Chapter 6: “Apakah kau mencintainya?”

2152 Kata
Ziyad POV . Ketika aku keluar masjid Nabawi beserta kakakku Zayn, aku langsung mengarahkan mataku pada tempat kemarin dimana aku janjian ketemu dengan Aira. Aku melihat Aira sedang berbincang-bincang begitu akrabnya dengan seorang pria Indonesia. Ganteng lagi. Dan, kok sampai pelukan begitu? Apa dia kakaknya Aira? Seingatku Aira tidak punya saudara laki laki. Aira hanya dua bersaudara. Aku tidak suka pria itu begitu akrab dengan istriku. Aku kesal, geram! karena akupun tak bisa mengungkapkan keberatan ku. Dia pasti akan heran. Memangnya aku ini siapanya dia. Seberapapun dekatnya Aira dengan pria itu, tidak pantas pria itu memeluknya. Aku saja belum pernah menyentuh istriku itu, masa pria itu memeluknya, eehhh.. bahkan mengucek ucek kepala Aira, keterlaluan.! Itu menandakan hubungan mereka begitu dekat. Ini tidak boleh, ini bisa dikatakan sebagai pelanggaran. Tak lama kemudian, ibunya Aira dan Astri datang beserta Aisya. Dan Ibunya Astri pun terlihat sangat mengenali pria ini, begitu juga dengan Astri. Sepertinya mereka ini satu keluarga. Berikutnya datang lagi seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah. Dan, ibunya Astri menyalaminya dan bahkan mencium punggung tangan pria paruh baya itu. Kalau dilihat, profil pria paruh baya ini mirip dengan pria muda yang tadi memeluk Astri. Hmm.. mungkinkah mereka ayah dan anak? Dan aku menyaksikan Astri memperkenalkan pria itu pada Zayn dengan sebutan 'uncle', itu berarti kemungkinan besar mereka itu sepupuan. Ini sedikit melegakan, tapi tetap saja aku tak suka. Saudara sepupuan bukan larangan untuk menikah. Yang paling menyebalkan setelah itu, pria ini kemudian menarik Aira menjauh, dan ngobrol berdua dengan suara yang pelan. Dan Aira terlihat senang dan mengangguk anggukkan kepalanya. Sungguh, saat itu ingin sekali aku menarik kembali istriku dan menonjok pria itu. Aku kemudian berbisik pada Zayn, "siapa mereka?" "Mereka keluarga. Pria itu kakak ibunya Astri." Zayn memberi penjelasan. Benar ternyata dugaanku. Tapi seperti yang kukatakan tadi, mereka bukan muhrim, dan mereka tetap boleh menikah jika mau. Apalagi bin mereka berbeda. Mereka berbisik bisik hingga seorang perempuan muda lain mendatangi mereka. Perempuan ini juga cantik. Kecantikan khas perempuan Asia Tenggara. Kupikir keluarga mereka ini ditakdirkan dengan rupa yang menawan. Satu hal lagi, aku memang menyukai perempuan perempuan Asia tenggara. Di mataku mereka ini seksi dan sangat menggairahkan. Sejujurnya sejak aku bertemu lagi dengan Aira, agak sulit aku mengendalikan gairahku. Dia istriku, kami sah menikah, keluarganya sudah memberikannya padaku. Aku telah mengucapkan ijab kabul dengan pamannya, adik ayahnya Aira. Karena Aira memang sudah tidak punya ayah. Begitu yang diceritakan ibunya Aira pada ku ketika aku membawa Astri ke Indonesia untuk menikahinya. Saat itu aku benar benar tergila gila pada Astri. Akal sehatku membutakan semua. Membutakan bahwa Astri adalah simpanan kakakku. Gundik kakakku. Kalaulah tidak melihat Aira, aku belum tentu Sudi melepas Astri. Apalagi aku melihat Zayn tak sungguh sungguh ingin menikahi Astri. Astri hanya dijadikan tempat pelampiasan nafsunya. Padahal ia gadis baik baik, terhormat dan pintar. Aku menginginkan wanita seperti itu sebagai istriku. Kadang aku berpikir, kenapa aku tidak pernah bisa jatuh cinta dengan wanita Arab. Selalu saja ketertarikanku jatuh pada perempuan Asia tenggara atau Asia timur. Aku teringat pada Hiroko, gadis itu kekasihku ketika aku kuliah di Inggris. Gadis Jepang itu adalah hidupku saat itu, kami saling mencintai. Kami sempat tinggal bersama saat di London. Tapi pada akhirnya aku tidak memutuskan untuk menikahinya karena gadis itu tidak mau menjadi muslim dan dia tidak mau mengikutiku ke Saudi. Itu artinya ia tidak ikhlas menjadikan aku sebagai imamnya, sebagai pemimpinnya. Pokoknya kalau seorang perempuan tidak mau mengikuti suaminya, itu artinya ia tak mau menjadi makmum, atau dia tak mau menjadikan suaminya sebagai pemimpinnya. Lebih baik ditinggalkan, mungkin itu bagian dari egoku sebagai kaum laki laki, dimana perempuan harus patuh pada suaminya, pemimpinnya. Bertahun aku tak bisa melupakannya sampai akhirnya aku mengenal sosok Astri di rumah kakakku, Zayn. Perempuan itu begitu cantik dan bersahaja. Cantiknya aristokrat, berkelas, tapi ia begitu sederhana, satu lagi kredit point buat dia, Astri itu tulus dan keibuan. Ia mengurus dan merawat keponakanku dengan tulus seperti anaknya sendiri. Setelah melihat Aira, baru aku mau melepas Astri. Tapi, sebenarnya bukan itu saja, ketika Zayn datang dan berniat sungguh sungguh untuk menikahi Astri, baru aku mau melepas Astri. Dan aku gembira bahwa aku mendapatkan gantinya, Aira. Meskipun bukan jaminan bahwa sifatnya akan seperti kakaknya, tapi setidaknya ia mirip kakaknya. Dan biasanya jika dia saudara kandung, seibu dan seayah, mereka akan mempunyai beberapa kemiripan sifat. Yah, untung untungan sih. "Who?" Zayn bertanya pada Astri. "My uncle.". Setelah mendapatkan penjelasan yang detail tentang siapa mereka itu, Zayn malah mengajak mereka semua makan malam di sebuah restoran keluarga. Di restoran keluarga, pemerintah Saudi memperbolehkan laki laki dan perempuan bercampur. Tidak seperti di restoran jenis lain, dimana hanya kaum laki laki yang boleh memasukinya. Sedangkan kaum wanita hanya boleh masuk di restoran keluarga dan mereka pun harus datang bersama muhrimnya. Aira mengambil tempat duduk dekat pria yang katanya sepupunya itu. Siapa tadi namanya? Haryo? Ya Haryo namanya. Nama yang aneh, seperti layaknya nama Indonesia, terasa asing di telingaku. Sedangkan aku sendiri mengambil tempat di depan Aira. Begitu ia duduk, dengan santai ia melepas cadarnya. Seketika aku protes, "Mengapa di buka?" Tanyaku. "Bukankah kita semua keluarga?" Gadis itu balik bertanya. "Ye. ..ss" jawabku tergagap. "Tapi.. but, … aku.. kamu.." Aku tak bisa melanjutkan kata kataku.. hampir saja aku terpaksa mengungkapkannya sekarang. Aku ini Suaminya! Tapi dia tidak tahu, jadi bagaimana mungkin aku akan melarangnya. Uhh aku merasa seperti pria dayus. Pria yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap apapun perilaku istrinya bahkan ketika di hadapannya sekalipun. Sepanjang makan malam itu aku harus menyaksikan keakraban mereka, dan ini sungguh menyebalkan tanpa aku bisa melarangnya. Dan tambah membuatku kesal mereka lebih sering menggunakan bahasa aneh, mungkin bahasa daerahnya karena itu tidak terdengar seperti bahasa Indonesia. Aku sempat bertanya ada pakde Tino, ayahnya Haryo yang kebetulan duduk di sampingku. Ia menjawab ketika aku bertanya, "bahasa apa itu?" "Bahasa Jawa." Jawabnya. Shiiit.. jeritku dalam hati, tentu saja aku tak mengerti, aku belum mempelajari bahasa itu. Jadilah itu makan malam yang paling menyebalkan. Aku hanya bisa memperhatikan dan memperhatikan gerak gerik perilaku mereka. aku bertanya kepada pria di sebelahku ini, “Mereka membicarakan apa sih?” Tanyaku pada pamannya Astri dalam bahasa Inggris. “Oo, Airai dan Haryo sama-sama menyukai musik, mereka sering bermain musik bersama, Haryo bermain gitar dan Aira vokalnya. Sepertinya mereka merencanakan untuk kolaborasi bersama lagi sesampainya di tanah air, mungkin mau manggung bareng.” Jelas Pakde Tino. Mendengar itu hatiku panas. Apa? Aira bisa menyanyi?. “Memang suara Aira bagus?” Tanyaku lagi pada pakde Tino. “Hmm.. kamu harus mendengarkan bagaimana merdunya suara keponakanku itu. Dan di Jogjakarta banyak sekali kafe-kafe dengan konsep sambil mendengarkan biduan lokal bernyanyi.” Hatiku benar-benar panas dan tidak tenang mendengarkan hal ini. Bagaimana mungkin Aira memamerkan suaranya di depan umum, padahal suara itu kan aurat. Meskipun aku bukan orang yang fanatik banget, tapi aku tidak rela istriku memamerkan suaranya di depan umum, dan tentu saja juga menampakkan wajahnya yang eksotis itu di depan umum. Aku harus mencegahnya, tapi bagaimana mungkin, bagaimana aku bisa melarang, sedangkan ia pun tak tahu aku ini suaminya, sebagai apa akan bisa melarangnya, kecuali aku mengaku. Tapi jika aku mengaku sekarang, Aira kemungkinan besar tidak akan menerimaku. Sepertinya aku harus bersabar, tapi tidak. Aku tak akan tahan. Sejak itu, aku seperti tak ingin tersenyum lagi.. aku mau Aira hanya untukku. Sepanjang sisa makan malam itu aku hanya diam, dan menatap tajam pada kedua makhluk yang ada didepanku ini, mereka begitu asyik, bak sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Sesekali aku melihat Aira memandang ke arahku, tapi aku pura-pura tak peduli. Selesai makan malam yang tak menyenangkan ini, aku mengantarkan pakde Tino sekeluarga ke hotelnya, sementara Aira, ibunya, Astri dan anak-anaknya berada di mobil Zayn. Aku sengaja memintanya demikian ke kakakku Zayn. Pertama, aku tak ingin mereka berada di satu mobil, kedua aku ingin berbincang-bincang sedikit dengan Haryo, hotel mereka dengan hotel Aira memang berbeda dan lumayan berjauhan. Di dalam mobil aku berkata pada Haryo, tentunya dengan memakai bahasa Inggris. “Sepertinya kamu perhatian sekali pada Aira.” “Ya tentu.. walaupun kami hanya sepupu, tapi dia seperti adik kandungku sendiri. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi Indah. Aku mengenalnya sejak kecil, dan ia suka sekali menyanyi dan aku memainkan gitar mengiringinya menyanyi. Dan suaranya bagus sekali, kamu harus mendengarkannya.” “Tapi kalian kan bisa menikah. Kalian tadi seperti sepasang kekasih.” Kataku. “Apa…?! Aku tak mungkin melakukan itu, aku hanya mencintainya sebagai adik kandung, tidak bisa lebih, tak ada rasa untuk itu.” Aku menarik napas panjang… lega.. meskipun tetap tak menyukainya, karena Haryo hanyalah sepupu dengan “Bin” atau nama belakang ayah yang berbeda, karena ia sepupu dari pihak ibunya Aira, buka dari ayah, sehingga mereka tetap bisa menikah. “Apakah kamu menyukai adikku itu?” Tanya Haryo Pertanyaan itu bagaikan petir di siang bolong, aku benar terkejut. Aku terdiam sebentar, memandang lurus ke depan. Kemudian berkata, “Apakah itu terlihat jelas?” “Ya….. matamu tak berhenti menatap adikku itu. Dan aku bisa melihat dengan jelas api cemburu di matamu.” Aku terdiam sesaat. Setelah mengatur napas panjang, aku berkata, “We will talk about it, but not here.” Tak ada pembicaraan setelah itu hingga sampai di depan lobby hotel mereka. Ketika mereka turun, aku berkata pada Haryo, “Tunggu saya di lobby, we will talk about it.” Supirku kusuruh untuk parkir dulu, dan aku turun mengikuti Haryo dan keluarganya. Kulihat ayah dan ibu Haryo beserta saudari perempuannya meninggalkan Haryo, mereka menuju lift untuk naik menuju kamar mereka. Sementara Haryo sudah duduk di salah satu sofa di lobby hotel itu. Kondisi lobby hotel sudah lengang, tak banyak orang di sana, mungkin tamu-tamu hotel sudah asyik di tempat tidur mereka. Memang saat itu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Aku berjalan menghampiri Haryo dan duduk di bangku sofa di sebelahnya. Aku menarik napas panjang sebelum berkata apapun pada pria itu. Pria itu memandangku dengan raut muka penuh pertanyaan. “Tell me..” akhirnya perkataan itu keluar dari mulut Haryo. Aku mengeluarkan handphone -ku, aku mencari foto peristiwa itu, proses akad nikah kami. Saat aku berjabat tangan dengan Muchtar, paman Aira. Foto itu cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi, dalam foto itu ada aku yang sedang berjabatan tangan dengan paman Muchtar, dan disaksikan oleh Zayn, Astri, dan ibunya. Memang hanya mereka yang hadir. Kesaksian Astri dan ibunya dianggap sebagai kesaksian seorang laki-laki. Malam itu aku memang sudah gila. Pokoknya aku harus menikahi Aira, aku tak peduli di mata hukum seperti apa, tapi di mata Allah, aku sudah sah menjadi suaminya. “Berjanji padaku, akan merahasiakan semua ini dari siapapun? Ibumu, ayahmu, adikmu, dan terutama Aira.” Kataku. Wajah pria itu semakin penasaran. “Apa dulu pasalnya?” Tanya nya. Akhirnya aku memperlihatkan foto itu. “Lihat ini.” aku memberikan handphone ku itu padanya. “Apa ini? Foto apa ini? Sedang apa kalian? Ini ada Om Muchtar, Zayn, Bulek Tari, dan Astri. Dan mengapa Om Muchtar menjabat tangan mu?” “Sini, sebentar aku perlihatkan yang lain.” Aku mengambil handphone itu dan mencari rekaman video akad nikah ku. Dengan cepat aku menemukannya, karena memang video itu aku simpan di file khusus. Dan aku serahkan kembali handphone ku pada Haryo. Haryo mengamati sesaat, dan mendengar dengan seksama perkataan ijab kabul yang aku ucapkan dalam dua bahasa, pertama dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, kemudian diulang lagi dalam bahasa Arab. Dalam video itu : “Kuterima nikahnya Ariani Dewi binti Muhammad Said Akbar dengan mas kawin……..” Haryo memandangku tak percaya, “Jadi, jadi.. kau telah.. Aku menarik napas panjang, “Ya aku telah menikahinya. Dia istriku. Kejadian malam itu memang luar biasa, momen yang akan terus lekat dalam ingatanku.” “Tapi, tapi… dimana Aira?” “Di situlah pangkal masalahnya, Aira tidak ada, dan Aira tidak tahu peristiwa ini. Aku yang meminta untuk merahasiakan ini semua padanya.” “Apa sebenarnya yang terjadi?” Tanya Haryo. “Aku akan menceritakannya, tapi janji padaku untuk merahasiakannya, paling tidak sampai aku bisa memiliki hatinya.. aku tidak ingin ia merasa terpaksa menikahiku, biarkan aku mendapatkan cintanya dengan cara yang indah.” Haryo diam sebentar, meneliti wajahku.. “Baiklah, aku berjanji.” Kata Haryo akhirnya. Akupun menceritakan peristiwa hari itu, dan semua kegilaanku. (Pembaca yang ingin tahu detailnya, harap membaca “A Slave to an Arabian Prince.”) Setelah selesai semua ceritaku, Haryo berkata, “Aku paham mengapa kamu menceritakan semua ini padaku. Kamu cemburu padaku, dan tidak mempercayaiku.” Aku tersenyum getir…”Aku mencintainya dan aku ingin ia pun mencintaiku. Mungkin juga hasrat ku untuk memilikinya sedemikian besar, dan aku mencurigai semua laki-laki yang dekat dengannya, tapi aku sendiri belum bisa mendekatinya.” “Baiklah aku tegaskan, Aira itu adikku, aku akan terus menjaganya sebagaimana aku menjaga Indah, adikku. Aku tidak mungkin menikahinya, karena Aira juga adikku. Dan, beruntung sekali Aira, mendapatkan hatimu tanpa ia tahu. Mudah-mudahkan kalian bisa segera bersama. Dan kamu bisa pegang kata-kataku, bahwa aku akan merahasiakan akad nikah itu dari siapapun, sampai kalian berdua mengumumkan pernikahan kalian.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN