19

773 Kata

"Kakimu tambah sakit?" Dion kembali bertanya ulang guna memastikan. "Tidak terlalu," jawab Riana bohong. Karena, malas harus membuat Dion khawatir. Riana tak nyaman dengan kecemasan yang diperlihatkan oleh Dion. "Wajahmu kentara saat berbohong Riana," Dion berkomentar sebentar lalu membantu istrinya untuk berdiri guna didudukkan di atas kursi. "Aku akan mengambil obat dulu di kamar. Tunggu di sini," beri tahu Dion sembari mengambil ancang-ancang untuk bergegas pergi ke kamar. "Aku tidak apa-apa. Lebih baik kamu obati dulu lukamu sendiri," suruh Riana. Ia tak habis pikir dengan kekhawatiran Dion yang berlebiham padahal luka di wajah laki-laki itulah yang harus diobati terlebih dahulu. "Lukaku bisa diobati nanti kok." Dion menolak. Yang terpenting untuknya saat ini adalah keadaan Riana.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN