"Perasaan yang kena pintu bilik toilet cuma punggung lo deh, tapi kenapa malah banyak memar-memar gini di badan lo?!" tanya Oca dengan ekspresi shock yang belum hilang dari wajahnya. Rey menggeleng seraya dengan cepat kembali memakai seragamnya. "A-aku ngga papa. A-aku pergi dulu!" ujarnya dengan nada pura-pura gagap yang masih dapat dia pertahankan. "Ngga ada! Lo harus tetap di sini sampe gue kelarin tanggungjawab gue. Soal luka-luka lo yang lain, kalo emang ngerasa risih, yaudah. Gue ngga akan nanya-nanya lagi itu kenapa. Jadi sekarang gue mau lo buka lagi baju lo biar gue bisa obatin semuanya," tahan Oca. Rey lagi-lagi menggeleng, "N-ngga perlu, a-aku bisa obatin sendiri," tolaknya. "Jangan keras kepala, buruan buka! Lo ngga mau kan kita sampe malam di sini? Karna asal tau aja, gue

