.. tapi di dalam hati dia kesal sekali, kok Tari mengizinkan putrinya pacaran, padahal kan ia berjanji akan menjaga agar Aira tidak punya teman laki laki.
Ia menarik napas panjang.
"Perempuan seperti kamu itu harus menjaga diri, hingga pernikahan nanti. Di negara ku perempuan tidak boleh pacaran tapi langsung menikah. Pacaran menjadikan mereka rendah dan murahan."
"Oooo.. seperti itu..?" Tanya Aira lugu.
"Tapi di negaraku bebas aja ko."
"Sudahlah kamu tidak usah pacaran dulu, kamu nggak mau sekolah lagi..? Kalau kamu nggak mau sekolah lagi.. biar aku yang lamar." Kata Ziyad tanpa basa basi.
"Apaa?!“ kali ini Aira yang menjerit kaget.
“Bulek Aira.. Uncle Ziyad, lagi napain beldua di dapul..?” Tiba-tiba Aisya datang dengan suara yang cadel memakai bahasa Indonesia.
“Kami lagi makan.” Jawab Aira
“Aicha lihat hanya tante yang makan, piring Uncle mana?” Tanya Aisya lagi dalam bahasa Indonesia.
“Apa katanya?” Tanya Ziyad pada Aira. Aira membantu mengartikannya ke dalam bahasa Inggris.
meskipun Ziyad sudah mempelajari bahasa Indonesia, tapi dialek anak kecil tetap susah dipahaminya.
“Aisya, pakai bahasa Arab, Uncle tidak mengerti.” Perintah Ziyad dalam bahasa Arab.
Tiba tiba Astri masuk ke ruang makan itu, "Aira.. kamu lapar?"
Dengan merengut Aira menganggukkan kepalanya."Iya mbak.. tadi di pesawat aku makannya ndak tuntas. Mbak nggak punya Indomie ya?” Tanya Aira lemas, menanyakan makanan kesukaannya.
“Lagi habis de, biasanya sih mbak nyetok. Disini ada toko bahan makanan Asia Tenggara gitu, lengkaplah bumbu dapur plus Indomie juga. Besok ya mbak beli. Tapi mumpung lagi disini, makan masakan Arab lah, nanti biar pembantu mbak yang bikinin.” Kata Astri sambil tersenyum. Ia senang, Aira sudah bisa ngobrol-ngobrol dengan Ziyad.
“Eh mbak ngomong ngomong tentang pembantu..kemana ya pembantu mbak, ko sepiii.. masa sampe Mas Arab ini yang bikinkan aku Aglio lio..!”!
Sementara Ziyad hanya menyimak saja, berusaha mengerti percakapan mereka, karena Astri dan Aira pakai bahasa Jawa.
“Bunda ngomong apa sih? Kok Aisya nggak ngelti? altinya apa?” Aisya protes karena ia tak mengerti bahasa Jawa. Ibunya tidak pernah berbahasa Jawa di rumah.
“Bulek Aira tanya, dimana pelayan pelayan kita?” Kali ini Astri menjelaskan dalam bahasa Arab.
“Ooo.. Ada ko, tadi ada di kamar aku, mbak Yuni ada di kamar aku , Bulek.. dia membereskan pakaian yang di koper, terus sekalian bersih bersih.”
“Iya Aira, mereka ada ko, tadi yang lain aku suruh istirahat. Hanya Yuni yang mbak suruh ke dalam, membereskan pakaian Aisya dan Thariq.”
“Oya Ziyad, aku dapat izin dari suamiku untuk ikut jalan jalan, dengan kalian.”
“Apa. Jalan jalan?” Teriak Aira.
“Iya.. Ziyad mau ngajak kita jalan jalan..”
“serius? Tanya Ziyad lagi. “Suamimu tidak cemburu?”
“Nggak tuh, katanya kan ada ibu yang ikut.”
“Uiihh.. cool…. Saya jalan jalan dengan dua perempuan cantik.”
“Ziyad… jangan senang dulu… aku ikut!” Kata Zayn yang tiba tiba muncul.