8

1333 Kata
Potongan 8...... "Berani-beraninya mencemari nama baik keluarga! Dasar anak kurang ajar!" Seruan penuh marah dikeluarkan Pak Suarta. Pria paruh baya yang merupakan ayah Dion itu tampak terbawa emosi dan juga amarah. Beliau tidak bisa menerima begitu saja perbuatan kurang pantas yang telah dilakukan putra bungsunya. Membuat keluarga malu. Pak Suarta sangat benci akan hal tersebut. Sementara, Dion masih diam dan menundukkan kepala. Pemuda itu mengambil posisi berlutut di hadapan ayahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sebersit rasa takut pun menghampirinya melihat kemurkaan sang ayah. Tapi, Dion memilih untuk berpasrah diri. "Bapak tidak pernah memiliki tujuan membesarkanmu hanya untuk melakukan perbuatan memalukan seperti ini!!" seru Pak Suarta yang tak semakin bisa mengontrol kemarahan beliau. Plak! Satu tamparan keras untuk sekian kalinya berhasil mendarat di wajah Dion dengan mulus. Pemuda itu jatuh tersungkur ke lantai tanpa sedikit pun menunjukkan bentuk perlawanan. Namun, Dion segera bangkit dan kembali berlutut seperti tadi. Luka lebam yang diobati oleh Riana tampaknya belum sembuh total. Masih menyisakan warna kebiruan di sana. Dan sekarang luka-luka yang terkena tamparan tersebut semakin menimbulkan rasa sakit. "Ma..maafkan Dion, Pak. Karena Dion memang bersalah," ucap pemuda itu pelan dan penuh sesal. Kali ini Dion memberanikan diri untuk buka suara. "Kamu anak saya yang tidak berguna! Hanya selalu bisa membuat keluarga kecewa dengan segala tingkahmu di luar sana!" Pak Suarta mengumpat kasar. Wanita paruh baya yang duduk di samping kanan Riana pun menangis dan sesekali menjeritkan nama Dion, putra bungsu kesayangan beliau. Ibu Dewanti belum usai menunjukkan kesedihan dalam tetesan-tetesan air mata Ya Tuhan, kenapa bisa jadi seperti ini? Kasihan sekali, kamu Dion. Riana menggumam di dalam hati. Suasana di sekitarnya terasa benar-benar mencekam. "Maaf, Dion memang anak yang tidak tahu diri. Dion cuma menyusahkan kalian," kata laki-laki itu terdengar masiih sangat menyesal. Pelupuk mata pemuda itu sudah tergenang oleh cairan bening. "Gampang sekali berkata maaf setelah apa yang kamu lakukan, anak kurang ajar!" tanggap sang ayah sinis. Suara berat beliau menggema di dalam ruangan. "Apa pantas Bapak menganggapmu sebagai anak lagi hah? Kamu sama sekali tidak pernah bisa menghargai saya sebagai Bapakmu! Kamu selalu saja berbuat apa pun semaumu!" "Maafkan Dion, Pak." Dion masih menundukkan kepalanya. Rasa sakit di d**a karena ucapan sang ayah berhasil menjadi menu pelengkapnya hari ini. "Apa yang terbesit dipikiranmu ketika memaksa seorang perempuan untuk tidur denganmu, hah? Pakai otak! Jangan hawa nafsu saja yang kamu pentingkan!" umpat Pak Suarta kasar. Plak! Satu tamparan melayang dengan mulus di pipi Dion ketika pemuda itu hendak mendongakkan kepala guna menatap ayahnya. "Kamu harus bertanggung jawab! Jangan lari dari masalah seperti pengecut," pesan ayah Dion disela-sela kemarahannya. "Iya, Pak. Dion akan bertanggung jawab." Pak Suarta tidam menjawab. Kini pandangan beliau tertuju pada Riana. Dan ketika beradu pandang dengan calon menantunya, tatapan mata Ayah Dion itu tampak sedikit melembut. "Tolong maafkan perbuatan anak Bapak  Nak. Izinkan dia menembus kesalahannya, Jangan biarkan dia lari dari tanggung jawab," pinta Pak Suarta ketika sudah berada di hadapan Riana. Tentu, beliau akan menerima dengan terbuka kehadiran Riana untuk menjadi anggota keluarganya. Riana mengangguk sambil tersenyum sopan kepada sosok pria paruh baya di depannya itu. "Iy...iya, Paman." Sementara, senyuman tipis terukir di bibir Dion menyaksikan interaksi antara Riana dan ayahnya. Walau, sekujur wajah Dion penuh dengan luka memar. Pria paruh baya itu kembali menghampiri Dion. Plak! Tampaknya luka memar di wajah Dion akan bertambah dengan tamparan yang dilayangkan ayahnya sekali lagi. "Kita akan segera menemui orangtuanya. Siapkan dirimu!" kata ayah Dion tegas nan sinis. Beliau beranjak meninggalkan ruang keluarga. Menemui orangtuaku? Kenapa cepat sekali? Riana membatin tak percaya. ............. .................... Riana pun tak menyadari Dion kini telah mengambil tempat dan duduk di sampingnya. "Hei..." sapa pemuda itu manakala pandangan mereka bertemu. Dion tersenyum. Sedangkan, Riana malah memasang wajah datarnya. Kenapa rasa benciku terhadapnya tidak berkurang? "Biar aku obati lukamu," ucap wanita itu dengan nada dinginnya. Riana mengambil kapas dan obat merah dalam kotak P3K untuk mengobati sudut bibir Dion mengeluarkan sedikit darah. Ya Tuhan, kenapa ayahnya begitu tega. batin Riana menjerit. Menurutnya, perlakuan ayah Dion terlalu kasar. "Jangan heran, Riana. Watak bapak cukup keras. Beliau tidak akan segan-segan berbuat kasar jika anaknya bersalah. Aku wajar menerima semua ini," jelas Dion apa adanya. Seakan tahu apa yang dipikirkan wanita itu. "Tapi tindakan beliau terlalu kasar, Dion." Riana memberi penilaiannya. "Tidak. Aku memang anak yang tidak berguna. Aku selalu mengecewakan beliau, dari dulu sampai sekarang." "Apa maksudmu?" tanya Riana yamg tampak penasaran karena belum memperoleh poin utama dari pembicaraan mereka. "Dulu selepas SMA. Bapak mengarahkanku untuk masuk militer sama seperti Kak Adi. Beliau sudah mempersiapkan segalanya. Namun, aku menolak mentah-mentah," ucap Dion sambil menerawang mengingat masa lalunya. "Dunia militer bukan sesuatu yang aku sukai. Aku tak nyaman menjalani sesuatu karena paksaan. Bapak marah besar padaku. Bahkan, beliau tidak mau membiayai kuliahku saat itu." "Terpaksa aku harus bekerja untuk membayar biaya kuliah. Aku memilih untuk tidak tinggal di rumah ini lagi sejak tiga tahun lalu. Aku ingin belajar hidup mandiri." Sepengetahuan Riana, Dion menetap di sebuah rumah bersama dua sahabatnya. Hanya itu, tidak lebih. Sebab wanita itu tak terlalu suka ikut campur ataupun membicarakan kehidupan pribadi karyawan-karyawannya di kantor, termasuk Dion. "Setiap aku berkunjung, bapak selalu tidak peduli. Jika pun bicara, pasti menusuk hati," curhat Dion kembali dan ingin berbagi cerita dengan Riana. Sedangkan, wanita itu sibuk mencerna perkataan-perkataan Dion dalam pikirannya. Dan secara tiba-tiba Dion meringis kesakitan. Luka-luka yang diobati Riana bereaksi. "Apa kita perlu ke dokter? Lukamu cukup parah," usul Riana. Dia tak tega melihat wajah laki-laki itu yang penuh memar. Dion menggeleng menolak. "Riana...," Panggilnya. Ok, pandangan mereka beradu. Hingga membuat jantung Dion berdebar. "Maafkan aku." Riana mengembuskan napas perlahan. Kalimat yang diucapkan pemuda itu sedikit mengganggu dirinya. "Jujur, aku sampai sekarang belum bisa memaafkanmu." Riana tak mau berbohong. "Aku paham. Kamu pasti sangat membenciku," tanggap Dion menerima dengan lapang d**a. "Baguslah kalau begitu," balas Riana dingin. Ia juga tidak mengerti bagaimana kata-kata pedas tersebut bisa terlontar begitu saja secara spontan. Dion tersenyum kecut. "Mungkin bisa dikatakan aku tidak pantas untukmu, Riana. Aku bukan laki-laki mapan yang mempunyai harta berlimpah, rumah mewah atau mobil berkelas," ujar Dion merendah diri. Dia sadar bahwa dia bukanlah masuk ke dalam tipe sebagai pria idaman. Riana tipe wanita mandiri dan pekerja keras. Diusia wanita itu yang akan menginjak 25 tahun, ia telah memiliki usaha sendiri yang bergerak dibidang garmen. Sementara, Dion hanya berstatus sebagai pegawai biasa dengan usaha sampingan di bidang IT yang dia bangun bersama kedua sahabatnya. "Dulu, aku berharap akan bertemu seorang pria dewasa yang mapan. Tapi, itu tinggal mimpi. Aku mungkin harus melupakan dia." Riana berkata apa adanya. Dion merasa agak panas mendengar 'pria dewasa yang mapan' dalam konteks ucapan Riana. Dia tak rela saja jika Riana tengah 'mencintai seseorang' saat ini. Hatinya bagai terbakar. "Apa kamu sedang mencintai orang lain?" pertanyaan Dion menjurus pada hal privat. "Itu bukan urusanmu," jawab Riana ketus. Dia tak suka Dion mulai mencampuri urusan pribadinya. "Tadi Ayahmu mengatakan jika akan menemui orangtuaku. Bagaimana mungkin? Aku bahkan belum memberikan keputusanku," Riana bermaksud menolak pertemuan tersebut, sebab seakan-akan seperti tengah dipaksa untuk menikah dengan Dion. "Aku tidak bisa menolak perintah beliau. Maaf." Riana mendelik. "Kenapa tidak kamu katakan saja pada orangtuamu jika tidak akan ada pernikahan di antara kita," katanya kian sinis. "Jika aku mengatakan hal itu, percuma saja. Bapak akan tetap memaksaku menemui orang tuamu untuk meminta izin menikahimu. Beliau tidak ingin cucunya lahir di luar pernikahan." "Maaf jika ini terdengar tidak adil untukmu, Riana," ucap Dion menyesal. "Sebenarnya aku tak berniat menikah denganmu Dion. Tapi, anak ini tak berdosa. Aku juga harus memikirkan masa depannya. Baik itu secara agama, hukum maupun lingkungan sekitar." "Aku bersedia menikah denganmu demi anak ini," putus wanita itu akhirnya. "Kamu serius?" tanya Dion tak percaya. "Iya, demi anak ini. Tapi dengan satu syarat penting." Riana berupaya bernegoisasi. "Apa itu?" "Aku ingin kita bercerai paling lambat saat anak ini berusia dua tahun. Hak asuh jatuh ke tanganku. Bagaimana?" tanyanya meminta kesepakatan dari Dion. "Baiklah. Aku setuju," jawab laki-laki itu tanpa berpikir panjang. Saat ini yang terpenting adalah dapat melindungi Riana dan anak mereka. Urusan perceraian biarlah nanti dia pikirkan kembali. .................................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN