07

1034 Kata
"Gue ketiduran," parau Ray setelah membuka mata, Alif masih setia memandanginya hingga lamunan mereka buyar saat bel istirahat berbunyi. Ray langsung bangkit dengan gelagap, ia menatap seragam sekolah yang berada dipangkuannya. "Tadi Bang Ayis kesini!?" tanya Ray menatap nama di seragam tersebut. Alif mengangguk. "Dia nyuruh kamu kekantin," ucap Alif sesuai perintah Faris beberapa saat lalu. "Yaudah, ayo!" ajak Ray menarik tangan Alif meninggalkan rooftop. Banyak orang memandangi mereka, ah tidak, lebih tepatnya pada Ray yang masih menggenggam tangan Alif. "Ray," ucap Alif menghentikan langkahnya, pemuda itu melepaskan genggaman Ray saat bisik-bisik makian untuknya kembali terdengar. "Okey..." kekeh Ray melanjutkan langkahnya diikuti Alif yang hanya bisa menundukkan wajah. Mereka tiba di kantin, Ray menghampiri meja Faris dan kawan-kawan. Alif masih berada didekatnya dengan ekspresi gugup. "Hai Ray cantik, duduk sini," titah Bagas, salah satu teman Faris. "Atau mau duduk dipangkuan gue?!" tawar Sean hingga membuat Faris langsung memukul lengan temannya itu. "Kalian kenapa sih?" kekeh Ray duduk disamping kakaknya. "Ayo, Al! Duduk disini!" pinta Ray menepuk kursi disebelahnya. Alif nampak ragu, apalagi tatapan teman-teman Faris menunjukkan kalau mereka tidak menyukai kehadirannya. "Saya, mau kekelas aja," ucap Alif hendak pergi namun ditahan oleh Faris. "Udah, disini aja. Adik gue lho yang minta," ucap Faris membuat Alif langsung duduk disamping Ray yang nampak senang. "Nih, baju abang!" Ray menyerahkan kembali seragam Faris dan langsung dikenakan oleh pemuda itu. "May sama Kay kemana?" tanya Bagas bingung. "Enggak masuk, katanya mager," jawab Ray jujur. "Ada-ada aja. Btw, tadi malam elo keren banget!" puji Sean bertepuk tangan. "Siapa dulu abangnya," bangga Faris membuat teman-temannya tertawa. Alif hanya diam mendengarkan obrolan Ray dan teman-temannya, sesekali ia juga mendengar u*****n yang tertuju pada dirinya karena sudah duduk bersama para siswa populer sekolah. "Al! Mau pesan apa?" tawar Ray membuat Alif menatapnya. "Saya, nggak lapar," ucap Alif jujur. "Enggak lapar, apa nggak punya uang?" cibir Sean diangguki Bagas yang tersenyum remeh. "Lu pada, bisa diem nggak?" tanya Faris mengetahui ekspresi Ray berubah seketika. "Ups, sorry..." kekeh Bagas dengan senyum manis lalu merapikan tatanan rambut Alif hingga membuat Alif menundukkan kepalanya karena merasa terganggu dengan perbuatan pemuda itu. "Ih!" kesal Ray menginjak kaki Bagas. "Awww! Ray! Ya ampun!!!" pekik Bagas kesakitan hingga seisi kantin menatapnya. Ray berdecak kemudian kembali bertanya pada Alif dan kali ini Alif menjawab segelas es jeruk. "Ok, yang bayar hari ini adalah Kak Bagas!" tunjuk Ray dengan senyum lebar. "Lah kok---" "Ray mau es jeruk, sama bakso. Bang Ayis nasi goreng, terus Alif es jeruk! Sip!! Sana pergi pesan!" titah Ray melipat tangannya dimeja. Sean tertawa begitu pun Faris. "Tambah gorengan deh lima," ucap Sean membuat Bagas langsung pergi memesan dengan wajah kumal. "Kalau udah Ray yang minta, pasti Bagas nggak bakal nolak!" tukas Sean dibenarkan oleh Faris. Sementara itu di ruang guru. Pak Dani tengah berhadapan dengan Bu Vina yang nampak gelagap saat beberapa guru menatapnya dengan kebingungan. "Bu Vina, apa anda tahu tentang pertandingan tadi malam?" tanya Pak Dani, Bu Vina mengangguk, ia tahu kalau tadi malam Ray melakukan balapan dengan Davi. "Ray memenangkan balapan tersebut dan Davi, si pembully yang sejak dulu sangat ingin kita keluarkan dari sekolah, hari ini mengundurkan diri sebagai siswa SMA Samudera!" tegas Pak Dani membuat beberapa guru terkejut. "Sejak dulu, Ray sangat benci dengan yang namanya penindasan. Saya dapat perintah dari Pak Jonathan, yakni pemilik sekolah. Beliau mengatakan, seberapa banyak pun orang tua murid membayar sekolah, kalau si anak adalah seorang penindas yang bisa menghancurkan anak lain, maka keluarkan!" tegas Pak Dani dengan mantap. "Ibu sudah tahu apa kesalahan ibu?" tanya Pak Dani, Bu Vina kembali mengangguk. "Saya, tidak mengontrol ucapan saya, maafkan saya pak!" ucap Bu Vina dengan penuh rasa bersalah. "Seharusnya ibu bisa lebih bijak memaklumi kesalahan Ray, jangan membanding-bandingannya dengan Faris, mereka memang berbeda, tetapi yang membuat saya lebih membanggakan Ray adalah, karena dia sudah dianggap malaikat bagi para murid yang kerap menjadi korban penindasan," tutur Pak Dani. "Baik, pak. Maafkan saya," ucap Bu Vina lagi. "Minta maaf dengan Ray, karena ibu berbuat salah dengan dia," titah Pak Dani kembali diangguki Bu Vina. Kembali lagi pada kantin sekolah, Bagas datang membawa pesanan teman-temannya dan dengan sengaja ia menaruh gelas es jeruk Alif ditepi meja hingga terjatuh kelantai. "Astaga! Gue nggak sengaja!" ucap Bagas mengetahui celana Alif sedikit basah akibat ulahnya. "Ya ampun! Kak Bagas gimana sih!?" tanya Ray mengambil tissue hendak mengelap basah tersebut namun langsung dicegah oleh Faris. "Engg... nggak papa!" ucap Alif cepat. Ray menatap sang kakak dengan wajah memerah karena malu. Hingga Faris terkekeh menyerahkan tissue pada Alif. "Sorry," dingin Bagas dengan senyum sinis. Alif hanya mengangguk meskipun ia tahu kalau perbuatan pemuda itu disengaja. "Nih, minum minuman gue!" unjuk Ray menyerahkan minumannya. "Saya---" "Lo aneh banget sih, bukannya senang Ray baik sama lo, malah nolak gitu," koreksi Sean saat Alif menggelengkan kepala menatap pemberian Ray. Rio datang menjawab kalimat Dika. "Namanya juga cupu, pasti ketar-ketir pas dideketin sama Ray," kekeh Rio mengusap kepala Alif. "Nafsu makan Ray beneran rusak!" ucap Ray bangkit dari duduknya. "Jaga mulut lo!" tunjuk Ray pada Rio. "Nih, si culun yang dijaga. Takutnya malah manfaatin kebaikan Ray," tuduh Rio membuat Alif menggeleng atas perkataan pemuda itu. Byursss!!! Rio memejamkan matanya saat Ray menyiram wajahnya dengan es jeruk. Tangan pemuda itu terkepal kuat, saat ia hendak menjawab, Ray memukul perutnya hingga Rio terjatuh. "Yuk! Pergi!" ajak Ray pada Alif setelah seisi kantin benar-benar menatapnya. "Ray, saya----" "Udah, ikut aja!" kesal Ray kembali menarik tangan Alif hingga mereka meninggalkan kantin. "Adik lo, belajar bela diri dimana?" tanya Bagas dengan tawa kecil menatap Rio yang masih berada di lantai. "Gue juga heran," kekeh Faris lalu memakan bakso yang dipesan oleh Ray. "Argh!" Rio berdecak kemudian pergi dengan memegang perutnya. "Ray... Ray..." panggil Alif meminta agar gadis itu menghentikan langkahnya. "Ica!" panggil Alif, seketika Ray menoleh dengan tatapan sulit diartikan. "Gue kesal banget sama orang-orang yang nindas orang lain! Makanya gue marah kalau ada orang yang ganggu elo!" ucap Ray mengusap wajahnya. "Temennya Bang Ayis juga! Gue sampai heran kenapa Bang Ayis mau temanan sama mereka! Padahal mereka----" Ray terdiam saat Alif menarik tubuhnya kedalam dekapan pemuda itu. "Makasih ya," ucap Alif lembut. "Sama-sama..." balas Ray pelan. "Biar, gini dulu." Alif kembali berucap dengan senyum kecil dengan satu tangan yang masih mendekap gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN