31

1546 Kata

"Perasaan yang kena pintu bilik toilet cuma punggung lo deh, tapi kenapa malah banyak memar-memar gini di badan lo?!" tanya Oca dengan ekspresi shock yang belum hilang dari wajahnya. Rey menggeleng seraya dengan cepat kembali memakai seragamnya. "A-aku ngga papa. A-aku pergi dulu!" ujarnya dengan nada pura-pura gagap yang masih dapat dia pertahankan. "Ngga ada! Lo harus tetap di sini sampe gue kelarin tanggungjawab gue. Soal luka-luka lo yang lain, kalo emang ngerasa risih, yaudah. Gue ngga akan nanya-nanya lagi itu kenapa. Jadi sekarang gue mau lo buka lagi baju lo biar gue bisa obatin semuanya," tahan Oca. Rey lagi-lagi menggeleng, "N-ngga perlu, a-aku bisa obatin sendiri," tolaknya. "Jangan keras kepala, buruan buka! Lo ngga mau kan kita sampe malam di sini? Karna asal tau aja, gue

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN