Langit semakin gelap, yang ditunggu tak kunjung datang. Dari dapur, Alma pindah ke ruang TV, pindah ke tepi kolam renang, pindah ke ruang tamu dan tak henti mengintip di balik gorden. Entah ke mana rimbanya? “Mas, kamu kapan pulangnya?” lirih Alma risau menanti. Alma masih sabar menunggu, mungkin Juanda sibuk. Tetap berprasangka baik, meskipun batinnya lelah. Karena bisikan demi bisikan membuatnya hampir drop untuk melawan prasangka buruk. Berjam-jam Alma menunggu, di kirim pesan hanya centang satu yang tak kunjung dua, apalagi membiru. Dihubungi pun malah di luar jangkauan. Rasa lega yang dialaminya tadi hilang sudah, berganti dengan kepiluan. Alma mulai menerka-nerka keadaan yang telah terjadi sampai-sampai pipi yang diberi pewarna itu basah oleh air mata. “Apa sebegitu marahnya kam

