“Berikan aku waktu untuk memikirkannya.” Nia ragu untuk memberikan jawaban. Jika sudah pada tahap kencan, hatinya berdegup kencang, tak ada yang bisa menghentikannya kecuali waktu. “Ok.” Anjas mengangguk kepala dan kembali menyaksikan film Buya Hamka yang tinggal beberapa menit lagi. Sementara di sisi Anjas, Laras tak lagi fokus menonton karena asik memperhatikan Anjas dan Nia. “Kenapa?” tanya Anjas menoleh karena merasa diperhatikan. Laras tersenyum menggeleng kepala, lalu bangun hendak pergi tapi ditahan Anjas. “Mau ke mana?” “Ke toilet. Mau temani?” “Ogah, udah gede pun.” “Tangannya!” Anjas menyingkirkan tangan dan membiarkan Laras pergi meninggalkan gedung bioskop. Kini film yang mereka tonton sudah tamat, satu persatu orang meninggalkan gedung bioskop. Juanda berdiri di bela

