Dion mulai melajukan motor sport-nya dengan kecepatan normal membelah jalanan di kota Denpasar yang tampak padat dilalui kendaraan beroda empat maupun dua. Kedua tangan Riana masih setia melingkar memeluk pinggangnya. Senyum kebahagiaan pun tak luput terukir di wajah laki-laki itu. Sekitar 20 menit kemudian, mereka sampai di kafe milik Bagas setelah terjebak kemacetan di beberapa lokasi. Apalagi, cuaca di kota Denpasar terbilang panas meski telah memasuki musim hujan. "Capek?" tanya Dion ketika Riana turun dari atas motornya. Mereka sedang berada di area parkir kafe. "Enggak. Hanya tanganku yang pegal." Dion mengeluarkan senyum nakalnya. "Makanya, kalau meluk itu jangan erat-erat. Tangan kamu pegal 'kan jadinya." Goda Dion lagi. Riana mendelik tak terima. Jelas-jelas yang memintanya

