Sirkuit Samudera sudah dipenuhi banyak penonton yang lebih di d******i oleh anak SMA Samudera. Airi, adik dari Alif sudah bergabung bersama teman-temannya, sedangkan Alif hanya diam di mobil menatap dari kejauhan.
Mobil Davi sudah terparkir di garis start, pemuda itu terlihat tengah berbincang bersama beberapa temannya. Hingga suara merdu knalpot mobil sport terdengar, semua orang terkagum-kagum menatap Ray yang turun dari mobil.
Dibelakangnya terdapat dua buah mobil, yakni mobil May dan juga Kay. Faris masih dalam perjalanan sebab menjemput beberapa temannya guna pergi bersama.
"Gila..." umpat Davi menciut mengetahui mobil yang akan digunakan Ray lebih unggul dari mobilnya, meskipun mobilnya sudah tergolong sangat menakjubkan.
"Itu Kak Ray!!!" teriak Airi heboh langsung memotret Ray sebanyak mungkin di ponselnya.
"Nih," salah satu teman Faris melempar minuman pada Ray dan juga Davi.
Lampu sirkuit berganti, Davi sudah masuk ke mobilnya dengan tekat akan mengalahkan Queen Samudera malam ini. Sedangkan Ray nampak mencari keberadaan seseorang yang sepertinya tak datang malam ini.
"Semangat!!" ucap Faris menatap dari kejauhan.
Ray masuk ke mobil lalu memasang sabuk pengaman, sedari tadi Davi memandangnya, nampak sangat kesal dirinya namun Ray tidak mempermasalahkan hal itu.
Yang menjadi wasit tiada lain adalah guru olahraga yang juga menjadi wasit di pertandingan basket sekolah.
"Sportif ya! Tiga putaran!" ucap lelaki tersebut memegang bendera.
Ray dan Davi mulai menyalakan mesin dengan tatapan serius menatap jalan. Bendera terjatuh, lampu menjadi hijau, mobil keduanya melesat begitu cepat menimbulkan teriakan heboh penonton.
"Jangan buat ini terlalu mudah buat gue!" ucap Ray mempercepat laju mobilnya, namun Davi merencanakan hal ini, pemuda itu membawa tabung berisi gas yang siap meluncurkan mobilnya.
Tentu saja Ray mengetahui hal itu saat ia memperhatikan mobil Davi, dan sepertinya Davi tidak menyadari itu.
Saat Davi tengah lengah, mungkin mengatur tabung gasnya. Ray menginjak pedal gas tanpa ragu membuat Davi terkejut tak sempat melancarkan rencananya.
Wushhhhh!!
Mereka saling salip-menyalip, dua putaran sudah berlalu dan kali ini adalah penentuan. Garis finish didepan mata, Ray masih memimpin namun Davi berhasil mengaktifkan tabung gasnya hingga Ray sempat tertinggal beberapa meter. Dengan segera, Ray kembali membalikkan keadaan hingga mobil mereka melewati garis finish.
Ray menarik napas panjang lalu melepas sabuk pengamannya, sedangkan Davi sudah turun dengan sorak-sorak bahwa ia memenangkan pertandingan tersebut.
Namum wasit berkata lain, ia mengambil gambar yang dipotret oleh seorang fhotografer saat mobil Ray dan Davi melewati garis finish.
"Pemenangnya adalah, Raysa Elyana Samudera!!!"
Teriakan gemuruh serta tepuk tangan sontak menghancurkan mental Davi yang menatap tak percaya pada wasit. Namun wasit punya bukti, Davi mengambil kertas gambar tersebut dan memang benar kalau mobil Ray lebih dulu menyentuh garis finish dari pada mobilnya.
"Sial!" umpat Davi kesal.
"Hahay!" ejek May mendekati Davi. "Ada yang bakal keluar nih dari sekolah, kasian!" cibir May membuat Davi hendak main tangan namun dicegah oleh Faris dan kawan-kawannya.
"Yeay!!! Selamat!" Kay memeluk Ray yang baru turun dari mobil. Semua penonton masih menyoraki namanya termasuk Airi yang senang bukan kepalang.
"Ica capek," ucap Ray menjatuhkan kepalanya di bahu Faris.
"Tepar nih anak!" kekeh Faris menuntun Ray memasuki mobilnya.
"Cuy! Lu bawain mobil adik gue ya, dia pulang sama gue!" titah Faris melempar kunci mobil pada salah satu temannya.
"Pertandingan berakhir!" ucap guru olahraga meninggikan suaranya. "Segera pulang kerumah masing-masing, jangan lupa besok harus kembali bersekolah!" teriaknya membuat beberapa muridnya tertawa dengan sikap guru olahraga sekolah yang sangat bersahabat dengan murid.
"Ca," panggil Faris saat dalam perjalanan pulang, tak ada respon sama sekali, rupanya gadis itu tertidur dengan tenang.
Faris tersenyum memilih menggendong adiknya itu menuju kamar saat mereka sudah tiba di rumah.
"Adik abang keren banget!" puji Faris merebahkan Ray perlahan lalu melepas sepatu gadis itu.
"Abang..." panggil Ray saat Faris hendak keluar dari kamarnya.
"Ayah sama bunda keluar kota nya lama ya?" tanya Ray membuat Faris kembali menghampiri adiknya.
"Mungkin satu minggu," jawab Faris lembut. "Ayah ngurus proyek baru," ucap Faris tersenyum.
Ray nampak sedih lalu memalingkan wajahnya.
"Jangan sedih dong, kan ada abang!" kekeh Faris mencubit gemas pipi adiknya.
"Abang disini aja, temenin Ica tidur," rengek Ray seperti anak kecil.
"Yaudah, abang ganti baju dulu." Faris pergi setelah mencium kening adiknya.
Hari kembali pagi, Faris lebih dulu bangun mendapati Ray yang tengah memeluknya.
"Ca, bangun, udah pagi..." pelan Faris menggoyangkan lengan gadis itu.
"Ica..." panggil Faris lagi.
Ray membuka matanya dengan wajah lelah. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi. Berarti ia hanya tidur sekitar tiga jam.
"Huaaa! Masih ngantuk!" teriak Ray membuat Faris terkekeh.
"Yaudah, jangan sampai telat ya! Abang duluan," ucap Faris mengusap pucuk kepala Ray.
"Nanti abang minta bibi antar sarapan kesini, oke!?" tanya Faris yang langsung diangguki adiknya yang sudah kembali merebahkan diri dikasur.
Beberapa saat kemudian, Ray kembali membuka mata menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan.
"Gue telat!" ucapnya bergegas menuju kamar mandi, tak butuh waktu lama, gadis itu keluar lalu memakai seragam dengan roti selai yang masih berada dimulutnya.
Ponselnya berdering, Ray mengambilnya dengan satu tangan mengancing baju, satu tangan memegang ponsel dan mulut yang penuh dengan roti.
"Apa!? Nggak masuk!?" gumam Ray mendapati May dan juga Kay tak masuk hari ini.
"Huh... iya deh!" ucap Gadis itu menutup panggilan.
"Bibi! Ica berangkat!!!" teriak Ray berlari menuruni tangga sambil membawa gelas berisi air s**u.
Sebelum masuk ke mobil, Ray menaruh gelas tersebut pada pos satpam rumahnya hingga membuat tukang kebun geleng-geleng kepala dengan tingkah anak majikannya.
"Duh! Gerbang udah ditutup!" gusar Ray menatap gerbang sekolah dari kejauhan. Gadis itu menepikan mobilnya didepan sebuah rumah yang memang sering ia singgahi sekedar memarkirkan mobil.
"Angkot!" panggil Ray membuat sebuah angkot berhenti.
"Gerbang sekolah depan, kang!" ucap Ray membuat supir angkot bingung saat menatap mobilnya yang terparkir.
"Ayo kang! Makin telat nanti," pinta Ray bersegera.
Ray turun dari angkot membuat satpam sekolah terkejut.
"Pagi, pak..." sapa Ray cengengesan.
"Ijinin saya masuk dong, pak. Mobil saya mogok, makanya naik angkot," alibi gadis itu membuat satpam berpikir dua kali.
"Mobil kamu 'kan banyak," teliti satpam tak kunjung membukakan gerbang.
"Kemogokan di jalan!" jawab Ray cepat sambil mengusap keringatnya.
"Ayo pak, masa bapak tega liat saya nggak ikut pelajaran hari ini, kalau penerus Samudera orangnya bodoh gimana!?" tanya Ray langsung membuat satpam membukakan gerbang untuk gadis itu.
"Makasih pak!" girang Ray mencium punggung tangan pak satpam hingga membuatnya terkejut.
"Saya permisi, pak. Mau menuntut ilmu," ucap Ray kemudian pergi dengan senyum lebar pada beberapa guru.
"Kak Ray!!!"
Ray menghentikan langkahnya lalu menoleh mendapati seorang gadis kelas sepuluh berlari menghampirinya.